KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013


1 Comment

#537 The Colour of carrot is Orange, Isn’t?

Oleh Lina Febrianty 

“Apa yang anda ketahui tentang wortel?”

Saya yakin, pertama kali yang terbesit dipikiran anda adalah wortel sendiri yang berwarna oranye.

Wortel yang mempunyai nama latin Daucus Carota adalah jenis sayuran umbi akar. Wortel mempunyai siklus hidup 12-24 bulan dengan tinggi sekitar 1 meter dengan bunga berwarna putih. Wortel kaya akan vitamin A sehingga baik untuk kesehatan mata. Disarankan bagi para orang tua untuk membiasakan anak-anaknya memakan wortel karena pada umumnya kita tahu bahwa anak-anak tak suka makan sayur.

Usut punya usut tahukah kalian sebenarnya apa warna wortel sebenarnya? Bukan oranye ! Awalnya wortel merupakan tanaman liar yang hanya diambil bunga maupun daunnya saja. Wortel sampai pada Yunani dan Romawi sejak sebelum masehi. Namun wortel sendiri mulai dikenal sejak abad ke-1 masehi. Tak lama kemudian pada abad ke-10 masehi wortel mulai dbudidayakan di Afganistan. Sejak saat itu wortel muncul dalam beragam warna merah, hitam, ungu, putih dan kuning.

Pada tahun 1500-an beberapa petani Belanda berinisiatif untuk membuka ladang di kota Hoorn, Belanda Utara. Entah apa alasannya, mereka suka menanaminya dengan wortel. Pembudidayaan wortel itu tak berhenti disini karena melalui rekayasa genetika, wortel itu dibiakkan menjadi berwarna oranye.

“Kenapa harus warna oranye?”

Beberapa alasan kuat disebut karena sebagai bentuk dukungan para petani terhadap Willem van Oranje, pemimpin perjuangan kemerdekaan Belanda. Alasan lain yaitu sebagai senjata perlawanan. Ketika para pejuang faksi politik Belanda sedang bertikai dengan keluarga kerajaan Oranje, mereka menganggap wortel sebagai salah satu senjata perlawanan. Mereka mengatakan “wortel yang dijual dengan akarnya, dianggap terlalu mencolok dan karena itu dianggap sebagai provokasi.”

Jadi apapun alasan para petani di Hoorn Belanda telah sukses menjadikan wortel berwarna oranye terkenal di seluruh pelosok negeri. Inilah simbol warna oranye Belanda !

Referensi

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/wortel-oranye-karena-belanda
http://www.carrotmuseum.co.uk/history.html

Advertisements


Leave a comment

#504 DUTCH : Design, Urban, Technology, Culture, Holticulture

By Tiara Mahardika

When I think about the Netherlands and try to imagine the awesome things there, I found that this country is not only good in just one thing. The Netherlands is one of the successful countries in the world that can survive from many disasters, changing time, and modernism.
Let’s draw it into some parts.
1) Design
The Netherlands is a country of designers. We can see from many architectures in every corner of the country, starting from Amsterdam, Volendam, Rotterdam, etc. This country still keeps its old fashioned architectures when many of the citizens design a modern and unique design and concept for its living home. Dutch design also embodies innovation and creativity; the things to be inspired all over the world.
Architecture in Amsterdam
2) Urban
Urban living in the Netherlands is rather different than urban living in the other countries in the world. Its capital city, Amsterdam, is the city of cycling. It’s like the breathing art to be followed.
Cycling in Amsterdam
3) Technology
Dutch is known for its water technology. In the past, the only place to live in Netherlands were in the East and South area. More than 2/3 mainland of this country was prone to flooding. Dutch then innovated to make windmill and polders. It was the greatest discoveries to save and survive from the disaster they used to face that day. Now, the windmills and polders have been developed to many countries like USA, Belgium, France, etc.
Polder
Kinderdjik (Windmill)
4) Culture
In Netherlands, the culture is their cheese. To say that cheese is synonymous with Alkmaar is something of understatement. It’s world famous for its cheese market, which is held every Friday between April and September. To be a country that keeps its culture is another dutch pioneering these days.
Alkmaar traditional cheese market
5) Holticulture
Who don’t know about Tulip? We used to think that Tulip is a flower from Netherlands. Actually, it isn’t. Tulip is a flower from Turkey and Iran. So, how can the Netherlands today is known as the Tulip country? Well,  there is the biggest garden flower full of many variety of Tulip in the Netherlands. It’s called Keukenhof. By holticulture technology in the Netherlands, now there are so many variety of Tulip. It was only orange, but now.. as far as the tourists who visit Keukenhof can see the garden of rainbow Tulip. Dutch horticultural industry is a global trendsetter supplying market all over the world.
Keukenhof
There are many surprising things in the Netherlands. The Netherlands has been a pioneer from those five sector; in design, urban, technology, culture, and also holticulture. For a developing country like Indonesia, it’s not too late to run to be like Netherlands. It’s a great refection to developing countries anyway.


