KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013


2 Comments

#578 Hemat Energi ala Negeri Kincir Angin

Oleh Ikhsan Azhar 

Indonesia dan Masalah BBM-nya

Saat ini, mungkin banyak negara-negara yang sedang bingung soal tingginya harga minyak dunia. Bahkan negara kita sendiri, yaitu Indonesia juga “galau” soal itu. Malah hingga saat ini pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat lagi bingung, apakah harus menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), atau tetap dengan harga sekarang dengan konsekuensi pemerintah harus mengeluarkan anggaran yang cukup besar sebagai subsidi untuk menutupi tingginya harga minyak dunia. Selain itu, kita juga harus pahami bahwa permasalahan BBM itu tidak hanya terkait soal harga yang selalu naik, tapi juga terkait dengan ketersediannya. Perlu kita ketahui, bahwa minyak merupakan salah satu sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Itu artinya, pada waktu tertentu minyak akan habis dan kita perlu sesuatu yang bisa kita gunakan sebagai alternatif pengganti minyak sebagai bahan bakar mobil atau motor, serta juga moda transportasi lain yang bisa dipakai tanpa menggunakan BBM.

Nah, biar kita juga tidak ikut pusing tujuh keliling seperti pemerintah, ini saya coba berikan informasi soal solusi yang dilakukan oleh Belanda untuk mengatasi permasalahan tersebut. Nah, solusi ini mungkin bisa dijadikan sebagai solusi alternatif bagi bangsa kita, agar ke depan kita tidak lagi selalu dipusingkan soal BBM.

Solusi yang Ditawarkan Belanda

Belanda yang merupakan negara yang menjadi negara juara 2 di Piala Dunia 2010 di Jerman ini, lagi mengembangkan temuan baru mereka, yaitu memanfaatkan air seni atau urin sebagai bahan bakar minyak pengganti BBM.

 ikhsan11

Gambar Urin

Peneliti dari Universitas Teknologi Delft dan Lembaga Penelitian DHV yang Mengembangkannya

Selama ini banyak orang yang menganggap bahwa urin hanyalah sisa hasil metabolisme yang terjadi di dalam perut manusia. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi para peneliti yang berasal dari Universitas Teknologi Delft dan lembaga penelitian DHV. Seperti berita yang telah dilansir oleh Radio Nederland, disebutkan bahwa para peneliti tersebut telah mengembangkan teknologi pemanfaatan gas amonia yang terdapat di dalam urin sebagai bahan bakar. Bahkan tidak hanya itu, para peneliti itu juga telah mendaftarkan paten temuannya di Cina, Afrika Selatan, Amerika, dan Eropa.

 ikhsan12

Gambar Peneliti sedang Mengamati Urin

Mengubah Urin Menjadi Sumber Energi Alternatif

  “ Sederhana”, ya kata itulah yang tepat digunakan untuk menggambarkan proses mengubah urin menjadi sumber energi alternatif. Pertama-tama, urin yang mengandung senyawa amonia ini dipanaskan secara perlahan. Setelah proses itu dilakukan, urin akan berubah menjadi gas amonia. Gas tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sel bahan bakar (fuel cell), sejenis generator. Selanjutnya gas yang telah dimasukkan ke dalam sel bahan bakar itu digunakan untuk memproduksi energi listrik. Nah, apabila pasokan urin dijaga agar selalu tersedia, maka energi listrik pun bisa diproduksi terus-menerus.

 ikhsan13

Gambar Komposisi Kandungan Urin

 Seperti yang disebutkan oleh Radio Nederland, bahan bakar urin ini telah memasok energi setara 110 ribu Megawatt di 30 ribu rumah atau seluas satu kota kecil. Jika produksi urin ditingkatkan, maka para peneliti tersebut bisa memprediksi daya yang dipasok adalah 5 kali lipat. Selain digunakan untuk memasak, BBU (bahan bakar urin) juga bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk menggerakkan mobil bertenaga listrik.  Inilah yang menjadi keunggulan dari teknologi ini, yaitu dengan energi yang dikonversi dari angin dan matahari, yang amat bergantung pada kondisi alam.

