KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013


Leave a comment

#547 Pers Belanda : Pioneer Bebas “Ngomong” di Eropa

Oleh Arjuna Putra Aldino

Belanda adalah Negara secuil di daratan eropa, yang wilayahnya tidak lebih besar dari provinsi-provinsi di Indonesia seperti Jawa dan Sumatra. Belanda hanya mengisi sekitar 0,03 daratan bumi.  Akan tetapi kita jangan salah, si mungil kincir angin ini dunia internasional di akui kesohorannya di bidang kebebasan persnya. Kebebasan “ngomong” atau berpendapat dan berekspresi sangat di jamin di Belanda. Belanda sebagai negara demokrasi, belanda sangat menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dan kebebasan “ngomong”. Sejak tahun 2007, Freedom House’s Freedom of the Press menobatkan Belanda sebagai 1 dari 10 negara di dunia yang menjamin kebebasan pers [i]. Di tengah gejolak politik dunia saat ini terutama gejolak politik timur tengah dimana banyak pemberitaan yang bias yang mengancam kedaulatan negara, banyak Negara seperti Korea Utara dan Turki melakukan pengekangan, pembatasan sampai pembunuhan terhadap para jurnalis. Dalam keadaan demikian, belanda justru tampil sebagai pioneer dalam kebabasan pers. Bertepatan dengan hari Pers Sedunia 2013, Reporters Without Borders menyatakan Belanda sebagai negara kedua di dunia yang menjamin keberadaan pers [ii].

Terbukti bahwa demokrasi di belanda lebih di utamakan sebagai pilar membangun bangsa. Sebagai fondasi untuk menjamin stabilitas politik. Terkadang dunia sering keliru dalam hal ini, ketika sebuah negara ingin adanya stabilitas politik hal yang sering dilakukan adalah penyensoran, pembatasan dan pengekangan terhadap geliat pers. Akan tetapi, belanda membuktikan sebaliknya bahwa stabilitas politik dapat di capai justru dengan menjamin kebebasan pers. Disinilah dunia harus mengakui bahwa belanda sangat serius dalam mengembangkan demokrasi dan mewujudkan kekuatan  civil society melalui kebebasan pers dalam memajukan bangsanya. Melalui partisipasi politik dari civil society yang aktif dan sadar, belanda membuktikan pada dunia bahwa dia adalah negara yang tersohor dalam bidang kebebasan pers dan negara yang stabil di bidang politik dan ekonomi. Terbukti belanda dapat bertahan di tengah krisis ekonomi yang melanda eropa dan amerika.

Bukan hanya itu, komitmen pemerintah belanda dalam menjamin kebebasan pers ditunjukan dalam gerakan Bits of Freedom, sebuah lembaga nirlaba yang dibentuk tahun 2000. Lembaga ini memperjuangkan kebebasan berkomunikasi di dunia digital dan berhasil memprakarsai pengesahan net neutrality law pada tahun 2012. Belanda adalah negara pertama di Eropa yang memiliki net neutrality. Hukum ini melarang provider internet untuk campur tangan atau menutup server tertentu. Selain itu, provider dilarang menarik biaya tambahan dari konsumen untuk aplikasi gratis seperti Skype dan Whatsapp [iii]. Disinilah bukti bahwa kebebasan “ngomong” dan berekspresi di belanda justru menjadi suluh kemajuan negara. Kebebasan “ngomong” dan berekspresi di belanda telah menjadi oksigen guna mempertahankan kestabilan kondisi di berbagai sektor pengelolaan negara. Peran pers sangat penting guna pendidikan politik masyarakat. Wajar ketika di belanda sangat mudah terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, karena pers telah di jamin kebebasannya sehingga pers dapat menjalankan perannya dengan baik. Stabilitas politik melalui Check and Balanced ketika pers dapat dengan bebas melakukan kritik dan koreksi terhadap segala sesuatu yang tidak beres dalam segala persoalan.