Leave a comment

#425 Kincir Angin Sang Pelopor

Oleh Isensia Meiveny

Kehangatan warna oranye melambangkan keceriaan, terlihat dari kehidupan di Belanda yang memiliki kebersamaan dan keramahan.
Keindahan bunga tulip melambangkan kasih yang sempurna, terlihat dari keindahan negeri Belanda yang menciptakan suasana yang damai sejahtera.
Kekuatan kincir angin dalam menghadapi berbagai cuaca terlihat dari Negara Belanda yang berdiri teguh di setiap kondisi zaman.
Itulah ketiga julukan untuk Belanda yang sebenarnya memilki makna mendalam terhadap negeri tersebut. Belanda terletak di Eropa Barat yang memiliki luas daerah 40.000km2. Selain sebagai negeri kincir angin, Belanda juga dikenal sebagai negeri bunga tulip dan negeri seribu tanggul. Disebut negeri seribu tanggul karena di Belanda banyak tanggul raksasa yang berfungsi untuk membendung air laut agar tidak mengalir ke daratan.
Belanda adalah negara yang tidak hanya kuat melainkan juga sebagai negara pelopor dan penemu. Mulai dari penemu mikroskop Hans dan Zacharias Janssen, penemu kapal selam Cornelius Drebbel, penemu teleskop praktikal Hans Lippershey,  sampai dengan penemu bakteria Anton van Leeuwenhoek dengan mikroskop kanta tunggalnya, serta pembuat coklat yang terkenal Coenraad Johannes van Houten, dan masih banyak penemu dan pelopor lainnya.
Dari semua penemu-penemu itu, mungkin jarang yang menyadari bagaimana negara dibawah permukaan laut itu bisa tetap makmur, aman, dan jaya dengan kondisi geografisnya yang riskan. Koninkrijk der Nederlanden yang berarti “Kerajaan Tanah-Tanah Rendah” dan sejak abad ke-13 Belanda sudah menggunakan kincir angin baik untuk menggiling gandum ataupun mengatasi aliran air agar terhindar dari banjir.
Walaupun semua kincir angin di Belanda hampir terlihat sama, sebenarnya terdapat berbagai jenis dari kincir angin tersebut. Menurut fungsinya, kincir angin dibagi menjadi dua jenis yaitu kincir angin untuk kepentingan industri dan kincir angin untuk penyaluran air. Selain digunakan untuk membantu proses irigasi dan menggiling hasil panen, kincir angin di Belanda juga digunakan sebagai sarana informasi, yaitu pemberitahuan kematian seseorang dengan arah kincir angin yang berlawanan.
Angin merupakan sumber energi yang relatif bersih dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan karbon dioksida (CO2) atau gas-gas lain yang berperan dalam pemanasan global. Angin juga tidak menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan ataupun manusia, dan mengurangi penyebab efek rumah kaca. Keinginan kuat pemerintah Belanda untuk mengembangkan energi angin, merupakan bagian dari upaya negara itu dalam meningkatkan energi terbarunya, yang masih didominasi oleh energi-energi fosil. Selain itu kincir angin juga berperan dalam bidang objek wisata. Maka dari itu Belanda sering disebut Negeri Kincir Angin, karena banyaknya kincir angin yang dijadikan objek wisata.
Belanda juga mempunyai ekonomi yang maju dan terbuka, terlihat dari perusahaan produk konsumsi rumah tangga (Unilever), perusahaan minyak (Shell), dan perusahaan elektrikal (Philips). Walaupun sektor pertaniannya hanya menyediakan peluang pekerjaan kurang dari 4% populasi, Belanda mampu mengatasinya dengan industri makanan untuk diekspor dan menduduki urutan ketiga dalam daftar pengekspor makanan setelah Amerika Serikat dan Perancis.
Semua teknologi dan kemajuan sekarang ini tidak akan terwujud tanpa ada semangat rakyat Belanda untuk mencari cara mempelajari kekurangan mereka. Walaupun mereka mempunyai kekurangan yaitu daratan yang berada dibawah permukaan air laut, kekurangan itu bukan untuk mereka sesali tetapi memotivasi diri mereka bagaimana mengatasi kekurangan tersebut.
Kincir Angin itu mengamankan daratan Belanda dari dinginnya air laut dan hangatnya daratan Belanda itu kini menghasilkan pelopor-pelopor yang membangun Belanda sampai kejayaannya. Negara yang hebat bukan hanya negara yang memiliki banyak kelebihan, tetapi negara yang bisa bangkit dari kegagalan mengatasi kekurangannya untuk menjadi yang lebih baik. Itulah Negeri Kincir Angin beserta Sang Pelopornya.
Referensi