 Referensi

http://www.thecrowdvoice.com/post/temuan-baru-bahan-bakar-air-seni%C2%A0urin-3637193.html;
http://sorot.news.viva.co.id/news/read/302369-bbm-air-seni.

 

 


Leave a comment

#572 Bio-Coat sebagai Energi pengganti yang ramah lingkungan

Oleh Mokhammad Hilman Fatah

Saat ini banyak dikembangkan teknologi biotek untuk menggantikan bahan bakar konvensional  dikarenakan ketersediaan bahan bakar tersebut yang makin menipis. Pengembangan teknologi biotek tidak hanya sekadar untuk menggantikan bahan bakar yang sudah ada tetapi juga dikembangkan agar bahan bakar penggantinya juga berefek ramah lingkungan. Salah satu teknologi biotek yang saat ini gencar dilakukan pengembangannya ialah teknologi briket bio-coal. Bio-Coal merupakan bahan bakar alami yang diproses melalui proses Torrefaction (pembakaran)  dari bahan-bahan limbah yang kering. Torrefaction dianggap sebagai teknologi untuk membuat bio-mass lebih mudah terbakar.Torrefaction memproses bio-mass yang dipanaskan pada suhu antara 200-300° C dalam ruangan kedap oksigen. Proses ini melepaskan senyawa organik yang mudah menguap dalam bio-mass. Senyawa tersebut berupa gas yang mudah terbakar, sehingga dimanfaatkan untuk proses pengeringan bio-mass. Tentunya proses ini sangat efisien dalam penggunaan energi. Bio-Coal diasumsikan dapat efisien daripada bahan bakar konvensional saat ini.Torrefaction menghasilkan bio-coal berupa bahan bakar padat dengan tingkat kelembaban yang rendah, mudah digiling layaknya batu bara biasa dan diklaim mudah terbakar seperti serbuk kayu. Bio-coal diharapkan dapat mengsubtitusi penggunaan batu bara yang terus mengalami peningkatan signifikan.

Belanda merupakan Negara perintis untuk mengembangkan energi ramah lingkungan ini. Dengan pengembangan bioteknologi ini Pemerintah belanda mengharapkan dapat mengurangi emisi CO2 yang dapat berkurang hingga 50 persen, dan dapat mengakomodasi keperluan listrik di negaranya hingga 40 persen. Belanda tidak main-main untuk mengembangkan bioteknologi yang satu ini. Pemerintah belanda melalui ECN (Energy research Centre of the Netherlands) telah merintis cara inovatif untuk mengkonversi  bio-mass menjadi bio-coal (batu bara daur ulang) dengan Torrefaction. Bahkan seperti yang dilaporkan bahwa pemerintah belanda telah bekerja sama dengan Wood Spirit yang menginvestasikan uang sebesar € 199.000.000 untuk membuat pabrik pengolahan bio-coat di Delfzijl. Projek ini merupakan salah satu projek hijau terbesar yang pernah ada di Belanda dan salah satu penanaman modal yang terbesar dalam industri kimia di negara ini pada tahun-tahun kebelakangan ini. Dengan menggunakan teknologi ini pemerintah belanda dapat menghemat sekitar 25% dari energi keseluruhan yang digunakan di belanda. Sungguh teknologi yang harus dikembangkan oleh Negara lain dengan mengemban efisiensi dan ramah lingkungannya. Tentunya tidak hanya belanda yang menerapkan teknologi ini, Negara-negara maju di eropa ikut mengembangkan teknologi yang dirintisi oleh pemerintah belanda.

