KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013


Leave a comment

#530 From Dutch for Style to Dutch for Dry

Oleh Evans Poton

1917 menjadi highlight penting dalam sejarah seni rupa ketika sebuah pemicu pergolakan seni modern meledak dari ‘bawah permukaan laut’. Adalah De Stijl atau“Dutch for Style” yaitu aliran yang dicetuskan oleh Theo van Doesburg yang menitik beratkan sajian visual dengan gaya minimalis berupa paduan horisontal, vertikal, warna primer dan hitam-putih.

gambar 1 • De Stijl magazine

tak hanya fenomena di negeri asalnya, namun juga menginspirasi Bauhaus Jerman (sekolah desain pertama pasca PD-I), seni konstruktivisme di Rusia, bahkan imbasnya masih nampak di dunia desain dan arsitektur sampai detik ini.

gambar 2 • beberapa imbas De Stijl dalam dunia pop

Selain Theo v.D dan Piet Mondrian, De Stijl juga melahirkan nama Gerrit Rietveldyang terkenal dengan The Rietveld Chair – sekarang tersimpan di Uthrecht Centraal Musea, bertetangga dengan rumah Miffy (Nintje) tokoh rekaan karya Dick Brunayang juga icon kota Uthrecht.

Dutch Arts & Design tak hanya berhenti disitu. Sejak tahun 1980, frasa kata Dutch Design memiliki tempatnya tersendiri pada kamus dunia seni visual. Dutch Designmeliputi semua Desain (visual, kriya dan produk) yang bersifat minimalis, eksperimental, konseptual, inovatif, quirky dan memiliki humor (witty) seperti kata seorang wartawan Amerika, Tracy Metz: “Dutch own ability to make fun themselves” maka jelas, dari semua desain yang ada di negara itu, entah itu untuk sarana publik dari pemerintah, institusi, urban planning, desain produk, visual campaign, dan environment art, kesemuanya bergaya what NOW had labeled as Dutch Design!

Beberapa contoh Platform desain, produk, dan fashion yang ada di Belanda sekarang ini diakomodir oleh Premsela.org, dan Droog (Dutch for Dry)

gambar 3 • humor dan inovasi dalam produk DROGG

In my assume: khusus untuk desain dari negeri Belanda, arti desain itu sendiri berani diredefenisi menjadi gabungan antara seni dan fungsi dan juga humor.. dan siapa sangka? sewindu belakangan ini, negara industri besar seperti China, Jepang, Amerika, dan Dubai terlibat untuk mengadopsi pakem Dutch Design secara masif.

Psst… Mau tahu rahasia dibalik itu semua?

Kita telah mendengar ini sering kali: Dyke dan Polder sebagai bukti bahwa Belanda ahli dalam artifisial. Lanskap tempat mereka berdiam adalah mega proyek yang mereka ‘desain’ sendiri! Tentunya Belanda selalu berkutat dengan ide gilaThey don’t think outside the box. They tend to think like there’s no box!

Tak hanya itu, filosofi Eksistensialisme dan budaya individualistis sangat diyakini oleh mereka. Berbeda dengan negara Asia kebanyakan dimana: “paku yang menonjol akan dipalu”. Bagi mereka, paku yang menonjol itu akan dikeluarkan, dikembangkan potensinya lalu dipromosikan (budaya kolektif).

There’s never enough space for inventions as there’s always a season of ingenuity; itu yang ada diyakini insan muda Belanda yang kadang menghabiskan waktunya di Café, terkepung oleh ‘aroma toleransi Belanda’ berbaur dengan segarnya Frambozen bierdan terbenam oleh obrolan berjam-jam tanpa rasa bersalah. Tak heran, banyak pemikir dan penemu terkenal di segala bidang lahir dari negeri ini,

Arus industri desain dan seni (kunst) di Belanda, juga tak lepas dari peranan akademik. adanya strong educational system dan government support dimana pemerintah memberikan grants khusus untuk dunia seni dan desain per-tahunnya. itulah yang menyebabkan output dan kualitasnya jauh dari kata mengecewakan; bahkan majalah TIME memberikan predikat “The Best Design School in The World” pada Academy Design of Eindhoven.

