KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013


2 Comments

#566 Jangan Belajar Bahasa Belanda!

Oleh Inggrid Ernesia 

Loh, kenapa? Kenapa kita ngga boleh belajar Bahasa Belanda? Simak dulu yuk penjelasan ini.

Belanda dan Indonesia. Dua negara yang terpisah jarak lebih dari 20.000 kilometer namun terasa sangat dekat dihati.  Netherlands Taal atau bahasa Belanda sempat digunakan sebagai bahasa resmi di Nusantara sekitar abad ke 16 hingga adab ke. Namun tidak semua warga Indonesia pada masa itu bisa berbahasa Belanda. Hanya kaum elit yang diperbolehkan bersekolah dan mempelajari bahasa Belanda. Apabila seseorang bisa menuturkan bahasa Belanda dengan baik, maka ia dianggap memiliki pendidikan yang baik.

Penggunaan bahasa Belanda berangsur-angsur menghilang ketika Jepang menduduki Indonesia. Hal ini bukan berarti bahasa Belanda tidak digunakan lagi setelah kemerdekaan Indonesia. Bahasa Belanda masih melekat erat dalam bahasa sehari-hari yang kita gunakan hingga kini tanpa kita sadari. Bahasa Belanda merupakan sebuah bahasa sumber yang sangat penting di Indonesia terutama untuk mengkaji sejarah, hukum, dan agraria. Kebanyakan warga Indonesia yang mempelajari bahasa Belanda secara mendalam adalah para ahli hukum dan pemerintahan. Hal ini dikarenakan banyak sekali literatur ilmu hukum dan pemerintahan yang masih mengacu pada Belanda. Sebagai peserta kursus bahasa Belanda untuk tahap pemula, saya cukup kaget karena banyak sekali kosa kata bahasa Belanda yang kita gunakan. Beberapa kata pinjaman bahasa Belanda yang digunakan dalam bahasa Indonesia antara lain: Gratis, Netjes (Necis), Notulen, Trakteren (Traktir), Knalpot, Bezoek (Besuk), Achteruit (Atret) Parkeren (Parkirdan masih banyak lagi. Jadi, kenapa kita ngga boleh belajar bahasa Belanda? Karena sebenarnya kita sudah mempelajarinya tanpa kita sadari. Sekarang saatnya untuk memperdalam bahasa tersebut. Berikut beberapa kosakata bahasa Belanda yang sempat saya capturedari kamus besar bahasa Belanda-Indonesia.

 

Sumber: Kamus Besar Bahasa Belanda-Indonesia

Ketertarikan saya untuk belajar berbahasa Belanda cukup simple. Nenek saya sangat suka mendengarkan lagu-lagu dari negara kincir angin itu. Saya selalu penasaran pada makna di tiap bait lagu yang dinyanyikan beliau. Berasal dari kota kecil di Jawa Timur, saya belum menemukan tempat kursus bahasa Belanda dikampung halaman saya. Hingga saat kuliah tiba, saya harus melanjutkan kuliah dikota besar, karena dikota besar pasti memiliki lembaga bahasa asing. Kesempatan untuk memperdalam bahasa Belanda sempat tenggelam karena saya “salah ambil jurusan” kuliah. Sangat berminat untuk belajar sastra, namun berada dikampus eksakta membuat saya terlena dengan beberapa tugas dan laporan praktikum (maaf mengandung sedikit konten curhat, hehe). Karta Pustaka menjadi pilihan saya untuk memperdalam bahasa Belanda. Karta Pustaka merupakan salah satu lembaga bahasa dan budaya Belanda yang berada di Yogyakarta. Walaupun dewasa ini sebagian besar masyarakat Belanda sudah berbahasa Inggris, mereka sangat menghargai orang-orang yang mau belajar bahasa Belanda. Belajar bahasa baru itu selalu menyenangkan. Entah kapan kita bisa mengunjungi negara tersebut, ngga ada salahnya kan menyiapkan diri dari sekarang.

