KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013


Leave a comment

#543 Keluarga, Tahta dan Belanda

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana

Pada tanggal 30 April 2013 kemarin, dunia menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah dimana untuk pertama kalinya sejak seratus dua puluh tiga tahun kekuasaan tertinggi dipegang oleh seorang ratu, Kerajaan Belanda kembali dipimpin oleh seorang raja. Adalah Willem Alexander, putra mahkota kerajaan Belanda, yang naik tahta menggantikan kedudukan ibundanya Ratu Beatrix. Saya adalah salah seorang yang cukup beruntung untuk bisa menyaksikan suasana perayaan hari nasional Belanda tersebut walaupun hanya melalui rekaman live yang ditonton bersama-sama dengan warga negara Belanda yang bermukim di Indonesia. Namun ada satu hal yang menarik minat saya. Jika sebelumnya Belanda menetapkan Koninginnedag(Hari Ratu) sebagai hari nasional mereka yang dirayakan pada tanggal 30 April, mulai beberapa tahun kedepan Belanda akan merayakan Koningsdag(Hari Raja) yang jatuh pada tanggal 27 April. Penentuan tanggal tersebut ditentukan berdasarkan tanggal kelahiran sang raja. Dengan kata lain, penobatan Willem sebagai raja merupakan pertanda telah kembalinya sang putra mahkota yang sempat hilang selama seratus dua puluh tiga tahun. Satu pertanyaan kemudian terlintas di kepala ketika tengah menikmati suasana perayaan tersebut : dari manakah asal mula tradisi yang cukup unik ini? Ternyata hal ini bisa ditelusuri sejak sekitar 450 tahun yang lalu.
 
 Willem Alexander ketika dinobatkan menjadi raja 
Sejarah modern Belanda dimulai ketika masa perang 80 tahun melawan kekuasaan Spanyol dibawah raja Philip II pada abad ke 16. Pada saat itu muncul sosok Willem van Oranje, seorang bangsawan ambisius yang berasal dari keluarga Orange-Nassau, memimpin pasukan pemberontak melawan kekuasaan tirani raja Philip II. Pemberontakan itu didasari atas penuntutan pengembalian tujuh belas bagian provinsi di wilayah Benelux (Belanda, Belgia, Luxemburg) kepada kaum bangsawan serta menyelesaikan berbagai konflik agama pada masa itu berdasarkan asas toleransi. Sayangnya, Willem tewas tertembak sebelum melihat cita-citanya tercapai. Namun berkat kerja keras yang telah ia bangun, kurang dari dua puluh lima tahun setelah kematiannya berbagai provinsi itu kemudian bersatu menjadi sebuah republik yang pada akhirnya menjadi cikal bakal terbentuknya negara Belanda. Atas jasanya tersebut, Willem van Oranje kerap disebut Vader des Vaderlands (bapak negara Belanda).
 
  Willem van Oranje     80 jarige Oorlog (perang 80 tahun)
Setelah Republik terbentuk, keturunan keluarga Oranje van Nassau diberi kehormatan untuk menjabat sebagai Stadtholder (Gubernur) yang ditempatkan di pemerintahan. Kegemilangan keluarga Orange-Nassau pada masa republik kemudian diteruskan oleh Maurice dan Frederik Hendrik yang berlaku sebagai Stadtholder di masanya. Bentuk negara Republik hanya bertahan hingga tahun 1795 sebelum akhirnya Belanda jatuh kepada kekuasaan Napoleon dari Perancis. Setelah sempat berada di bawah pengaruh kekuasaan Napoleon, Belanda memulai periode baru sebagai sebuah Kerajaan. Adalah Willem I yang kembali dari pengasingan, membentuk sistem kerajaan pada tahun 1815. Sistem kerajaan Belanda tersebut merupakan pelopor dari bentuk kerajaan monarki konstitusional saat ini dipakai. Willem I pun menjadi raja pertama dalam sejarah kerajaan Belanda. Pada tahun 1848 kembali terjadi perubahan pada sistem kerajaan, dimana Raja Willem II merubah konstitusi dengan menyatakan bahwa kekuasaan monarki dikurangi dan kekuasaan rakyat menjadi lebih besar. Hal itu dianggap sebagai awal dari lahirnya demokrasi di Belanda. Pada tahun 1890, dimulai sejarah baru pada keluarga kerajaan ketika Wilhelmina naik tahta sebagai ratu untuk pertama kalinya dalam sejarah Belanda. Hal ini terjadi karena raja Willem III, ayah dari Wilhelmina, kehilangan semua putranya yang lalu kemudian peran sebagai posisi tertinggi dalam kerajaan diberikan kepada Wilhelmina. Tradisi ratu sebagai penguasa tertinggi di Belanda terus bertahan selama seratus dua puluh tiga tahun kedepan.