Leave a comment

#419 π

Oleh Lilik Darmawan

π atau Pi. Sebuah bilangan matematika unik. Bilangan irasional, tetapi penting. Angka di belakang koma hanya “dibatasi” kemampuan teknologi hasil inovasi. Kian canggih teknologi, maka angka-angka setelah koma di belakang 3 semakin panjang.

Rekor terbaru dipecahkan oleh Shigeru Kondo dan Alexander Yee dengan superkomputer yang  mampu menghitung angka hingga 5 triliun di belakang koma dari awal dikenalkan 4 ribu tahun silam. Bilangan tersebut juga telah diperingati sebagai Hari Pi tiap tanggal 14 Maret atau representasi dari nilai Pi 3,14.

 
Saya sengaja menghubungkan antara Pi dengan pioner. Bolehlah, disebut Pi kependekan dari pioner.  Dari sisi sifatnya, antara Pi dengan pioner sama. Tak ada ujungnya. Keterbatasan hanya ditentukan oleh waktu dan teknologi. Begitu waktu dan inovasi jalan, Pi dan pioner pasti tercipta.
 
 Di Belanda, sudah bejibun Pi yang lahir. Dunia mengakui inovasi seorang Daan Roosegaarde dengan perusahaannya Heijmans. Jalan cerdas “cetar membahana” itu menampilkan pemisah jalur bercahaya. Pemisah jalan dicat photoluminescent yang menyerap cahaya di siang hari dan kemudian memancarkan cahaya saat malam. Dengan cat sensitif terhadap temperatur, smart highway membuat kepingan salju bercahaya ketika suhu di bawah titik beku.
 
Roosegaarde juga menciptakan Elecric Priority Lane, lintasan otomatis pengisi ulang mobil listrik. Ada juga “cahaya interaktif” yang menyala ketika kendaraan lewat di sampingnya. Selain itu, smart highway dilengkapi wind light, atau cahaya dari tenaga angin. Begitu ada hembusan angin dari kendaraan maka listrik bisa dihasilkan dan menghidupkan lampu penerangan. Inovasi  mengukuhkan Roosergaarde sebagai pioner “muda, beda dan berbahaya”.
Jika Roosergaarde memanfaatkan matahari, langkah beda dilakukan PlantLab, sebuah perusahaan di Belanda yang merevolusi pertanian. Budidaya pertanian bisa dilakukan di gedung pencakar langit atau di bawah tanah. Konsep pertaniannya efisien dan ramah lingkungan. Hanya butuh sedikit air bahkan tanpa sinar matahari. Penerangan dengan lampu LED warna merah dan biru. Ada sensor canggih yang menciptakan lingkungan optimal tanaman. Panennya lebih cepat. Produknya sehat karena tanpa pestisida.
 