Advertisements


Leave a comment

#562 Zoetmulder dan Sastra Jawa

Oleh Yustina Niken Damayanti

Belanda dikenal sangatmengapresiasi bahasa Jawa. Bahkan, bisa dibilang Negeri Kincir Angin inimemiliki andil yang cukup besar terhadap kelestarian bahasa dan khazanah sastraJawa. Sebagai buktinya adalah di Universiteit Leiden tersimpan manuskrip-manuskripJawa kuno yang masih terawat rapi. Di samping itu, berbagai naskah sastra Jawakontemporer pun dapat ditemukan di sana. Tentunya tak sekadar disimpan, tapiberbagai naskah itu juga dipelajari, didiskusikan, dan diapresiasi oleh paramahasiswanya yang jumlahnya mencapai ribuan. Di universitas itu juga kemudianmuncul para ahli pada bidang bahasa dan sastra Jawa yang kepiawaiannya telahdiakui, bahkan oleh Indonesia sendiri, salah satunya adalah Prof. Dr. PetrusJosephus Zoetmulder.

Petrus Josephus Zoetmuldermungkin cocok menjadi “bapak baptis” Filsafat Jawa. Karena Zoetmulderyang telah menulis Kalangwan, kalangon, keindahan Jawa serta Pantheisme &Monisme Jawa, “Manunggaling Kawula-Gusti”, berhasil menggugah paracendekiawan untuk mengembangkan filsafat asli Jawa terutama dalam bagianbabagan kesusastraan Jawa, Raden Ngabehi Ranggawarsita sudah dinyatakan sebagai”pujangga pungkasan”. Di sini Zoetmulder sebenarnya ingin memberikan sumbangan kecil untuk memahami bangsa yang menghasilkan sastra ini.Menurutnya, lewat sastra religius inilah suatu bangsa membuka isi hatinya. Darisinilah Zoetmulder mulai memahami isi hati orang Jawa.Begitu monumentalnya karya beliau, maka seringkali karya beliauitu terus dikaji oleh para sastrawan Jawa di masa-masa selanjutnya. Oleh karenaitu, Zoetmuldertelah membukakan pintunyalebar-lebar, sekaligus menyediakan lentera dan tongkatpemandu pembelajaran atau studi mengenai Jawa kuno jelas-jelas bisa memberikaninspirasi dan kegunaan praktis untuk masa depan.

Setelah beliaumeninggal, didirikanlah Perpustakaan Zoetmulder yang berisi berbagai naskahJawa kuno maupun kontemporer. Perpustakaan tersebut tepatnya berada di dalamUniversitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan sampai saat ini, para ahli sastraJawa kuno ini akan selalu mempelajari dan mendalami perkembangan bahasa dansastra Jawa. Hal ini tak lain bertujuan untuk melestarikan salah satu bahasadaerah yang notabene mulai dipandang sebelah mata oleh para pemakai aslinya.

 