Willem I

          

Wilhelmina

Selain membawa pengaruh besar terhadap sejarah bangsa Belanda, keluarga Orange-Nassau juga merupakan pelopor dari simbol yang sekarang lazim dikenal sebagai sesuatu yang khas Belanda. Misalkan Oranye, warna yang menjadi trademark bagi negeri Belanda. Oranye sendiri merupakan bagian dari lambang keluarga Oranje van Nassau. Selain itu lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus, merupakan mars yang dilantunkan ketika perang 80 tahun melawan tirani raja Philip II, dan baru kemudian pada tahun 1932 diperkenalkan sebagai national anthem Belanda.
 Oranye, warna khas Belanda yang terlihat mencolok
Kembali ke masa sekarang, ketika dimana salah satu putra keluarga Orange-Nassau siap mengemban tugas menjadi pemimpin bagi negaranya. Upaya revolusioner kembali muncul dalam keluarga ini ketika Willem pada hari penobatannya sebagai raja Belanda mengumumkan tidak akan melanjutkan tradisi keluarga kerajaan sebagai raja Willem ke IV dan lebih memilih menggunakan nama Raja Willem Alexander. Menurut banyak pengamat sejarah raja-raja di Eropa, hal ini merupakan langkah Willem dalam memberi citra modern pada tradisi monarki yang sebelumnya dianggap ketat dan kaku. Suatu hal yang menandakan bahwa sang raja baru siap meneruskan tradisi kepeloporan keluarga dan bangsanya.


1 Comment

#446 Negara Monarki Paling Bahagia Ini Dicintai Rakyatnya

Oleh Sunandar Yudha P

William The Silent (Foto: Wikimedia.org)

William The Silent (Foto: Wikimedia.org)

Pengunduran Ratu Beatrix bulan April 2013 lalu, membuat publik Belanda kaget. Pasalnya, Beatrix telah menyentuh hati rakyatnya. “Saya tidak terlalu peduli dengan kerajaan, tetapi betul, dia ratu yang luar biasa, ratu untuk rakyat,” ujar Leo van der Horst (65), warga Belanda.

Monarki memang telah menjadi pemerintahan Belanda sejak 1566 melalui pewarisan dari keluarga Orange-Nassau. Sebagai raja pertamanya adalahWilliam I dengan kerajaan Dutch Republic. Beliau dinilai setara George Washington, pendiri Amerika. Pasalnya, William merupakan pendiri pondasi Belanda masa kini.

Era baru pemerintahan monarki Belanda sendiri ditandai dengan pembentukan Kingdom of the Netherlands pada 1815, setelah Perancis berhasil diusir dari Belanda. Sebagai raja adalah William I, pemimpin perebutan kembali Belanda dari tangan Perancis sekaligus anak William V, pemegang tahta terakhir Dutch Republic.

Mulai era ini, wajah monarki Belanda banyak berubah. Adolphe Quetelet, statistikawan Belgia, menuliskan bahwa pada 1820an, negara baru ini memiliki tingkat kematian yang rendah, persediaan makanan melimpah, pendidikan yang baik, kesadaran publik yang tinggi, dan rata-rata dana sumbangan amal tertinggi di dunia.

Kerajaan Belanda juga mengalami perubahan sistem politik menjadi Monarki Konstitusional. Sistem yang diproklamasikan 3 Nopember 1848 ini membatasi kekuasaan raja, membangun pemerintahan sipil, dan menggelar parlemen. Adapun raja atau ratu bertindak sebagai kepala negara. Sistem ini juga melindungi kebebasan sipil dan memberikan persamaan hak untuk warganya.