Referensi

[i] Anon. (2010). Freedom of Expression: Country Studies-Netherlands. In Democracy Web: Comparative Studies in Freedom. Retrieved from http://www.democracyweb.org/expression/netherlands.php

[ii] 2013 World Press Freedom Index: Dashed hopes after spring. In Reporters Without Borders. Retrieved from http://en.rsf.org/press-freedom-index-2013,1054.html.

[iii] van Daalen, O. (2012). Netherlands First Country in Europe with Net Neutrality. In Bits of Freedom. Retrieved from https://www.bof.nl/2012/05/08/netherlands-first-country-in-europe-with-net-neutrality

Advertisements


Leave a comment

#521 Anton Corbijn, Art That Comes From The Heart

Oleh Andika R. Nastiti 

Saya pecinta film. Dari semua event berbau film di Indonesia, salah satu yang paling saya nantikan tiap tahunnya adalah Europe on Screen. Europe on Screen merupakan salah satu festival film yang dikelola dengan sangat baik dan profesional, dengan deretan film-film Eropa pilihan yang variatif dan tentu saja, berkualitas baik. Dalam Europe on Screen, Anda bisa menemukan film anak-anak, drama romantis, action,thriller juga dokumenter. Sebagai salah satu pendiri European Union, Belanda dhi. film Belanda, tidak ketinggalan berpartisipasi dalam line up film Europe on Screen. Dan untuk Europe on Screen 2013 kali ini, film dokumenter Belanda yang satu ini sudah masuk dalam “daftar film yang harus saya tonton”, Anton Corbijn: Inside Out.

Anton Corbijn adalah fotografer, yang kemudian juga menjadi music video director dan film director, berkebangsaan Belanda yang saat ini tinggal di London, Inggris. CMIIW.

Saya mengenal Anton Corbijn pertama kali melalui foto-foto portrait hitam putihnya. Dan reaksi pertama saya saat melihat foto-foto tersebut adalah diam. Diam, dengan nafas tertahan. Foto-fotonya tidak biasa. Foto-foto Anton Corbijn bukan hanya meng-capture wajah, tapi merupakan visualisasi yang bercerita, yang menjelaskan karakter serta kepribadian subyek fotonya. It really captivated me.

Awalnya saya pikir Anton Corbijn adalah fotografer dengan spesialisasi foto portrait hitam putih, tapi kemudian saya menemukan foto-fotonya pada cover berbagai majalah, kaset hingga compact disc (CD) berbagai artis, juga berbagai music video hingga film yang ia sutradarai. But still, I couldn’t find any pattern. Semuanya terjawab dalam Anton Corbijn: Inside Out.


Anton Corbijn: Inside Out berdurasi 85 menit dan disutradarai oleh Klaartje Quirijns, yang juga berkebangsaan Belanda.

Film dokumenter ini mengeksplor sisi profesional dan sisi pribadi dari Anton Corbijn mengungkap motivasi artistik yang tidak memberinya banyak ruang dan waktu untuk dirinya sendiri. Anton Corbijn telah melalui semuanya. Mulai dari memfilmkan George Clooney dalam “The American”, menyutradarai biopik pemenang Piala Director’s Fortnight 2007 (Festival Film Cannes) “Control”, hingga menjadi fotografer musisi legendaris U2 dan Metallica. Bono bahkan berkata, ada sesuatu tentang foto Anton Corbijn yang seolah menerawang jiwa. Tetapi ketika dirinya sendiri terekam kamera, terungkaplah figur melankolis yang kesulitan menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Sesuai definisinya sendiri, dirinya tak lebih dari seorang pria yang lebih mengutamakan kepentingannya berkesenian ketimbang keperluan pribadinya.

Dari film inilah saya mengetahui bahwa kecintaan Anton Corbijn akan musik, sedemikian berartinya musik, sampai-sampai membuatnya ingin menjadi bagian dari dunia musik. Semuanya berawal dari sebuah foto yang secara kebetulan ia ambil, hingga kemudian ia menjadikan para musisi ini menjadi subyek fotonya. Dan secara perlahan, muncullah kecintaannya akan fotografi.