Leave a comment

#538 Naskah Melayu yang Terpampang Ayu

Oleh Fitria Sis Nariswari

Berbicara tentang Negeri Kincir Angin, yang terlintas dalam benak saya adalah naskah-naskah kuno Melayu yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Naskah ini serupa buku harian yang tersimpan di dalam lemari milik orang lain. Ironis. Sebab, yang memiliki tak bisa leluasa jika ingin membacanya. Begitulah kondisinya. Setiap yang ingin mempelajari naskah Melayu Kuno, orang tersebut harus pergi ke Belanda jika ingin versi lengkap atau aslinya. Lantas, apa yang masih tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia? Mungkin, hanya tentang kenangan.
Di dalam katalog naskah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, terdapat sejumlah naskah yang sudah rusak dan tidak terdapat mikrofilmnya. Satu naskah hilang, mungkin seribu kearifan lokal yang terkandung di dalamnya juga turut lenyap. Namun, naskah-naskah yang tersimpan di Belanda, khususnya di Perpustakaan Universitas Leiden, berada dalam kondisi baik. Semua naskah yang tersimpan di Belanda telah terdapat mikrofilmnya. Hal ini dapat dilihat dalam tulisan Liaw Yock Fang (1991:23) yang menyatakan bahwa perpustakaan Universitas Leiden telah membuat teknologi untuk menyelamatkan naskah-naskah yang tersimpan di Belanda. Ada lebih dari seribu naskah Melayu yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.
Naskah-naskah ini dapat tersimpan di Belanda karena beberapa faktor, semisal harta rampasan perang, persembahan raja-raja Nusantara untuk pemerintahan Belanda, upeti, atau memang dibeli oleh pihak Belanda. Sebagaimana karya sastra kuno, naskah-naskah tersebut tidak ada kepemilikannya. Setiap orang berhak memilikinya, termasuk pemerintahan Belanda. Hanya saja, naskah-naskah tersebut beraksara Jawi (aksara Arab, bahasa Melayu). Jika boleh berpendapat, pada dasarnya, naskah-naskah yang berumur ratusan tahun ini lebih aman disimpan di Belanda.
Belanda memiliki teknologi yang cukup canggih untuk membuat naskah tetap bertahan dan bisa dibaca. Tidak dapat dimungkiri bahwa Belanda merupakan negara maju yang memiliki anggaran dana yang besar, bahkan untuk pemeliharaan naskah. Dengan demikian, pembuatan mikrofilm dari setiap naskah tidak memiliki rintangan yang cukup berarti. Selain itu, minat masyarakat—baik lokal maupun global—terhadap naskah-naskah yang berada di Universitas Leiden cenderung lebih baik daripada minat masyarakat terhadap naskah-naskah yang ada di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Begitulah. Entah mengapa, Belanda masih memesona. Bagi saya, Belanda merupakan negara yang menarik sebab Belanda adalah negara maju yang masih peduli dengan hal-hal budaya, contohnya kepeduliannya terhadap naskah. Itu mengagumkan. Meskipun ketika harus membaca naskah Melayu di Belanda, saya merasa sedang membaca buku harian saya di rumah orang. Rasanya ganjil dan aneh.


Leave a comment

#470 Eduard Douwes Dekker Si Pelopor Hak Asasi Manusia Dari Belanda

Oleh Dolok Yosuadi

image

Standbeeld Multatuli in Amsterdam. Foto:http://entoen.nu

Eduard Douwes Dekker (2 Maret 1820 – 19 Februari 1887) atau yang lebih dikenal dengan nama alias Multatuli adalah seorang ambtenaar (pegawai negeri), yang mendapatkan tugas  di Lebak, Jawa Barat. Pada saat itu di tempat ia bekerja, Eduard menghadapi situasi yang justru sangat berlawanan dengan nuraninya, yaitu kesewenang-wenangan pihak koloni Belanda terhadap kaum pribumi. Upaya untuk memperbaiki situasi tidak mendapatkan respon baik dari atasannya maupun dari pemerintah Belanda saat itu.

Dengan nama samaran Multatuli, (Multatuli berasal dari bahasa latin yang berarti aku sudah cukup menderita) ia membuat karya buku-buku roman humanisme hingga belasan jumlahnya. Ia menyusun buku roman itu bukan karena iseng belaka atau hanya untuk menghibur pembacanya saja. Tujuan utamanya adalah untuk mengetuk hati pembaca dan menyerang pemerintah Belanda yang saat itu  tidak mau memperdulikan usulannya agar pemerintah turut serta untuk memperbaiki nasib bangsa pribumi yang sangat jauh dari kelayakan apabila dilihat dari sudut pandang humanisme.

Kini buku-buku yang sudah berusia lebih dari 100 tahun itu menjadi salah satu buku karya literatur sastra yang mengandung nilai-nilai humanisme yang menggebrak dunia. Di Belanda sendiri Multatuli bisa dikategorikan sebagai  best-known writer, yang sangat mempengaruhi perkembangan pemahaman nilai-nilai kemanusiaan di Belanda, selain itu  Multatuli pun dianggap sebagai salah satu pahlawan kemanusiaan yang telah merubah cara pandang manusia di bumi ini agar memerangi ketiranian dan kesewenang-wenangan dengan mengutamakan nilai kemanusiaan. Di Indonesia, ia juga dianggap pahlawan kemanusiaan, terutama atas jasanya untuk mempelopori pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Referensi

http://www.indisch3.nl/indos-in-nederlands-indie/


Leave a comment

#422 From Frikkadel to Prekedel: Dutch’s contribution towards Bahasa Indonesia vocabularies