Perubahan ini juga berdampak pada kebangkitan seni dan sains di akhir abad 19. Sebagai contoh, pelukis aliran Realis Belanda ternama Vincent Van Gogh, lahir di era ini. Dalam bidang sains, terdapat Johannes Diderik van der Waals (1837-1923). Dia meraih gelar PhD dari Leiden University dan berhasil memenangkan Hadiah Nobel pada 1910 dalam bidang termodinamika. Saintis lainnya adalah Hendrik Lorentz (1853-1928) dan muridnya Pieter Zeeman (1865-1943) yang meraih hadiah Nobel dalam bidang Fisika pada 1902. Era ini juga memunculkan Hugo de Vries (1848-1935), penemu genetika Mendellian.

Menjelang pergantian abad, Belanda melakukan langkah fenomenal di zamannya. Karena ketiadaan penerus pria, Belanda mengangkat Wilhelmina sebagai Ratu pada 1898. Padahal mengangkat wanita sebagai pemimpin adalah hal terlarang di Eropa saat itu.

Ternyata Ratu Wilhelmina merupakan sosok yang tepat untuk memimpin Belanda dalam menghadapi masa-masa krisis, seperti: Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan krisis ekonomi 1933.

Ratu Wilhelmina bersama anaknya Juliana yang kelak meneruskan tampuk kepemimpinannya. (Foto: wikimedia.org)

Ratu Wilhelmina bersama anaknya Juliana yang kelak meneruskan tampuk kepemimpinannya. (Foto: wikimedia.org)

Salah satu momen paling dikenang adalah ketegaran Ratu Wilhelmina menghadapi Perang Dunia II. Pasalnya, pada 1940-1945 Belanda dikuasai Nazi yang membuat keluarga kerajaan mengungsi ke London, Inggris.

Hebatnya, Ratu Wilhelmina langsung membangun pemerintahan pengasingan dan rantai komando perjuangan Belanda serta mengirimkan pesan kepada rakyatnya melalui Radio Oranje.

Menjelang berakhirnya Perang Dunia II, Ratu Wilhelmina memilih berkeliling Belanda untuk memotivasi rakyatnya. Seringkali, hal ini dilakukannya menggunakan sepeda.

Hal serupa dilakukan oleh penerusnya: Ratu Juliana dan Ratu Beatrix. Ratu Juliana bahkan menginginkan dipanggil “Mevrouw” (Nyonya dalam bahasa Belanda) dibandingkan “Yang Mulia”. Bahkan, ketika Belanda dilanda badai pada Januari 1953, dia sendiri yang membagikan makanan dan pakaian kepada korban.

Melihat tindak-tanduk ratu dan rajanya, tak heran bila rakyat Belanda mencintai negara dan pemimpinnya. Dilengkapi dengan pendapatan per kapita terbesar kesepuluh di dunia, tak salah bila Belanda dinobatkan OECD sebagaiNegara paling Bahagia di dunia.***

Referensi

Kompas.com
Wikipedia – List of Monarchs of the Netherlands
Wikipedia – House of Orange-Nassau
Wikipedia – William I
Wikipedia – Dutch Republic
Wikipedia – Kingdom of the Netherlands
Wikipedia – William I
Wikipedia – History of the Netherlands
www.koninklijkhuis.nl – Head of State
www.rijksmuseum.nl
Wikipedia – Wilhelmina
Wikipedia – Juliana
Wikipedia – Beatrix
www.koninklijkhuis.nl – Queen
cerminsejarah.wordpress.com – Sejarah Negeri Belanda


Leave a comment

#173 Raja Willem-Alexander Beda!

Oleh Andika Hendra Mustaqim

Willem-Alexander pada Selasa (30-April) lalu dilantik menjadi Raja Belanda. Selamat kepada seluruh rakyat Belanda yang memiliki raja baru setelah 123 tahun lamanya dipimpin oleh terus oleh ratu. Terus terang, aku sangat memberikan kepedulian dan perhatian penuh dalam kejadian tersebut. Bagiku itu sama pentingnya seperti pernikahan Pangeran William dengan Kate Middleton yang ditonton jutaan orang di Inggris secara langsung dan miliaran orang di dunia melalui stasiun televisi.