Sudah seharusnya dunia berpikir untuk mengembangkan energi pengganti yang lebih efisien dan ramah lingkungan daripada energi konvensional yang saat ini sedang kita gunakan. Ini adalah bahan bakar yang cocok untuk penggunaan komersial dan kebutuhan industri agar mudah untuk mengoperasikan industrinya tanpa merusak lingkungan sekitar. Bio-Coat memiliki karakteristik yang mirip dengan batubara biasa dengan perbedaan penting yaitu lebih ramah lingkungan dan merupakan sumber daya yang terbarukan.


Leave a comment

#567 Dari Belanda, Masa Depan Bagi Dunia

Oleh Meta Mulyani

Air dan kincir angin memang menjadi ciri khas Belanda. Jika orang mengatakan Belanda maka yang pertama kali terbayang adalah kincir angin. Terbukti, Belanda sering kita panggil dengan ‘Negara Kincir Angin’. Namun tahukah kita bahwa pada abad ke-19 Belanda dikategorikan dalam negara yang ‘lamban’ dalam proses industrialisasi jika dibandingkan dengan negara tetangganya, terutama karena ketergantungannya terhadap infrastruktur air dan kekuatan angin. Saat itu Belanda dianggap negara yang terlalu konvensional. Kini Belanda sanggup membuktikan bahwa dunia tidak akan lagi menyepelekan tradisi penggunaan kincir angin dan infrastruktur air.

Kincir angin pada awal keberadaannya di Belanda sekitar abad 13 berfungsi untuk mendorong air ke lautan agar terbentuk daratan baru yang lebih luas (polder). Hal ini mengingat letak dataran Belanda yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut.

Dengan perkembangan teknologi, sekitar abad ke-17 kincir angin digunakan juga sebagai sarana pembantu di bidang pertanian dan industri. Seperti memproduksi kertas, mengasah kayu, mengeluarkan minyak dari biji, dan menggiling jagung. Pada tahun 1973, kincir angin modern atau turbin angin dimanfaatkan oleh Belanda sebagai alat pembangkit energi listrik. Khususnya pascakrisis energi yang sempat melanda dunia pada dasawarsa 1970-an.

Dimotori oleh pakar energi angin, Chris Westra, pada awal tahun 1970-an mereka aktif berpartisipasi mengembangkan sistem energi tenaga angin untuk memasok listrik bagi sekitar 27 ribu rumah tangga di wilayah sekitar Kamperduin. Dalam perkembangannya, kincir angin pembangkit listrik tak hanya di bangun di daerah daratan. Tetapi juga di laut, tepatnya di daerah-daerah lepas pantai.

Belanda merupakan negara yang sangat serius dalam pengelolaan energi. Terutama pengelolaan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Ya, Belanda memang pionernya dalam memanfaatkan apa yang dimilikinya.

Salah satu bukti keseriusan Belanda untuk menjadi pioner pengelolaan energi terbarukan adalah ECN. ECN merupakan kepanjangan dari Energy Research Center of Netherlands. ECN  merupakan salah satu lembaga penelitian tentang energi terbesar di Eropa. ECN sudah mendunia lho.. ECN memiliki kantor di Amsterdam,EindhovenWieringermeerBrussels dan China. ECN meneliti dan menjadi pioner dalam meneliti dan membuat energi baru yang ramah lingkungan. ECN juga melakukan penelitian tentang peluang masa depandal latar belakang ekonomi di bidang energi loh… Semula ECN bernama Reactor Center Netherlands (RCN) yang fokus pada penyebaran energi nuklir yang damai. Namun kemudian Belanda menganggap bahwa energi masa depan tidak hanya bergantung pad nuklir saja. Netherlands is pioneer of peace.

Saat kebanyakan negara di dunia ribut tentang nuklir sebagai energinya, Belanda tenang saja karena Belanda sudah memikirkan teknologi untuk mengoptimalkan energi alternatif malalui ECN. Yup, seperti mottonya ‘Your energy. Our passion’. Energi alternatif ya Belanda lah pionernya.