Anton Corbijn bisa jadi bukan orang Belanda pertama yang berprofesi sebagai fotografer. Bukan pula fotografer Belanda pertama yang membuat portrait hitam putih, menjadi fotografer musisi maupun sutradaramusic video Belanda pertama. Tapi kecintaannya akan musik, dan dedikasinya pada seni yang melebihi kepentingan pribadinya membuatnya menjadi artist panutan.

Menjadi fotografer/music video director/film director pionir dengan karya seni yang diakui, bukan hanya di Belanda tapi juga di seluruh dunia. Karena semua karyanya, dihasilkan dan dibuat dengan kesungguhan dan cinta. Dari hati.

Referensi


Leave a comment

#508 Elegi untuk Munir, Ode untuk Negeri Tanah Rendah

Oleh Amanatia Junda Solikhah

“Aku harus bersikap tenang walaupun takut, untuk membuat semua orang tidak takut” (Munir, Pejuang HAM)
Munir Said Tholib 1965-2004
Ketenangan itu benar-benar diterapkannya menjelang detik detik kematiannya di ketinggian 40 ribu kaki di atas Rumania, 7 September 2004. Di lantai pesawat, ia ditemukan tak bernyawa oleh awak kabin—yang mengiranya tertidur setelah menahan sakit—dengan telapak tangan membiru dan mulut yang mengeluarkan air liur. Dua jam kemudian ia mendarat di Bandara Schiphol—jika tak ada yang meracuninya—dan perjalanan akan dilanjutkan ke Utrecht University.Kursi untuk studi S2 hukum humaniter sudah menunggunya.

Mengapa Munir berkeinginan menimba ilmu hukum di Belanda?
Saya rasa tidak hanya Utrecht tujuan Munir ke Belanda. Banyak sekali tempat, waktu, dan kesempatan di sana untuknya agar bebas bersuara dan didengar publik internasional mengenai HAM di Indonesia. Saya yakin, salah satu tujuan utamanya adalah Den Haag. Kota yang berada di Belanda Barat ini merupakan markas dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mahkamah Internasional PBB (ICJ).
Sejarah panjang mewarnai keberhasilan Den Haag sebagai Kota Perdamaian dan Hukum Internasional. Pada tahun 1889 diadakan “Konferensi Pertama Den Haag”, yang menghasilkan tiga konvensi dan tiga deklarasi menyangkut ketentuan hukum humaniter internasional. Hal ini mengakibatkan didirikannya “Dewan Arbitrase Internasional” yang juga ada di Den Haag sampai sekarang.
Pengadilan/Mahkamah Internasional (ICJ) merupakan badan kehakiman yang terpenting dalam PBB. Dewan keamanan PBB dapat menyerahkan suatu sengketa hukum kepada mahkamah tersebut. ICJ didirikan pada tahun 1945 oleh Piagam PBB, berfungsi sejak tahun 1946 sebagai pengganti dari Mahkamah Internasional Permanen. Mahkamah ini berfungsi untuk menyelesaikan sengketa antar negara dan kasus kasus internasional.

Seorang jutawan asal AS menyumbang dana sebesar $1.500.000 untuk membangun Vredespaleis. Istana Perdamaian ini dibangun tahun 1907 hingga 1913. Kini International Court of Justice (ICJ) berbagi kastil dengan Akademi Hukum Internasional Den Haag. 

Sebuah pengadilan selanjutnya International Criminal Court (ICC), mulai beroperasi pada tahun 2002 melalui diskusi internasional. Ini adalah pengadilan internasional pertama yang mengadili mereka yang melakukan kejahatan perang dan genosida.

Bangunan baru ICC (International Criminal Court) yang berdiri dengan luas 54.000 meter persegi ini juga menggunakan tanaman sebagai ‘secondary skin’ yang ramah lingkungan dengan biaya sebesar 200 juta euro.