Bagiku, meski Kerajaan Belanda kalah pamor dibandingkan Kerjaan Inggris yang selalu disorot media internasional, namun Kerjaan Belanda sebenarnya lebih humanis dan memasyarakat dibandingkan dengan kerajaan lain di dunia. Buktinya, dalam pelantikan Willem-Alexander menjadi raja hanya bersifat seremonial dan itu disumpah dan dilaksanakan di gedung parlemen. Perayaan pun meriah, tetapi tidak megah.

Fokus dalam tulisan ini bakal menyinggung lebih banyak tentang Raja Willem-Alexander yang menjadi pangeran pertama yang menjadi ahli dalam manajemen air. Biasanya, seorang pangeran didik menjadi seorang tentara yang hebat. Dikirim ke medan perang agar layak mendapatkan gelar sebagai pahlawan. Sejak menjadi Putra Mahkota Kerajaan Belanda, Willem-Alexander memang pernah menjadi tentara. Namun, selepas kuliah sejarah di Leiden University, Willem-Alexander lebih memiliki menjadi pakar manajemen air. Keren bukan?

Berdasarkan penulusuran saya di dunia maya dan bertanya dengan orang yang terbiasa dengan dunia manajemen air, Willem-Alexander memang satu-satunya pakar manajemen air dari kalangan keluarga kerajaan. Dia juga bekerja secara professional dalam bidangnya. Meskipun dia sudah memiliki masa depan yang cerah, sejak menjadi professional, dia sudah berkecimpung dengan para pakar dan pegawai tanpa harus malu-malu menyembunyikan identitasnya sebagai keluarga kerajaan.

Pada 2000, Willem-Alexander memimpin Komisi Manajemen Air Terintegrasi Belanda dan menjadi Komite Pengawasan Air pada 2004. Salah proyek prestisius yang ditanganinya adalah Program Delta yang menjadikan Belanda tetap aman dari dampak buruk perubahan iklim. Program itu meliputi pencegahan banjir dan manajemen efesiensi air.

Keahlian dan kepakarannya dalam manajemen air bukan hanya memberikan manfaat bagi Belanda, Willem-Alexander juga menyumbangkan pemikirannya bagi dunia sejak 1997. Bahkan, Willem-Alexander merupakan anggota kehormatan Komisi Dunia untuk Air pada abad 21 dan tokoh penting dalam Kemitraan Air Global.

Selain profesionalitas dalam manajemen air, aku kagum dengan Raja Willem-Alexander itu karena membuang jauh-jauh protokoler yang menyulitkan dia berkomunikasi dengan rakyatnya. Dalam penyebut, Yang Mulai, Willem-Alexander saja menyerahkan kepada rakyatnya bakal memanggil apa yang mereka inginkan.

“Saya bukan berpegang teguh kepada protokol,” katanya kepada Dutch TV. “Hal terpenting bagi saya adalah ketika rakyat merasa senang ketika saya bersama dengan mereka,” dikutip BBC News.

Willem-Alexander berjanji rakyat bisa mengandalkannya sesuai harapan mereka sehingga mereka bisa merasa nyaman. “Saya ingin menjadi raja yang mengikuti tradisi dan mempersatukan, mewakili dan mendorong masyarakat,” tegasnya. Dia juga berjanji kalau kerjaan bakal bergerak bersama masyarakat.

Referensi

http://www.hollandtrade.com/media/features/special-reports/investiture/?bstnum=5226
http://www.government.nl/issues/water-management/news/2008/09/25/new-dutch-british-alliance-in-battle-for-clean-drinking-water.html
http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-22279240
Foto: Dailymail.co.uk


Leave a comment

#166 Ratu Beatrix, Sang Ratu Pionir

Oleh Abdillah Rifai 

Belanda merupakan negara dengan kepala negara seorang raja atau ratu. Luas wilayahnya sangat sempit, sekitar 40 ribu km2, tidak lebih luas dibandingkan Propinsi Jawa Timur dengan pendapatan per kapita hampir 30.000 dolar AS. Tahun 2011 Majalah Forbes menempatkan Belanda di urutan ke-14 sebagai kerajaan terkaya di dunia dengan kekayaan bersih 200 juta dolar AS. Case dan Fair (2001) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan prosesnya yang berkelanjutan merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi yang ditandai dengan masyarakatnya menemukan cara penggunaan sumber daya yang tersedia secara lebih efisien.