 Negeri Oranye yang mulai “menghijau” itu, tidak sebatas di sektor pertanian, tetapi juga energi. Energi listrik tengah diproduksi dari bahan biomassa maupun dari tanaman yang tanah basah. Marjolein Helder dari Universitas Wageningen dengan proyek plant microbial fuel cell, memanfaatkan elektron hasil pemecahan residu organik di sekitar akar oleh bakteri. Listrik dihasilkan setelah menempatkan elektroda penyerap elektron. Energi terbarukan ini diproyeksikan memasok listrik bagi masyarakat terpencil.
Dari universitas yang sama, Rene Wijffels mengembangkan biofuel dari alga. Produk lain adalah bahan farmasi, kimia dan makanan sehat. Penemuan ini menghindari eksploitasi berlebihan sumber daya alam.
Sejumlah inovasi itu semakin mengukuhkan Belanda sebagai negara pioner di berbagai bidang. Seorang mahasiswa asal Rumania, Andrei, pemenang foto “are you a pioneer” menyebutkan, “I am a pioneer…because I am studying to make the future better for the next generations!”.  Benar, kepioneran Belanda, tidak saja membuat inovasi, tetapi yang utama adalah menciptakan masa depan lebih baik bagi generasi berikutnya.
Beginilah Belanda, negeri inovator yang sifatnya seperti bilangan Pi. Sama-sama terus berkembang karena munculnya inovasi dan teknologi. Mau ikut? Silakan masuk ke gerbong pendidikan di Belanda. Telah menunggu sebuah dunia dengan atmosfer berfikir dan riset untuk menjadi pioner.  From vision to reality…We made it. (###)
Referensi


Leave a comment

#381 Indramayu Hingga Belanda: memahami hak akan akses pengetahuan bagi petani di Klub Pengukur Curah Hujan Kabupaten Indramayu

Indramayu Hingga Belanda: memahami hak akan akses pengetahuan bagi petani di Klub Pengukur Curah Hujan Kabupaten Indramayu[1]

Oleh Muki T Wicaksono [2]

“Nama saya Onno, dengan dua “n”. Saya (bukan) orang Jawa. (tersenyum).” –Onno Giller

Alat Pengukur Curah Hujan (omplong) buatan petani. (Sumber: dokumentasi pribadi Onno Giller)

Alat Pengukur Curah Hujan (omplong) buatan petani. (Sumber: dokumentasi pribadi Onno Giller)

Enam bulan sudah, saya melakukan penelitian bersama seorang mahasiswa asing dari Universitas Wageningen. Namanya seperti orang jawa – Onno (dengan “n” dua). Ia adalah seorang mahasiswa program master (atau S2) yang sedang menyelesaikan tesisnya mengenai jaringan informasi dari ilmuwan ke petani di dalam sebuah asosiasi Klub Pengukur Curah Hujan Kabupaten Indramayu[3] (KPCH Indramayu). Sedangkan posisi saya di sini sebagai seorang mahasiswa program sarjana yang sedang mengumpulkan data lapangan untuk menulis skripsi, sekaligus sebagai penerjemah Onno di Indramayu. Kami berdua melakukan kegiatan penelitian lapangan di areal pertanian Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Saya lebih suka menyebut penelitian ini sebagai “kuliah pendek” selama enam bulan dengan petani Indramayu sebagai “dosen”nya.  Mengapa? Karena dari petani-lah, saya dan Onno belajar banyak mengenai proses adaptasi petani Indramayu di tengah kondisi perubahan iklim.  Ketertarikan mereka mengenai negeri Belanda selalu dimunculkan dengan pertanyan yang sederhana  yang muncul di tengah perbincangan kami dengan petani “kalo kondisi pertanian di negerinya Mas Onno di Belanda sana priwenmas?  ana beli pari-pari kaya neng kene? Mangan nasi juga?”[4] Tulisan pendek ini akan memperlihatkan bagaimana petani KPCH Indramayu membayangkan keberadaan negara Belanda dari perbincangan Onno (warga negara Belanda) yang dikaitkan pada kehidupan sehari-hari mereka, khususnya pada lingkup pertanian.