Sejak dulu kala memang Belanda telah dikenal sebagai pelopor dalam bidang hukum. Jauh sebelum Konferensi Pertama Den Haag, Perjanjian Damai Westphalia pada 1648 merupakan peristiwa cikal bakal Hukum Internasional. Dasar-dasar yang diletakkan dalam Perjanjian Westphalia diperteguh lagi dalam Perjanjian Utrech.

Sedangkan di sisi tokoh, Belanda diwakili oleh Hugo Grotius. Ia merupakan filsuf Belanda yang menjadi pionir untuk konsep hukum internasional. Grotius yang jenius—terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Leiden sejak umur sebelas tahun—dijuluki Bapak Hukum Internasional.  

Hugo Grotius (1583-1645)

Saya tidak tahu apakah Munir juga mengidolakan bapak yang satu ini, namun salah satu konsep yang Grotius kenalkan pada masanya dalam masterpieceThe Law of War and Peace, yakni ia berpendapat bahwa manusia dapat hidup dengan damai walaupun terdapat potensi konflik dalam dirinya. Hal itu dapat dicapai dengan cara menghormati hak-hak setiap orang. Well, sepertinya Munir tentu sepakat.
Meski pada akhirnya, Munir tak dapat merasakan indahnya belajar di Belanda, namun kisah hidupnya bukanlah hal remeh untuk publik di Negeri Kincir Angin. Berkali-kali Universitas Utrecht mengadakan diskusi terbuka bertemakan Munir, beberapa NGO yang berfokus pada HAM pun telah memproduksi film dokumenter tentangnya, dan bahkan walikota Den Haag membingkiskan kado untuk ulangtahun Suciwati—istri Munir—berupa nama sebuah jalan, Munirstraat.
Saya rasa banyak cara untuk menolak lupa atas tragedi kematian Munir. Salah satunya adalah mencari tahu motif Munir terbang ke Negeri Tanah Rendah, tempat di mana hukum internasional dijunjung tinggi.


Leave a comment

#506 Belanda Pupuk Budaya Dokumenter

Oleh A.A Gede Ngurah Putra Adnyana

Amerika Serikat boleh berbangga karena memiliki Oscar sebagai ajang penghargaan paling prestisius dalam mengapresiasi industri perfilman dunia. Begitu pula dengan Perancis yang selalu menarik antusiasme para kritikus film dalam perhelatan Festival Film Cannes miliknya. Tak hanya mereka, masih ada festival film kaliber seperti Berlin Film Festival, Venice Film Festival, Sundance Film Festival, atau pun Toronto Film Festival yang turut berkontribusi besar dalam perkembangan perfilman dunia. Seluruh event film sohor tersebut cenderung berangkat dari semangat film-film cerita. Namun Belanda justru melirik hal yang berbeda. Melalui International Documentary Film Festival Amsterdam, Negeri Kincir Angin ini mencetak tebal tentang betapa pentingnya posisi film dokumenter dalam jagat perfilman dunia.

Menilik sejarahnya, film dokumenter justru lahir terlebih dahulu tinimbang film cerita. Orang-orang lebih dulu merekam segala sesuatu peristiwa yang ada di sekelilingnya tanpa mereka sadari bahwa itulah cikal bakal konsep dokumenter berawal. Belanda melihat pentingnya film dokumenter sebagai sebuah arsip sejarah dunia yang melintasi pelbagai lapis peradaban, kemudian mendokumentasikan fakta-fakta menarik di era bersangkutan. Oleh karena itu, International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) diselenggarakan demi menciptakan budaya film dokumenter di tengah-tengah masyarakat dunia.

 

IDFA tergolong festival film dokumenter tertua di dunia yang memulai kiprahnya semenjak tahun 1988. Karya-karya dari sineas dokumenter kondang sepertiWerner Herzog, Kazuo Hara, Robert Kramer, Michael Moore dan Ulrich Seidl pernah ditampilkan dalam perhelatan IDFA. Bahkan Victor Kossakovksy, Sergei Dvortsevoy, Yoav Shamir dan masih banyak sineas muda lainnya lahir dari festival yang telah berusia 25 tahun ini.