Tunggu apa lagi? Ayo bereksperimen dengan idemu di bawah permukaan laut!

Advertisements


Leave a comment

#467 Vlisco, Designed in The Netherlands, Loved in Africa

By Caecilia Kusuma Wardhani

Vlisco is a Dutch brand that manufactures wax fabrics and spreads them over West, Central and Eastern Africa. But the story started in Indonesia, Between 1837 and 1872, Dutch East Indies deployed African soldiers, and stationed them in Indonesia. When some of them came back to Ghana, they brought the colorful fabrics home. There, the fabrics became very popular. It was adapted to the African culture and since then associated with Africa. It became a familiar component of West African culture. Around 1852, Vlisco started exporting batik made in The Netherland and sent to the Dutch East Indies, which is present days known as Indonesia. The Second World War followed by the independence of Indonesia ended the trade of batik. West Africa became the main market of the company and wax the main fabric. Today Vlisco factory and store is located in Helmond, south Netherlands and they have some branch stores in Benin, Democratic Republic of The Congo, Ghana, Ivory Coast, Nigeria, Togo and etc.
The design of Dutch Wax is based on Contemporary African style, that has influenced the fashion landscape in West and Central Africa. Vlisco is still today the only brand creating authentic Dutch wax fabrics and it is recognizable for the unique design, colors and wax effects which, when combined, create this inspiring fashion statement. Every centimeter of fabrics is unique due to the special wax process, which originates from batik techniques. The fabric’s design is embrace long history but yet classic, with limited edition collections that bring exclusivity to the user. The prices that Vlisco propose are quite high for African market, around $100 for 6 yards of fabric. Vlisco has come to dominate an increasing lucrative fashion market in Africa with its distinctive and luxury fabrics.
 
Hans Ouwendijk, CEO of  Vlisco said that 90% of their customers are in Africa. In addition to the growth of African countries, the demand has increased by 40% since 2010. This huge momentum happens when 6 of 10 fastest growing economies in the world are coming from Africa. African countries continue to show the growth of purchase powe
r and consumer power. The western countries today give modern use to this fabric, thanks to Acne, Balenciaga, Marni, Burberry, Dries van Noten, Jean Paul Gaultier, Beyoncé and Gwen Stefani are some of the brands, designers and celebrities who have incorporates and worn it.
 

Woman fashion in Africa has gone Dutch for a very long time. The West African consumer is not interested in a style or item, but can remember and related to the vast complexities that characterize many of the narratives the market woman develop. The West African consumer wants to communicate something about their political views or social status, personal situation, emotional state, etc. and uses their clothes to do so. The next big step in Vlisco’s business development, says Mr. Ouwendijk, is for the company to create its own ready-to-wear collection. It already has begun selling bomber-style jackets and handbags in Vlisco fabrics, recognizing that the younger generation of africa’s luxury consumers are gradually moving away from having dressmakers create custom-made clothing. This is one of the reason they invested in mass media advertising like billboards and prime-time TV commercials.
 
Vlisco ads by Sabine Pieper
For those who can afford to care from The Netherlands to Ghana, Clothes can reveal and reinforce their inspiration. Whether it is fashion or philosophy, it is something woman like and believe in. What is extraordinary is that at the time when African pride and the desire to be recognized is increasing, the Africans are unconsciously investing in the dutch brand. The woman like to compliment the west country with African heritage this core is represent that for woman working the fabric it is did not determine by where the fabrics came from.