By Lina Noviandari

It happened on an evening when I was reading an article about Indonesian cuisine. When it finally came to one of my favorite food ‘prekedel’ (a fried dumpling of mashed potato mixed with eggs and minced meat or tofu or corn), I was shocked. It was said in the article that ‘prekedel’ is actually come from Dutch word frikkadel. Before reading that article, I thought that ‘prekedel’ is an original Javanese cuisine because it sounds like Javanese word and because in my area, which is East Java, ‘prekedel’ is a common food to be served. Later, I found that my hypothesis was wrong.

http://www.crossed-flag-pins.com/Friendship-Pins/Indonesia/Flag-Pins-Indonesia-Netherlands.jpgSince Dutch came to Indonesia in early 17’s century, Dutch gave influences to Indonesia in many sectors of life such as governance, architecture, culinary, language and so forth. In the case of ‘prekedel’, it is classified as the Dutch’s influences in language. In linguistics, it is common for speakers in a country or community to ‘borrow’ other countries’ words. It happens because language is something dynamic, it changes, develops and adapts with society in where the particular language grows. It follows where the speakers go. When Dutch people stood their feet in Indonesia, therefore their language began to be heard in this country.

The interaction that was made between Dutch and Indonesian people led them to transfer each other’s knowledge of things. In this condition, they began to acquire each other’s language. Indonesian people began to acquire Dutch language and vice versa. Somehow, in the process of acquiring the language or new vocabularies, there a term so-called language shifting. For example, in the case of ‘prekedel’, at that time Indonesian people have difficulties to spell ‘f’ and changed it with ‘p’. Therefore, the word frikkadel which later became prikkadelshifted into ‘prekedel’. This word shifting can also happen because of the ‘comfort’ and ‘deal’ factor. As an example, it might be because Indonesian people feel more comfortable to say ‘prekedel’ instead of frikkadel.

word shifting

word shifting

Beside ‘prekedel’, there are numerous words of Bahasa Indonesia which are borrowed from Dutch. To mention few, the borrowed words such as ‘permak’ from vermaak, ‘puisi’ frompoezie, ‘semur’ from smoor, ‘potlot’ from potlood and ‘telat’ from te laat. This fact shows that Dutch gave a notable influence towards the development of Bahasa Indonesia vocabularies.

Even though Dutch-era was over years ago, its contribution towards Bahasa Indonesia vocabularies remains in everyday life of Indonesian people. Maybe we don’t realize that some foods we eat, some activities we do and some things we use or see are actually there because of the contributions of Dutch.

References

http://my.opera.com/threemc/blog/show.dml/2737154
http://id.wiktionary.org/wiki/Wiktionary:ProyekWiki_bahasa_Indonesia/Daftar_kata/Serapan
http://www.crossed-flag-pins.com/Friendship-Pins/Indonesia/Flag-Pins-Indonesia-Netherlands.jpg


Leave a comment

#391 Buku = Jendela Belanda

Oleh Amalia Astari

Buku adalah jendela dunia.

Jaa! Peribahasa itu nggak cuma berlaku di Indonesia aja, tapi juga di seluruuuh dunia. Termasuk negeri kincir angin, Belanda! Nggak percaya? Nih buktinya!

boekenweek2013

Boekenweek (minggu buku) adalah acara tahunan yang diselenggarakan untuk melestarikan sastra Belanda. Acara yang sudah ada sejak tahun 1932 ini diadakan rutin tiap bulan Maret dengan tema yang berbeda  tiap tahunnya.

Tujuan dari diadakannya acara ini adalah untuk mempertegas posisi buku di masyarakat Belanda. Selain itu acara ini bertujuan untuk ‘menyadarkan’ masyarakat Belanda kalau di toko buku mereka ada banyak karya sastra menarik yang bisa dibeli.