Selain ECN, Belanda juga punya AEB (Afval Energie Bedrijf). Yeah, Belanda ternyata juga pioner dalam hal pengolahan sampah. AEB merupakan perusahaan terbesar penghasil energi listik berbasis sampah.  Perusahaan tersebut menjadi perusahaan pengolah sampah terbesar di dunia yang mampu menghasilkan energi listrik untuk memenuhi sekitar 320.000 rumah tangga dan listrik seluruh di Amsterdam.

Wow, Belanda memang pioner dalam hal energi alternatif yang ramah lingkungan bagi masa depan. Semoga semua negara di dunia bisa seperti Belanda.

Referensi

http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda
http://listrikindonesia.com/pemanfaatan_energi_angin_di_belanda_belum_optimal_125.htm
http://www.alpensteel.com/article/47-103-energi-angin–wind-turbine–wind-mill/558-perkembangan-energi-angin-belanda-kalah-bersaing-di-darat-.html
http://www.ecn.nl/nl/nieuwsbrief/engels/2013/march/new-strategic-direction-for-ecn-wind-energy/
http://en.wikipedia.org/wiki/Energy_Research_Centre_of_the_Netherlands


Leave a comment

#564 Ke-pioneer-an Belanda di Indonesia

Oleh Vicky Apriandana

Pada pertengahan April 2013 (meski pada akhirnya tulisan ini baru saya buat beberapa jam menjelang deadline kompetiblog tanggal 12 Mei 2013) tidak disengaja saya menemukan link berita tentang kompetisi blog neso Indonesia, sebuah kompetisi menulis tentang Belanda yang bertemakan be a pioneer. Tulisan yang saya buat kali ini adalah mengenai ke-pioneer-an Belanda di Indonesia, tidak begitu sulit untuk menemukan ide dan referensi mengenai tulisan ini, karena memang faktanya ada ikatan peristiwa sejarah antara Indonesia dengan Belanda, lebih dari sebuah ikatan antara negara penjajah dengan negeri yang dijajahnya, melainkan peninggalan sajarah yang menjadi pondasi sebuah eksistensi di masa kini.

Ke-pioneer-an Belanda yang pertama adalah dalam bidang penyediaan listrik melalui pemanfaatan tenaga air, atau yang dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sejarah PLTA di tanah air dimulai sejak tahun 1917, Dientstvoorwaterkraht in Electriciteit sebuah perusahaan negara yang dibentuk untuk melakukan pengembangan kelistrikan dari sumber tenaga air berhasil meresmikan PLTA Pakar di tahun 1906. PLTA di bawah pengelolaan Bandungte Electriciteits Masatsehappij (maskapai listrik bandung) ini menjadi PLTA pertama di Indonesia dengan memanfaatkan aliran air sungai Cikapundung berkapasitas 800 kW. Setelah diambil alih oleh Gemeenschappelijk Electrisch Bedrift Bandoeng en Omstreken (kini menjadi PLN) pada tahun 1920, pemanfaatkan aliran air sungai Cikapundung untuk menghasilkan tenaga listrik diperluas dengan dibangunnya PLTA Bengkok (3.150 kW) dan PLTA Dago (700 kW) pada tahun 1923. Berdasarkan pengalaman saat saya melaksanakan tugas kedinasan ke PLTA Bengkok tahun 2012 lalu, PLTA tersebut masih beroperasi dengan baik dan mampu menyediakan kebutuhan listrik di sekitarnya.

Ke-pioneer-an selanjutnya masih dalam sektor kelistrikan, adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Kamojang yang menjadi saksi bagaimana J.B. Van Dijk, seorang berkebangsaan Belanda yang berhasil menemukan potensi panasbumi di gugusan Gunung Gajah Kamojang Bandung sebesar 300 MW pada tahun 1918. Hingga akhirnya beroperasi Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Kamojang sebagai PLTP pertama di Indonesia pada tahun1982. PLTP menjadi harapan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan listrik negara di masa depan dengan bermodalkan potensi panasbumi Indonesia sebesar 27.357 MW atau sebesar 54.71 % potensi dunia. Selama setahun bertugas di PLTP Kamojang, saya merasakan bagaimana PLTP selain mampu menyediakan kebutuhan listrik, juga ikut menjaga lingkungan dari pemanasan global karena dalam pengoperasiannya tidak melakukan proses pembakaran.