Leave a comment

#366 The Netherland = The Next Mother in Pioneering Green Land

Oleh Rahma Nur Adzhani

Akankah ada Green Economy in Green Country di masa depan? Jawabannya adalah ya, untuk Sang Negara Kincir angin.
Tentang Global Warming, Dutch sudah menyadarinya dari awal. Mereka pun selalu menjaga bumi ini tetap hijau dimulai dari menghijaukan negaranya melalui:
Transportasi
Belanda memiliki sepeda per kapita tertinggi di dunia, transportasi sehat-murah-bebas polusi! Pemerintah Belanda menetapkan pajak dan bea parkir yang mahal untuk mobil. Hal ini berhasil menekan penggunaan kendaraan dan menjadikan Belanda sebagai negara modern dengan transportasi perkotaan yang sangat tertata. Strategi yang brilian!
 
Parkiran sepeda pun lebih banyak daripada kendaraan bermotor lainnya
 
Mesin perental sepeda di Belanda, hanya dengan memasukkan koin atau menggesekkan kartu di mesin

Melalui “Formula E Team”, pemerintah Belanda menargetkan 200.000 kendaraan listrik pada tahun 2020, dengan lebih dari 1.000.000 pada tahun 2015.

Masyarakat didorong untuk membeli kendaraan listrik melalui pembebasan pajak pada pembelian dan penggunaan kendaraan listrik. Strategi yang brilian (lagi)!
 
Stasiun pengisian Electrobay pertama di Holland
Kebijakan
Adalah “Green Deal”, suatu langkah-langkah konkret menjadikan lebih banyak energi hijau untuk mencapai ekonomi yang berkelanjutan dengan membantu menghilangkan hambatan dan mempercepat proyek hemat energi atau proyek-proyek berkelanjutan yang sulit.
 
Terdapat lebih dari 50 green deals di tahun 2012
Energi
Belanda dengan visi 2050: Negara akan memiliki sistem energi yang dapat diandalkan dan terjangkau secara berkelanjutan  telah mengurangi emisi CO2 hingga setengahnya dengan menghasilkan sekitar 40% listriknya dari energi terbarukan. Untuk merangsang produksi energi terbarukan, pemerintah telah mengalokasikan dana tahunan 1400000000€ dari 2015, yang merupakan langkah besar untuk mencapai target 2020.

Salah satu proyek hijau terbesar di Belanda adalah produksi bahan bakar hijau Bio-Methanol dari Bio-coal yang lebih environmentally friendly dan murah tentunya.
Berbagai macam sumber Bio-Coal yang dapat dibuat dari bahan baku biomass dan sampah hasil pertanian.
Belanda memiliki keahlian yang terkemuka pada energi angin lepas pantai
Emergya angin Technologies dari Belanda, adalah pemimpin dunia dalam teknologi angin secara langsung.
 
Energi angin lepas pantai menghasilkan listrik untuk ratusan ribu rumah sekaligus mengurangi emisi karbon dioksida oleh lebih dari 300.000 ton

Dutch menjadi ahli dan pemimpin dalam pembakaran ataupun metode pre-treatment biomassa

New Holland Agriculture sebagai pioneer biomassa.
Belanda menempati urutan ke-6 di dunia berkaitan dengan aplikasi paten yang melibatkan panel surya.

 

 

Almere, model internasional untuk perencanaan perkotaan yang berkelanjutan, rumah hemat energi dan partisipasi masyarakat bagi para ahli dari seluruh dunia. penghasil salah satu energi surya yang terbesar di Eropa rumah bagi 7.000 meter persegi bidang panel surya
Teknologi Green Gas/gasifikasi biomassa, telah dipatenkan oleh perusahaan energi Belanda ECN.
Sekitar 10 persen dari gas alam dikonsumsi dapat digantikan oleh biogas pada tahun 2020. 
Belanda adalah pelopor dalam bensin-etanol campuran yang mengandung 15% bio-etanol hydrous dan digunakan dalam mobil bensin normal.

 

hE15 biosuper dengan bio-etanol hydrous, yang pertama di Eropa

Belanda juga telah mempelopori bahan bakar dari urin Yang telah memasok listrik setara 110.000MW di 30.000 rumah atau seluas satu kota kecil.