Bertukar pengalaman akan pertanian Indramayu – Belanda

Belanda bukanlah menjadi wujud yang asing bagi petani Indramayu. Beberapa infrastruktur seperti bendung dan saluran irigasi peninggalan era kolonial masih kokoh berdiri menyuplai kebutuhan air persawahan Indramayu. Petani lebih suka menyebut infrastruktur tersebut sebagai bangunan bapake Onno(bangunan bapaknya  Onno). Karena bangunan tersebut dibangun sekitar tiga atau empat generasi di atas Onno. Ketika melihat Onno sebagai wong[5]Belanda yang doyan makan nasi, petani terlihat heran karena dipandangan mereka orang bule[6] selalu makan roti. Mereka pun ingin tahu apakah di Belanda terdapat sawah? Onno kemudian menjawab there is no paddy field in Holland. We have maize, potato, and wheat as our primary food. But sometime we imported rice from another country. Unfortunately the rice price is expensive enough. Mendengar beras import di Belanda dijual dengan harga yang mahal, petani dengan bergurau ingin mengimport beras Indramayu ke Belanda, daripada mengirimnya ke Jakarta.

Bertukar pengalaman tidak hanya dilakukan dalam perbincangan sehari-hari. Proses bertukar pengalaman antara ilmuwan (agrometeorolog, entomolog, ahli pertanian, dan antropolog) petani pengukur curah hujan.[7]Pertemuan tersebut dilakukan untuk mencari jalan keluar dari masalah kerentanan akibat kondisi alam yang dihadapi oleh petani di lahannya masing-masing. Pada satu pertemuan di bulan November 2012 menjadi contoh yang menarik ketika seorang petani Pak Mun bertanya ke Onno mengenai bagaimana cara mengatasi masalah banjir di areal pertanian pada negara Belanda? Onno menjawab In Holland, farmer pumped water from field to another irrigation canals so the water can used efficiently. Meskipun tidak mendapat jawaban yang memuaskan karena Pak Mun melihat dengan memompa air banjir ke luar sawah amat mahal bagi petani Indramayu karena membutuhkan banyak bahan bakar, ia memahami bahwa kejadian banjir dapat dipahami berdasarkan kegiatan pengukuran curah hujan yang difasilitasi oleh ilmuwan sehingga petani mampu mengetahui kapan periode terjadi banjir yang berbahaya bagi lahan mereka. Pada konteks tersebut saya melihat bagaimana pentingnya akses pengetahuan bagi petani Indramayu. Distribusi pengetahuan dari para ahli yang sebagian berasal dari Belanda menjadi hal yang diserap dan direfleksikan oleh petani dalam memahami kondisi pertanian di lahan mereka masing-masing.  Meskipun bergerak dalam skala kecil dari partisipasi 40 orang petani pengukur curah hujan, keberadaan ruang diskusi antara ilmuwan dan petani menjadi sangat signifikan karena proses diskusi tersebut juga diikuti oleh kegiatan pengamatan yang kemudian digunakan oleh mereka dalam memilih strategi pengolahan lahan padi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Foto Saya (kanan atas), Onno (tengah berbaju hijau), dan Rhino (antropolog-kiri atas berambut panjang) bersama petani pengukur curah hujan.

(Sumber: dokumentasi pribadi Onno Giller, Maret 2013).

Referensi

[1] Tulisan ini dibuat untuk diperlombakan dalam Kompetiblog yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia pada Mei 2013.