Kemakmuran telah memicu kreatifitas penduduk Belanda untuk berinovasi dan menjadi pionir di segala bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemakmuran yang melahirkan kepioniran tersebut tidak lepas dari peran dari ratu mereka, Ratu Beatrix. Ia berhasil membuat kerajaan Belanda menjadi sangat maju, modern, dan sejahtera. Jejak langkahnya sebagai ratu juga diwarnai oleh kepioniran. Sehingga tak salah apabila ratu Beatrix dinobatkan menjadi ratu pionir bagi pionir-pionir Belanda.

Ratu Beatrix bersama Ibunya 1938

Beatrix Wilhelmina Armgard, lahir 31 Januari 1938 sebagai anak pertama dari pasangan Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard. Di saat Nazi Jerman berhasil menduduki Belanda pada Perang Dunia II, Beatrix malah menikahi diplomat Jerman Barat Claus von Amsberg pada Maret 1966 yang di masa kecilnya mengenakan seragam Hitler. Beatrix naik tahta melanjutkan ibundanya, Ratu Juliana, pada tahun 1980 di usia 42 tahun. Begitu dinobatkan, Ratu Beatrix dengan cepat mengubah segalanya. Beatrix menjadi pionir dalam budaya kerajaan dengan menolak berperan hanya sebagai tukang gunting pita di acara seremonial kerajaan, ia merubah istana kerajaan menjadi layaknya istana kerja. Ia menggelar pertemuan setiap minggunya dengan perdana menteri dan jajaran kabinetnya untuk mendiskusikan masalah pemerintahan. Istana dijalankan layaknya perusahaan sampai-sampai ia digelari “CEO Belanda”.

Ratu yang biasa dipanggil “Trix”, dikenal memiliki kesempurnaan dalam bekerja dan sangat sistematis. Di bawah kepemimpinannya. pada 2010 Belanda memenangkan tiga penghargaan: Pelabuhan Terbaik di Eropa (Port of Rotterdam), Best Contain  er Terminal di Eropa (ECT), dan Bandara Terbaik di Eropa (Amsterdam Airport Schiphol). Belanda menduduki urutan keempat dalam Indeks Global Kinerja berdasarkan data Bank Dunia pada 2010. Di bawah kepemimpinannya pula tingkat pengangguran dapat ditekan menjadi 5,5% dari tenaga kerja (2010) dan 5,3% (2011).

Ratu Beatrix bersama Raja dan Putera mahkota Willem saat berumur 5 tahun

Ratu Beatrix dikenal selalu mengenakan gaun yang bersesuaian dengan topinya. Namun, pada 8 Januari 2012 lalu Ratu Beatrix menjadi pionir mengenakan pakaian jubah dan berjilbab saat mengunjungi masjid di Abu Dhabi dan diulangi ketika mengunjungi masjid di Oman pada 12 Januari 2012. Di Oman Ratu Beatrix kerudung berwarna oranye, warna kebanggan bangsa Belanda. Ratu Beatrix merasa hal tersebut saat bukanlah sebuah masalah. Hal tersebut dilakukan karena ia menyesuaikan diri dengan tempat yang dikunjunginya.

Ratu Beatrix di Abu Dhabi

Ratu Beatrix di Oman

Selama 33 tahun berkuasa Ratu Beatrix telah memberikan sentuhan modern dan citra sebagai pekerja keras untuk kerajaan Belanda. Tepat tiga hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-75, Senin 28 Januari yang lalu Ratu Beatrix mengumumkan pengunduran dirinya. Beatrix menyerahkan kerajaan kepada anak tertuanya Putera Mahkota Willem Alexander yang menempatkannya sebagai Raja Belanda pertama sejak 1890. Semoga di bawah kepemimpinan Raja Willem, Belanda terus melahirkan pionir-pionir baru di setiap bilang ilmu pengetahuan dan teknologi melanjutkan kiprah sang ratu pionir, Ratu Beatrix.

Referensi
http://id.wikipedia.org/wiki/Beatrix_dari_Belanda#Leluhur
http://id.shvoong.com/law-and-politics/political-economy/2171824-definisi-pengertian-pertumbuhan-ekonomi/
http://www.indofiles.web.id/showthread.php?t=84778
http://www.hidayatullah.com/read/20643/13/01/2012/hidayatullah.com
http://www.hidayatullah.com/read/20643/13/01/2012/hidayatullah.com