 

NoMix, untuk memisahkan zat zat yang terkandung di dalam air seni
Smart Grid:
Kota Hoogerk memiliki komunitas smart grid pertama di Eropa: PowerMatching City. Sebanyak 25 tempat tinggal telah hampir terhubung satu sama lain. Dalam setiap tempat tinggal, listrik tidak hanya digunakan tetapi juga dihasilkan.
 
Pondasi dari smart grid
Bangunan
Belanda berkomitmen untuk mengurangi konsumsi energi sebesar 80% di semua bangunan Belanda pada 2050, membangun lebih banyak bangunan hemat energi dan retrofit struktur yang ada untuk penghijauan. Pada tahun 2020, hanya bangunan iklim-netral yang dibangun di Belanda.

Housing Corporation De Woonplaats, telah memenangkan Penghargaan Provinsi Twente Real Estate. Gedung ini ditandai tidak hanya dalam hal efisiensi energi, tetapi juga bentuknya yang bengkok dan melebar keatas.

Belanda dengan bangunan terapung pertama di Eropa, The Citadel. Menggunakan energi 25% lebih sedikit dari sebuah bangunan konvensional.
Apartemen Kompleks Terapung pertama di Eropa dengan penciptanya, Arsitek Koen Olthuis dari water studio Belanda.
Agriculture:
Industri bunga tulip merupakan pendapatan utama bagi perekonomian Belanda dan mejadi pioneer taman bunga tulip di belahan negara lain. Untuk mengatasi emisi hasil penggunaan rumah kaca untuk budidaya bunga sekarang dapat diselesaikan dengan teknologi closed green house.

 
Taman Bunga Tulip di Belanda

Fashion:
Belanda tidak main-main dalam menghijaukan negaranya, buktinya Belanda juga menjadi pelopor “fashion organik”. Adalah Kuyichi, sebuah merek fashion yang berbahan jeans organik.

 

Kuyichi: “I think green is the direction of the future, and it is here to stay”

Belanda percaya untuk mengatasi perubahan iklim memerluan kekuatan aksi gabungan pada tingkat global, nasional dan lokal.
Hari ini Belanda berbagi praktik terbaik kepada dunia dalam perencanaan kota hijau, jaringan logistik untuk mobil listrik, prencanaan angin, dan lain-lain. Bagaimana dengan Indonesia?
Referensi


Leave a comment

#329 Fashion Breakthrough: 3D PRINTED Dress

Oleh Mardyana Ulva

People who work for major designers tell me that they don’t have the time to develop new techniques. I want to give myself this time since nobody else will do it.

(Iris Van Herpen, dalam wawancara untuk Dutch Profile)

Melalui karya-karyanya, Iris van Herpen mendobrak tradisi haute couture yang selama ini menghegemoni. Haute couture yaitu teknik menjahit pakaian secara manual dengan tingkat ketelitian akan detail yang tinggi. Pakaian yang diproduksi juga dibuat agar benar-benar pas di tubuh pemesannya. Nah, berbeda dengan karya desainer papan atas lainnya yang sangat menjunjung craftsmanship mereka, Van Herpen justru menciptakan koleksi busananya lewat teknik pencetakan trimatra (3D printing).

 Pencetakan trimatra merupakan teknologi manufaktur yang memungkinkan kita untuk menghasilkan objek padat dari rancangan tiga dimensi yang kita buat di komputer. Teknologi ini menggantikan kerja tangan dalam menciptakan tekstur dan bentuk atas suatu objek. Desainer asal Belanda ini untuk pertama kalinya menggunakan teknologi pencetakan trimatra untuk untuk koleksi-koleksi adibusananya. Ia optimis bahwa suatu saat kita dapat mencetak sendiri pakaian sehari-hari kita lewat teknologi ini.

 Kecanggihan teknologi memang biasa digunakan dalam pergelaran fashion dunia, tapi yang dilakukan Herpen ialah menjadikan teknologi sebagai karyanya. Keunikan yang dihasilkan dari penggunaan material sintetik serta efek sculptural sukses membuat karyanya diulas di  berbagai media internasional. She has just reinvented forms through her technique!