[2] Penulis adalah Mahasiswa Aktif Jurusan Antropologi, Universitas Indonesia yang sedang menyelesaikan skripsi mengenai proses pengambilan keputusan pada petani pengukur curah hujan di tengah kondisi perubahan iklim.

[4] Kalau kondisi pertanian di negaranya Mas Onno (Belanda) sana bagaimana,mas? Ada tidak padi-padi kaya di sini? Makan nasi juga?

[5] Orang

[6] Bule adalah sebutan orang Indonesia terhadap orang asing (foreigner) khususnya yang memiliki ras Kaukasoid. Lihathttp://en.wikipedia.org/wiki/Bule.


Leave a comment

#371 Dari Susu Menjadi Keju

Oleh Martina Nurma Dewi

Dalam beberapa kali komunikasi via telepon, ibu menyisipkan nasihat yang sama “dek, jangan lupa minum susu, kalau bisa disempatkan beli roti dan keju ya dek untuk cemilan di kosan”. Ibu memang sosok penuh perhatian yang selalu mengingatkan pentingnya nutrisi asupan makanan anaknya di rantau kota metropolitan, beliau mengerti betul bahwa beberapa minggu terakhir ini cuaca tidak bersahabat dan anak manusia siapapun sepertinya rentan untuk terserang flu jika tidak mampu mengimbanginya dengan pola makan dan nutrisi yang baik. Entahlah, sedari saya kecilsusu menjadi menu wajib untuk diminum setiap pagi maupun malam, tambahannya jika saya sakit, keju seolah menjadi obat penawar racun yang jika dimakan hari ini, besoknya saya langsung sembuh, sepertinya memang kurang ilmiah tapi hal tersebut berlaku bagi tubuh saya.

Susu dan keju’ merupakan dua hal yang saling terkait erat, tentu saja karena susu dan keju adalah suatu hal yang sama namun terbedakan oleh tahap lanjut proses pengolahan. Sangat menarik bagi saya yang dalam tubuhnya ini mengalir nutrisi susudan keju untuk mengetahui lebih mendalam mengenai negara produsen susu dan kejuyang juga memiliki ikatan historical dengan Indonesia.

 

Mungkin anda pernah mendengar atau melihat kata-kata berikut ini “Holland, your partner in food and nutrition” yap itulah Belanda, merupakan negara yang mendunia dengan kepopulerannya dalam hal nutrisi makanan, sebut saja susu dan keju.  Fakta menarik, Belanda memiliki 19,2 ribu peternakan dengan jumlah sapi perah sebanyak 1,5 juta ekor, bayangkan berapa banyak susu yang diproduksi setiap harinya. Tidak hanya itu, Belanda senantiasa memiliki statistik yang baik dalam hal produksi dan suplai susu. Berdasarkan data terakhir dari Statistic Netherlands – Centraal Bureau voor de Statistiek, suplai susu per bulan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan pada tahun 2012 mencapai nilai tertinggi sebesar 11.670.079.000 kg diikuti peningkatan persentase kandungan nutrisi yakni protein dan lemak.

Sumber: Statistic Netherlands-CBS 2013

Fakta lain, dapat dilihat dari grafik di bawah bahwa produksi susu olahan berupa keju mengungguli olahan lainnya yakni buttermilk powder, dan concentrated milk, sangat layak jika dikatakan bahwa Belanda unggul dalam hal produksi keju.

 Dairy production yang tinggi senantiasa menempatkan Belanda pada peringkat limaTop 20 Global Dairy Companies, 2012 oleh Rabobank’s Food & Agribusiness Research and Advisory Group berdasarkan nilai omset terbanyak.

Hasil olahan susu yakni keju yang dalam Bahasa Belanda disebut Kaas merupakan komoditas ekspor yang sangat penting dalam perekonomian, bahkan pada tahun 1970an Belanda memimpin dunia dalam mengekspor keju. Sebagai negara yang telah membuat keju sejak 400 Masehi, negeri ini memperoleh reputasi internasional sebagai “Cheese Land’. Jenis keju paling terkenal adalah Gouda dan Edam yang namanya diambil dari nama kota di Zuid Holland dan Noord Holland yang merupakan pasar keju ternama di Belanda.