Uniknya, acara ini punya banyak cara agar orang-orang mau ikut berpartisipasi. Salah satunya adalah dengan memberikan tiket kereta gratis bagi siapa saja yang membeli buku berbahasa Belanda.

1gam

Tidak hanya meningktakan kegemaran membaca, salah satu rangkaian acara boekenweek yaitu boekenweekgeschenk, menjadi salah satu batu loncatan bagi penulis buku berbahasa Belanda untuk mempublikasikan karyanya.

Dalam acara boekenweek  diadakan juga  perlombaan menulis buku. Buku yang menang kemudian akan dipublikasikan. Tidak hanya itu, karya penulis itu akan dibagikan secara gratis kepada pembeli yang membeli minimal satu buku berbahasa Belanda. Dengan begitu karya mereka akan memiliki banyak sekali pembaca.

Nah salah satu pemenang dari perlombaan menulis ini adalah Hella S. Haasse. Dengan bukunya yang berjudul Oeroeg, Hella mampu mengangkat namanya menjadi penulis terkenal sampai saat ini.

hella-haasse-1984

Oeroeg

Sekarang timbul pertanyaan, apa karena boekenweek semua orang Belanda jadi suka membaca? Apalagi semakin majunya globalisasi, kebiasaan membaca buku via internet juga semakin berkembang kan?

Isu tentang keberadaan buku yang bisa digantikan oleh buku elektronik sebenarnya juga mencuat di Belanda. Ada sebagian orang di Belanda yang menganggap bahwa keberadaan buku bisa menganggu lingkungan karena penggunaan kertas yang berlebih. Selain itu harga buku, terutama textbooksemakin melonjak dari hari ke hari.

Karena isu inilah pasangan suami istri asal Belanda, Raimo van der Klein, Claire Boonstra dan Maarten Lens-FitzGerald membuat aplikasi yang bisa menyulap media cetak menjadi elektorik.

Aplikasi  ini memungkinkan pengguna telepon genggam untuk menyulap media cetak menjadi lebih interaktif. Tinggal menggarahkan kamera hp ke majalah atau buku, maka aplikasi ini akan mencari database yang akan menghubungkan kita ke url lain yang bisa diatur lewat website Layar.

layar-interactive-print

Penggunaan Layar di papan informasi

Hingga saat ini sudah banyak institusi pendidikan maupun media cetak yang memanfaatkan aplikasi Layar ini. Selain menambah daya tarik untuk media cetak, aplikasi ini juga bisa menyelesaikan masalah pemborosan kertas akibat halaman buku yang dicetak.

Layar untuk pendidikan

Atas inovasinya ini Layar menjadi  satu perusahaan dari 31 perusahaan lain yang dipilih oleh World Economics Forum untuk kategori  Technology Pioneers 2011. Luar biasa!

Nah bisa dilihat kan sekarang. Belanda benar-benar membuktikan kepedulian mereka terhadap kebiasaan membaca dan juga pelestarian buku. Bahkan layaknya tak mau dikalahkan oleh teknologi, mereka malah berhasil ‘mengawinkan’ media cetak dengan teknologi itu sendiri.

Referensi

http://en.wikipedia.org/wiki/Layar
http://en.wikipedia.org/wiki/Hella_Haasse
http://boekenweek.nl/
http://www.weforum.org/news-0NR_TP2011
http://allesovercontentmanagement.nl/2013/02/06/over-boeken-en-e-books/
Claire Boonstra at TedxAmsterdam & Binenhof


Leave a comment

#321 Napak Tilas Bahasa Belanda di Indonesia

Oleh Nur Laila Safitri

Beberapa waktu yang lalu ketika saya berjalan-jalan di Lawang Sewu Semarang, ada seorang turis tiba-tiba menyapa dengan bahasa yang tidak saya mengerti.

“gelieve mijn portret in de buurt van de spoorweg.”