 

\rofesi ini juga membuatnya berkolaborasi dengan orang-orang dari bidang di luar fashion. Salah satunya dengan koreografer Nanine Linning dalam sebuah produksi pertunjukan opera Madame Butterfly. Ketertarikan Linning terhadap gerak tubuh disempurnakan oleh kostum tari rancangan Van Herpen menciptakan perpaduan yang apik antara gerak dan bentuk. Untuk koleksinya, “Voltage”, di Paris Fashion Week tahun ini, ia bekerja sama dengan seorang arsitek berkebangsaan Austria, Julia Koerner.

 

Dalam koleksi ini Van Herpen juga bekerja sama dengan Materialise untuk mencetak dengan proses Laser Sintering. Pakaian yang dihasilkan dari kerja sama ini juga mengenalkan material terbaru yang ditawarkan Materialise: TPU Strong and Flexible. Jika sebelumnya efek pahatan dihasilkan dari bahan solid, maka kali ini Van Herpen berkreasi dengan material yang lebih lentur.

 

 Setelah melalui proses pencetakan, wadah besar berisi bubuk yang berperan sebagai “kertas” dikeluarkan dari mesin. Hasil cetak yang terdapat di dalam gundukan bubuk itu lalu dikeluarkan untuk dibersihkan dari sisa-sisa bubuk yang masih menempel. Setelah itu baru dilakukan finishing dengan memberinya warna. Well, it is now ready to wear!

Desainer muda lulusan The Artez Institute of Arts di Arnhem ini di tahun 2007 mulai merilis rancangannya lewat brand Iris Van Herpen. Keunikannya tentu terletak pada teknik pembuatannya, serta penggunaan beragam materi kompleks seperti polyamide, akrilik dan bahan sintetis lainnya. Pada bulan Maret sampai awal April lalu karyanya juga dipamerkan di Groninger Museum, Groningen. Puncaknya, di tahun 2011 lalu desainer yang pernah magang di rumah mode Alexander McQueen ini terpilih menjadi anggota Chambre Syndicale de la Haute Couture.

 Dengan menggabungkan teknologi mutakhir dan ide rancangan yang kreatif, keinginannya untuk menginovasi teknik couture tradisional dapat terwujud. Berhasil menembus batasan lewat kemajuan teknologi serta mampu memberi pengaruh baru dalam dunia fashion, she’s definitely a futuristic pioneer!

Referensi

Majalah ELLE Indonesia (April 2013)

Iris Van Herpen Official Site

Wikipedia

Galerie Mondaine

Wearable Stratasys and Materialise 3D printed Dress Hit Paris Fashion Week

Youtube


Leave a comment

#296 Kami Berkarya, Maka Kami Ada

Oleh Septania Wardah Zakiah 

Belanda merupakan gudangnya bibit unggul dalam sektor industri kreatif. Beberapa sektor unggulan dalam industri kreatif di Belanda antara lain arsitektur, desain, media, dan yang paling penting bagi kaum hawa, fashion. Terdapat puluhan fashion designer dari Belanda. Namun, yang paling menonjol di antara yang lain adalah Viktor dan Rolf.

Susah bedainnya -__-

Viktor (kiri) & Rolf (kanan)

“Kalian kembaran ya?”. Mungkin itulah pertanyaan yang sering dilontarkan pada dynamic duo ini. Suatu kesalahan besar apabila kamu juga mengira pria kece ini adalah saudara kembar. Ya, Viktor dan Rolf memang selalu terlihat bersama setiap saat layaknya anak kembar, tapi faktanya mereka tidak memiliki pertalian darah sama sekali. Kebersamaan mereka dimulai ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya saat menempuh studi bidang fashion diArnhem Academy of Art and Design di Belanda. Merasa ada chemistry satu sama lain, keduanya terus menjalin persahabatan hingga lulus kuliah.