IDFA berpegangan terhadap kemasan ‘dokumenter kreatif’, dimana film dokumenter itu sendiri diproses dengan menitikberatkan kreatifitas dalam sinematiknya. Melalui perspektif ini, IDFA pun memburu karya-karya dokumenter yang secara sinematis menarik, inovatif, relevan dan sangat topikal untuk masyarakat luas. Karena bagi IDFA, sebuah film dokumenter harus mampu membuat semacam refleksi dan diskusi di tengah-tengah penontonnya. Untuk itu beragam genre film dokumenter pun dihadirkan, entah itu politik maupun sosial. Uniknya, IDFA bukan sekedar ajang pemutaran film-film dokumenter unggulan, festival ini juga merupakan media pembelajaran. Terdapat sebuah workshop ataumaster class untuk film dokumenter, dimana menghadirkan sineas professional di dalamnya.

 

Serupa dengan festival film pada umumnya, IDFA juga menganugerahi film-film dokumenter terbaik setiap tahunnya yang mengikuti kompetisi mereka. Beberapa penghargaan diperebutkan berdasarkan kategori kompetisi yang diikuti semisal Joris Ivens Competitions untuk film dokumenter berdurasi panjang, Silver Wolf Competition untuk karya terbaik berdurasi tak lebih dari 60 menit, Silver Cub Competition  khusus durasi yang kurang dari 30 menit serta masih ada pula First Appearance, Special jury Award dan IDFA Student Competition. Tak hanya kompetisi, IDFA juga memiliki tiga program khusus seperti The Jan Vrijman Fund yang mendukung proyek film dokumenter para filmmaker di negara-negara berkembang, The FORUM sebagai program co-financing market terbesar di Eropa untuk produksi film dokumenter Internasional serta ada pula Docs for Sale sebagai tempat para distributor film dan sales agents melihat film-film dokumenter terbaik pilihan tahun-tahun sebelumnya.

Tak semata berakhir di perhelatan utamanya, Belanda seolah gemas ingin menebarkan atmosfer ‘aku cinta film dokumenter’ ke seluruh pelosok dunia. Seperti International Documentary Film Festival yang digelar di Indonesia (baru dua kali penyelengaraan) ternyata mendapat dukungan penuh dari IDFA.

Referensi

http://old.rumahfilm.org/kabar/kabar_idfa0.htm
http://documentaries.about.com/od/documentaryfestivals/a/IDFA.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/International_Documentary_Film_Festival_Amsterdam
http://www.flickmagazine.net/feature/1374-international-documentary-film-festival-2012-siap-digelar.html


Leave a comment

#345 Euforia Kebebasan Pers Belanda

Oleh Vassilisa Agata

Dalam peta dunia, Belanda hanya mengisi 0,03% dataran bumi[i]. Bagi dunia internasional, negeri mungil ini tersohor di bidang politik, ekonomi, dan kebebasan pers[ii].

Secara politik, Belanda terlibat sebagai promotor beberapa organisasi internasional, seperti European Economic Community (EEC), European Union (EU), the Benelux Economic Union, NATO, dan OECD. Belanda, dengan pemerintahan monarki konstitusional dan demokrasi parlementer, terkenal dengan kondisi politik dan ekonomi yang stabil. Hal ini didukung dengan keberadaan The Hague, kota pemerintahan terbesar di dunia, yang menjadi rumah bagi beberapa institusi yuridikasi internasional[iii]. Sistem perindustrian Belanda disokong oleh Rotterdam sebagai kota pelabuhan terbesar dan tersibuk di dunia[iv]. Kini, Belanda mengejar visi menjadi negara inovatif di berbagai sektor pembangunan. Lantas, apa yang menjadi kekuatan Belanda sebagai negara maju?