Karena saya tidak tahu sang turis bicara apa, akhirnya saya hanya menimpali dengan senyum. Lalu sang turis pun mengulang ucapannya lagi. Sebenarnya saya masih tak paham dengan ucapannya itu. Saya hanya menangkap kata spoor berkali-kali. Lalu saya menjawab seadanya, “Of course.”

Sang turis langsung menyodorkan kameranya, dan ia berpose di dekat kereta api Lawang Sewu. Ternyata sang turis meminta saya untuk memotretnya di dekat kereta api.

Sepeninggal sang turis, saya lalu search di google translate apa itu artinya spoor. Ternyata spoor dalam Bahasa Indonesia berarti kereta api. Pengucapan kata spoor sama dengan pengucapan kata sepur (kereta api) dalam Bahasa Jawa.

Disadari atau tidak, keberadaan Belanda di Indonesia sangat berpengaruh terhadap kebudayaan bangsa. Bukan saja terlihat dari segi arsitektur dan pemerintahan saja, tetapi juga terlihat dari bahasa Indonesia ataupun bahasa Jawa (yang sebagian diantaranya) diadopsi dari Bahasa Belanda.

Sejarah kedatangan bahasa Belanda ke Indonesia tentu saja tidak terlepas dari sejarah pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia. Bahasa Belanda digunakan sebagai sebuah bahasa resmi di Indonesia, ketika Belanda menjajah sebagian wilayah kepulauan ini. Bahasa Belanda bukan merupakan bahasa resmi lagi sejak Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942. Di wilayah Papua, hal ini terjadi setelah penyerahan kekuasan Papua ke Republik Indonesia pada tahun 1963.

Pada masa Hindia-Belanda, di Maluku dan di Batavia didirikan sekolah-sekolah Belanda. Tetapi tidak semua orang boleh bersekolah di sana. Jumlah sekolah tidak banyak dan hanya kaum elit yang diperbolehkan masuk. Di sekolah mereka menuturkan bahasa Belanda namun di rumah biasanya sejenis bahasa Melayu atau bahasa Jawa.

Pada abad ke-20, Bahasa Melayu menjadi semakin penting, dan merupakan lingua franca di beberapa jajahan negara tetangga seperti Malaka, Singapura dan Brunei. Sejak abad ke-20 bahasa Belanda semakin menyebar di Indonesia dan banyak digunakan untuk percakapan sehari-hari. Pada 1942, ketika Jepang menduduki Hindia-Belanda, Jepang melarang penduduk Indonesia menggunakan bahasa Belanda dan hanya memperbolehkan bahasa Asia, seperti bahasa Indonesia dan bahasa Jepang.

Setelah kemerdekaan Indonesia, masih banyak yang menuturkan bahasa Belanda di Indonesia. Jika seseorang bisa berbahasa Belanda, maka di beberapa tempat, ini artinya ia mengecap pendidikan yang baik. Bahasa Belanda masih digunakan sebagai bahasa sumber atau referensi yang sangat penting di Indonesia. Beberapa dokumen pemerintahan penting dalam bahasa ini masih tetap berlaku secara resmi. Sebagai bahasa perdagangan, bahasa Belanda juga cukup penting, meski bahasa Inggris tentu jauh lebih penting. Namun para penutur fasih bahasa ini sekarang umumnya hanyalah orang-orang tua saja, terutama di Jawa dan Bali. Mereka pernah mempelajari bahasa ini di sekolah dan masih menggunakannya, terutama pada reuni atau untuk bercakap-cakap dengan para wisatawan. Almarhum kakek saya termasuk salah satu dari yang bisa berbahasa Belanda.

Presiden Soekarno, sang presiden pertama dan proklamator Republik Indonesia tetap menggunakan bahasa Belanda dan membaca buku-buku Belanda. Karena memang banyak buku bernilai sejarah yang ditulis dalam Bahasa Indonesia. Maka dari itu, tidak ada salahnya bagi kaum muda untuk tetap belajar Bahasa Belanda. Agar kita bisa menggali lebih dalam kisah-kisah sejarah Indonesia dalam buku Belanda yang mungkin saja belum pernah terjamah oleh para pendahulu kita.