Keputusan mereka untuk pindah ke Paris pada tahun 1993 dan membangun karir bersama merupakan keputusan yang tepat. Seolah Dewi Fortuna berpihak kepada mereka, pada tahun yang sama peluncuran koleksi pertamanya, ‘Hyères’, meraih tiga penghargaan sekaligus pada  Salon Europeen des Jeunes Stylistes di Festival International de Mode et de Photographie. Pertunjukan berikutnya yang menampilkan empat koleksi sekaligus yang bertemakan art spaces, menjadi tiket mereka untuk menampilkan koleksi Haute Couture-nya yang pertama kali pada tahun 1998.
    

Sebagai langkah awal kesuksesan, pemilik nama lengkap Viktor Horsting dan Rolf Snoeren ini memilih nama Viktor&Rolf untuk menjadi label pada desain mereka.
    
Pada tahun 2000, Viktor&Rolf beralih ke produk siap-pakai. Tiga tahun kemudian mereka melahirkan merk pakaian khusus pria (menswearMonsieur, yang diperagakan oleh mereka sendiri. Tak hanya pakaian, Viktor&Rolf juga merambah sepatu, aksesori dan parfum.

Viktor dan Rolf memperagakan ‘Monsieur’

 “Apa yang mereka pikirkan?”
Hal itu merupakan pertanyaan lazim yang akan kita lontarkan terhadap desain busana ekstrim yang kita lihat di atas panggung catwalk. Selain terkenal sebagai desainer yang berpengaruh, Viktor dan Rolf juga terkenal dengan pertunjukan panggung catwalk-nya yang teatrikal—misalnya ketika menampilkan gaun tulledengan lubang seperti keju Swiss dan juga baju dengan desain tipografi tiga dimensi.
sepatania2   sepatania
Ini merupakan suatu gebrakan di dunia fashion. Sesuai dengan motto mereka “For us, fashion is an antidote to reality” Viktor dan Rolf berkarya secara out of the box, berani keluar dari garis kewajaran. Berimajinasi melupakan realitas sejenak, yang membuat mereka lebih menonjol dan lain daripada yang lain.
Dengan segala kreativitas dan kerja keras, Viktor dan Rolf mampu memberikan pengaruh positif di dunia fashion. Menghasilkan suatu pencapaian yang menunjukkan eksistensi serta kontribusi mereka pada bidang mode tingkat dunia.
Sekaligus pembuktian pada dunia bahwa Belanda tidak hanya sekadar pencetak petani penggarap tulip dan teknisi kincir angin. Melainkan negara yang melahirkan individu-individu yang memiliki ”rasa” di bidang mode dan desain.
Sekarang, dunia fashion makin diramaikan oleh perancang busana berbakat dari seluruh dunia. Ada Prada dari Italia, Marc Jacobs dari Amerika , Louis Vuitton dari Prancis, Sabyasachi dari India, dan the last but not least Viktor&Rolf dari Belanda.
Menyadur kutipan seorang filsuf Yunani, Descartes, ”aku berpikir, maka aku ada” (cogito ergo sum). Tercipta kutipan yang tepat untuk Viktor dan Rolf :
“Kami berkarya, maka kami ada”.
Referensi


21 Comments

#045 Sinergi Dua Generasi, dari Masalah Jadi Berkah

 Oleh Lasmi Teja Raspati

Lagi-lagi Belanda membuktikan kekuatan yang telah mereka yakini sejak ratusan tahun: mengubah masalah menjadi berkah. Baru-baru ini lahir lagi satu terobosan dari negeri Van Oranje. Bukan dari bidang teknologi, pendidikan, atau arsitektur yang seringkali menjadi pembahasan mengenai prestasi negeri tersebut. Bukan pula tentang budaya bersepedanya yang mengakar. Ya, kali ini kabar datang dari dunia fashion!

Logo Grannys Finest, “designed by the new,
produced by the best”

Berdasarkan website GrannysFinest, sebanyak 2,6 juta penduduk Belanda di atas 65 tahun dilaporkan mengalami kesepian. Jauh dari kata ‘masalah’, kondisi ini justru membuka sudut pandang seorang entrepreneur muda, Niek van Hengel, untuk mengubahnya menjadi terobosan.