(Radio Netherlands Worldwide, 2011)

Marta Cooper, Editorial Researcher di Index on Cencorship, mengungkapkan, “press freedom is the bedrock of democratic society.”[v] Sebagai negara demokrasi, kebebasan berekspresi dijunjung tinggi di Negeri Kincir Angin. Sejak tahun 2007, Freedom House’s Freedom of the Press menobatkan Belanda sebagai 1 dari 10 di dunia yang menjamin kebebasan pers[vi].

Kebebasan ini diuji ketika revolusi internet memengaruhi pergerakan pers, terutama tahun 2012. Gerakan protes melalui sosial media di Arab, Tunisia, dan Libya membuktikan kekuatan sosial media. Sayangnya, beberapa negara, seperti Korea Utara dan Turki, secara politik dan hukum menekan badan pers, mengakibatkan pemberitaan bias, pengekangan serta pembunuhan terhadap jurnalis. Di tengah gejolak tersebut, Belanda justru menjadi pioneer dalam kebebasan pers. Bertepatan dengan hari Pers Sedunia 2013, Reporters Without Borders menyatakan Belanda sebagai negara kedua di dunia yang menjamin keberadaan pers[vii].

Belanda juga mengalami krisis digitalisasi, ditandai dengan degradasi sirkulasi media cetak termasuk publikasi media gratis. Sebagian besar warga Belanda kini beralih menjadi digital citizen (89,5% aktif di dunia maya), membuat Belanda sebagai negara dengan aktivitas online tertinggi di Eropa. Peluang ini dimanfaatkan oleh Raymond Spanjar, Koen Kam, dan Florist Rost van Tonningen dengan menciptakan sebuah jejaring sosial Belanda, Hyves, pada tahun 2004. Menjelang Mei 2010, Hyves telah mengumpulkan 10,3 juta pengguna, sayangnya, pertumbuhan situs ini tak sebesar Facebook maupun Twitter[viii].

Komitmen Pemerintah Belanda dalam menjaga kebebasan informasi ditunjukkan dalam gerakan Bits of Freedom, sebuah lembaga nirlaba yang dibentuk tahun 2000. Lembaga ini memperjuangkan kebebasan berkomunikasi di dunia digital dan berhasil memprakarsai pengesahan net neutrality law pada tahun 2012. Setelah Chile, Belanda adalah negara kedua di dunia (dan pertama di Eropa) yang memiliki net neutrality. Hukum ini melarang provider internet untuk campur tangan atau menutup server tertentu, kecuali bila ada konten yang membahayakan negara. Selain itu, provider dilarang menarik biaya tambahan dari konsumen untuk aplikasi gratis seperti Skype dan Whatsapp[ix].

Secara kuantitatif, Belanda telah menunjukkan apresiasi tinggi terhadap pers dan mendukung kebebasan informasi. Namun, institusi media di negeri ini belum lepas dari krisis. Digitalisasi menuntut institusi media mengubah penyajian informasi dan membuat strategi bisnis baru. Pengukuhan net neutrality juga masih diperdebatkan di kalangan praktisi media. Kekhawatiran akan budget dan peraturan pemerintah terkait konten, membayangi para pemilik media[x].

Semoga di tengah euforia digital dan inovasi, Belanda tetap mempertahankan kebebasan pers dan informasi sebagai oksigen bagi kemajuan negara.