Menariknya, kedua jenis keju ini memiliki nilai nutrisi yang tinggi, pasalnya dalam 100 gram Keju Gouda terdapat 356 kalori dengan rincian 68% lemak,  2% karbohidrat, dan 30% protein. Persentase rincian tersebut sama untuk 100 gram Keju Edam dengan kandungan kalori sebesar 357.

*Informasi nilai gizi berdasarkan AKG dari 2000 kalori

Kepioniran Belanda dalam hal produksi susu dan keju patut diacungi jempol, karena kuantitas dan kualitas yang baik merupakan dua hal yang selaras dikedepankan oleh negeri ini.

Referensi

http://statline.cbs.nl/StatWeb/publication/?VW=T&DM=SLEN&PA=7425eng&LA=EN
http://www.holland.com/us/tourism/activities/traditional/cheese-2/dutch-cheese-brands.htm
http://hollandfoodpartner.com/trade/areas-of-expertise/
http://dutchfood.about.com/od/aboutdutchcooking/a/SayCheese.htm
http://dairybusiness.com/seo/headline.php?title=rabobank-world-s-top-20-dairy
http://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/umum/
http://id.wikipedia.org/wiki/Keju_Belanda


Leave a comment

#369 A Research and Technology, the Key Roles of Dutch Superiority

By Rafika Rabba Farah

 Recognizing the word “Dutch”, Indonesian people may turn to be skeptics for several centuries ago—due to the long period of colonialism—but not for today. In this recent years, Dutch has been demonstrated convincingly its powers in several aspects of life, the most visible are due to endless research and technology; these two areas play a significant role.
What do you have in mind looking at this picture?
 
One of the buildings in Netherlands which is surrounded by water
You may see water, a building, and a flag. Yes, you are right to guess; this picture of building is located in Dutch. Then, what is in your mind? The picture above is the proof that Dutch has been successful to spend hard time wrestling with water; the big enemy of the country ever. How to fight against the enemy? Dutch is always constant to do the research to have such a great water management which today has inspired many countries to do the similar role.
In fact, when New Orlen was messed up due to Catrina storm, America asked Dutch scientist to renovate the country. Recognizing Dutch’s superiority, America, super power country in the world, learns how to do water management from Dutch. Besides, this demonstration also attracts Dubai, the United Arab Emirates to do a spectacular mega project of ‘Palm Jumeriah’ island in which dam up the flow of Persia Ocean waterway. Indeed, through persistent in doing research and developing technology, today Dutch has been acknowledged as the real pioneer of water management.
In addition, the agricultural sector shows how research and technology work on it. The University of Wageningen has been decided as a research center, one of them is in agriculture. A research is indeed an investment for them; without any researches they are nothing. For instance, for several centuries—after the world war two—Dutch has been aware from being buried, they were in unstable economy. Through research they prove the world that they make some innovations in a lot of sectors, especially in agriculture area. In accordance with this, now agriculture sector has gained world’s attention because this sector is able to prop up 20 percents of country’s economy.
 
A modern and a creative agriculture in Netherlands; tulip flowers
Interestingly, Netherlands today is categorized as one of modern agriculture countries. Definitely, it all happens because Dutch applies integrated and sophisticated technology. For example, when it is summer, Dutch applies solar cell system in greenhouse that functions to get thermal energy then to be saved in the reservoir and rivers underground. The effort is done to raise the water temperature. Thus, in winter, they will not worry to keep running on the agriculture work because they had already saved the energy, so, they can easily manipulate the indoor climate. How gorgeous the Dutch are!
The above short and brief description concludes surely that research and technology has decided Netherlands where to go. Thus, the cool innovations which are done become the inspiration for the neighborhood countries; then Dutch is indeed the real pioneer ever.
References