Sudah menjadi budaya bangsa Belanda, bahwa setiap individunya dianugerahi jiwa pelopor, sehingga ide-ide kreatif dan inovatif pun tumbuh dengan subur.

“Kami harus mampu menurunkan angka tersebut,” ungkap Niek, dikutip dari The Genteel

Niek van Hengel (kanan) dan Jip Pulles, partnernya dalam menjalankan Grannys Finest

Ada yang pernah mendengar Grannys Finest? Grannys Finest merupakan senior citizen empowerment yang digagas Niek dalam mengolaborasikan fashion dengan gerakan sosial. Di Rotterdam, setiap minggunya puluhan nenek berkumpul untuk merajut. Apa yang mereka rajut bukan sembarang scarf ataupun sweater, melainkan produk high-fashion karya sejumlah desainer muda Belanda. Dua generasi ini dipertemukan berkat ide yang muncul ketika Niek mengunjungi kakeknya di sebuah panti lansia di sudut kota Rotterdam.

Rajutan karya grannys diperagakan model, tampak fashionable dan edgy

Ketika itu Niek melihat seorang nenek sedang asik merajut. Bukan untuk siapa-siapa, “hanya untuk bersenang-senang,” katanya. Ide untuk bersinergi pun terlintas. Ibarat  gayung bersambut, gagasan Niek diterima gembira oleh para nenek, dan voila…lahirlah Grannys Finest yang kini menjadi nama yayasan sekaligus label untuk produk mereka. Betul, produk ini tak hanya fashionable, tetapi juga dibuat dengan penuh cinta seorang nenek, the power of handmade.  

 Menurut Niek, terobosan ini menjadi solusi bagi kedua generasi. Para desainer muda mendapatkan ruang dan eksposur untuk melahirkan karya, sementara para nenek bisa mendapatkan jaringan sosial yang sangat membahagikan bagi mereka. Selain itu, mereka pun mengaku mendapat kepuasan ketika melihat rajutan mereka digunakan, bahkan diperagakan model di sejumlah pagelaran fashion. Tetap produktif di usia lanjut, siapa yang tidak senang?

Kolaborasi dua generasi: granny termuda berusia 62 tahun, dan granny tertua berusia 92 tahun

“Para nenek paham mengenai teknik dan keterampilan merajut, sementara desainer muda paham dengan mode yang sedang jadi tren. Maka, kami saling mengisi,” kata Niek.

Hingga saat ini terdapat tiga desainer muda yang menyumbangkan desainnya untuk kemudian ditindaklanjuti ‘tangan-tangan terampil’ sang nenek. Mereka antara lain, Laurie Collee, Channa Ernstsen, dan Rosanne van Der Meer.

 Sociopreneurship

Uniknya, tak hanya fashion yang ditawarkan project ini, tetapi juga memelopori sebuah gerakan sosial. Untuk itu Niek mengategorikan usahanya ini sebagai sociopreneurship, yakni kewirausahaan berbasis sosial yang dapat menggerakan masyarakat agar berdaya saing global.

Para nenek yang tetap berkarya dan produktif

“Usaha fashion ini harus mampu mengatasi masalah sosial. Dan uang bukanlah satu-satunya hal yang bisa diberikan untuk menghargai mereka,” tegas Niek. Kelompok lanjut usia di Belanda pada umunnya relatif berkecupan, bahkan di antaranya berada di kelompok ekonomi menengah ke atas.

Meski usia Grannys Finest masih seumur jagung, namun niat Niek untuk melebarkan sayap sudah tertanam sejak awal. Dia ingin menghapuskan kesepian di kalangan lanjut usia, tak hanya di Belanda tapi juga di negara lainnya.

Belajar dari Niek dan Belanda, lantas apa yang bisa kita lakukan untuk Indonesia? Yuk, kita jawab bersama! 🙂

Referensi:

http://www.grannysfinest.com/
http://www.thegenteel.com/articles/society/grannys-finest-knitwear
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/video/nenek-belanda-membuat-produk-high-fashion