Referensi

[i] Anon. (n.d.). Countries of  The World by Area. In One World Nations Online. Retrieved from http://www.nationsonline.org/oneworld/countries_by_area.htm.
[ii] Puustinen, L., Thomas, P., Pantti, M. (2008). Mapping Media and Communication Research: The Netherlands. Retrieved fromhttp://www.helsinki.fi/crc/Julkaisut/ReportHolland.pdf
[iii] ibid
[iv] Anon. (2012). Netherlands GDP Growth Rate. In Trading economic. Retrieved from http://www.tradingeconomics.com/netherlands/gdp-growth.
[v] Graham-Dixon, C. (2012). Marta Cooper: Press Freedom is the bedrock of democratic society. In The Journalism Foundation. Retrieved fromhttp://www.thejournalismfoundation.com/2012/05/marta-cooper-press-freedom-is-the-bedrock-of-democratic-society/
[vi] Anon. (2010). Freedom of Expression: Country Studies-Netherlands. InDemocracy Web: Comparative Studies in Freedom. Retrieved fromhttp://www.democracyweb.org/expression/netherlands.php
[vii] 2013 World Press Freedom Index: Dashed hopes after spring. In Reporters Without Borders. Retrieved from http://en.rsf.org/press-freedom-index-2013,1054.html.
[viii] ibid
[ix] van Daalen, O. (2012). Netherlands First Country in Europe with Net NeutralityIn Bits of Freedom. Retrieved fromhttps://www.bof.nl/2012/05/08/netherlands-first-country-in-europe-with-net-neutrality/
[x] de Waal, M. et.al. (2011). Mapping Digital Media (Netherlands). Retrieved from: http://www.opensocietyfoundations.org/sites/default/files/mapping-digital-media-netherlands-20120118.pdf.
Image: Fisher, T. (2011). Dutch Press Review. In Radio Netherlands Worldwide.Retrieved from http://www.rnw.nl/english/article/dutch-press-review-wednesday-26-october-2011-0.


Leave a comment

#305 Inovasi Koran Ala Belanda

Oleh Raisa Amelia

Koran atau yang dalam bahasa Belanda disebut krant adalah suatu penerbitan yang ringan dan biasanya dicetak di kertas koran dengan biaya yang cukup murah. Koran berisi berita-berita terkini dalam berbagai macam topik.  Koran terdiri dari beberapa kolom dan terbit setiap hari atau secara periodik. Ukuran dari koran pun berbeda-beda, tergantung dari kebijakan perusahaan media cetak itu sendiri. Koran menjadi sebuah media yang memiliki peranan penting tidak hanya sebagai media penyebaran informasi ke masyarakat namun juga sebagai media yang menampung opini dan aspirasi dari masyarakat. Walaupun saat ini muncul banyak portal-portal berita atau koran digital, namun tidak membuat eksistensi dari media cetak terlebihnya koran itu surut.
Masih banyak masyarakat yang ‘setia’ dengan koran. Di Belanda misalnya, Koran masih menjadi bacaan wajib bagi masyarakat. Hal tersebut dikarenakan budaya membaca di sana sangat tinggi, terbukti dengan banyaknya perpustakaan umum. Budaya membaca juga terlihat di kereta, bis, dan transportasi umum lainnya. Terlihat banyak orang yang membawa bacaan mereka, entah buku, koran dan media cetak lainnya. Dimanapun, kapanpun, membaca sudah menjadi rutinitas.
Berkaitan dengan budaya membaca khususnya membaca koran di Belanda, lagi-lagi muncul inovasi baru, yakni Koran Vertikal. Koran Vertikal dibuat oleh Telegraaf Media Groep, muncul dikarenakan ketika orang sedang membaca koran kemudian ada orang lain yang melakukan hal yang sama dan duduk bersebelahan. Bila mereka membalikkan lembar koran, maka pasti tangan mereka akan bersentuhan atau tumpang tindih. Mungkin anda pernah mengalami hal tersebut. Terlebih lagi apabila anda duduk berhimpitan dan membuat anda menjadi tidak nyaman membaca.
Media cetak di Negri kincir angin ini peka terhadap masalah yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang. Terciptalah Koran Vertikal, dan masalah ketidaknyamanan tersebut pun teratasi. Peter Bluijs, pihak dari Telegraaf Media Groep memperlihatkan sebuah video bagaimana sulit dan tidak nyamannya orang membaca koran dalam keadaan berhimpitan. Tangan mereka bertindihan dan bersinggungan satu sama lain.
Kemudian ia memperlihatkan pula beberapa orang yang sedang membaca koran, dan ditengah-tengah mereka ada satu orang yang membaca koran vertikal. Benar saja tangan orang tersebut tidak bersinggungan ataupun tumpang tindih dengan tangan yang ada disamping kanan kirinya. Kalau biasanya kita membalikkan lembar pada koran dari kanan ke kiri, tapi koran vertikal justru dari bawah ke atas. fyi, koran ala Belanda ini selain hemat juga efektif lho. Keren!

Referensi 


Leave a comment

#290 Merekam Masa Depan, Merawat Ingatan

Oleh Muhammad Fauzan 

Pasar itu sudah tidak ada lagi. Menara mesjid tinggal satu yang bertahan, yang lainnya sudah roboh. Jalan kini menjadi dua lajur, tidak lagi berlubang dan becek. Pedagang sayur pindah entah ke mana.
Sekolah Dasar tutup, murid tak lagi datang mendaftar. Namun plang “Dilarang Berjualan” masih tetap berdiri tegak.

Lalu siapa yang peduli dengan itu semua? Tentang apa yang berubah dan berlanjut di suatu tempat di Indonesia. Kita mungkin tidak. Tapi KITLV iya.
KITLV atau The Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies adalah sebuah lembaga yang rajin melaksanakan pengumpulan informasi dan riset di negara-negara yang pernah menjadi koloni Belanda, termasuk Indonesia. Di negara-negara Asia Tenggara dan Karibia, KITLV telah melakukan banyak inovasi dalam pengembangan kebudayaan.

Tahun 2003, saat nyaris tak ada yang memikirkan, KITLV menjadi pioner sebuah proyek kebudayaan di Indonesia yang diberi nama Recording The Future (Merekam Masa Depan). Idenya sederhana saja, yakni merekam fragmen keseharian denyut nadi kehidupan masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu.

Bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Offstream Film, KITLV mengupayakan arsip audiovisual masyarakat Indonesia selama Abad 21. Ya, proyek ini memang akan dilaksanakan selama 100 tahun. Seorang videographer akan meletakkan kamera di sejumlah tempat di Indonesia, seperti Jakarta, Ternate, Surabaya, Delanggu (Jawa Tengah), Payakumbuh (Sumatra Barat), Kawal (Bintan), Sintang (Kalimantan Timur), dan Bittuang (Tana Toraja).
Setiap empat tahun, sang videographer akan mengunjungi kembali tempat itu, meletakkan tripod kamera di tempat yang persis sama dan merekam semua perubahan dan keberlanjutan di tempat itu. Rekaman akan berlangsung sejak pukul 5.30 pagi sampai pukul 23.00 malam.

Dengan begitu, semua denyut diharapkan tercatat dan menjadi arsip yang sangat berharga di kemudian hari.

Lexy Junior Rambadeta, pembuat film dokumenter dari Offstream yang merupakan salah satu eksekutor ide Recording The Future ini, menganggap ini adalah teknik baru untuk merawat ingatan.
“Kami merekam orang di jalan yang sedang memperbaiki ban, juga merekam bagaimana cara tukang es berjualan dan lain sebagainya. Jika televisi merekam hal-hal yang penting untuk masyarakat, kami justru merekam hal-hal yang nanti akan dilupakan. Karena dalam bayangan saya, dokumentasi yang kami rekam, akan berguna untuk 300 sampai 400 tahun ke depan. Di tahun 2004, kita merekam di suara-suara yang ada di Jalan Fatmawati, di Jalan Gajah Mada dan tempat-tempat lainnya. Kemudian kita rekam lagi nanti tahun 2008. Lalu pada tahun 2012 kita rekam lagi, begitu seterusnya. Dan pasti ada perbedaan suara yang ditimbulkan pada tahun-tahun tersebut,” kata Lexy dalam sebuah kesempatan wawancara dengan Wimar Witoelar untuk program Perspektif baru di tahun 2005.

Referensi