Ke-pioneer-an yang terakhir adalah pengembangan sepak bola Jakarta melalui Voetbalbond Indonesische Jacatra (kini Persija). Alasan mengapa saya memilih isu tersebut lebih karena saya lahir dan besar di Jakarta, sekaligus merasakan bagaimana atmosfir sepak bola melalui Persija mampu menjadi hiburan sekaligus wadah kreatifitas anak-anak Jakarta di tengah pro dan kontra kiprahnya di Ibu kota. Klub Persija kini, awalnya bernama Voetbalbond Indonesische Jacatra yang didirikan pada tahun 1928 oleh pemerintahan Hindia Belanda. Juara Liga Indonesia 2001 yang disegani di belantika sepak bola tanah air tersebut merupakan inisiatif dari Belanda dalam bidang olahraga di Indonesia, sebuah manifestasi sportifitas yang sangat jauh dari aktivitas penjajahan Belanda di Indonesia pada masa itu.

Beberapa ke-pioneer-an yang saya sampaikan di atas sejatinya hanya sebagian kecil ke-pioneer-an bangsa Belanda, yang jika kita lihat dari perspektif masa lalu, masa kini, dan masa depan banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari padanya.

Referensi

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Persija_Jakarta
http://ariefdjo.blogspot.com/2012/01/sejarah-hydropower-plta.html
SITPT.Indonesia Power UBP Kamojang: http://192.168.104.34/intranet/?page=profhistory


Leave a comment

#529 Sang Pembaharu Energi

Oleh Charisma Ika Safitri

Pemanasan global merupakan isu yang sudah lama marak diperbincangkan di seluruh penjuru dunia. Salah satu pemicunya adalah karena produksi gas CO2 yang berlebihan di bumi atau yang lebih kita kenal dengan sebutan efek rumah kaca. Penyumbang CO2 di bumi, 2/3 berasal dari sektor industri yang sebagian besar negara-negara di dunia masih menggunakan energi fosil sebagai sumbernya, yaitu minyak bumi, gas alam, batu bara, panas bumi, dll.

Belanda, sebuah negara yang dikenal maju dalam sektor industri petrokimia berupaya untuk menekan produksi CO2 bumi dengan menerapkan sistem CCS (Carbon Capture Storage). Sistem tersebut diimplementasikan dalam “Crust Project”, yaitu dengan menginjeksikan gas CO2 ke dalam permukaan bumi untuk meningkatkan produksi minyak bumi. Seperti yang kita ketahui bahwa minyak bumi merupakan salah satu sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Tetapi Belanda dengan teknologi tersebut mencoba untuk memperbaharui minyak bumi dengan memanfaatkan gas CO2. Suatu teknik yang boleh dibilang “sekali medayung, dua tiga pulau terlampaui”, karena selain dapat memperbaharui minyak bumi secara otomatis dapat langsung mengurangi jumlah gas CO2 di atmosfer.

Tidak berhenti di situ saja, Belanja juga megoptimalkan energi-energi terbarukan sebagai alternatif lain sumber energi, melalui biomassa yang murah dan ramah lingkungan. Belanda telah berhasil mengembangkan pembangkit listrik bersumber biomassa kotoran ayam. Menakjubkan karena tenaga listrik yang dihasilkan kotoran ayam tersebut mampu menerangi 90000 rumah. Pembangkit listrik tenaga biomassa terbesar di dunia itu terletak di Moerdijk, dekat Rotterdam dengan produksi listrik sebesar 270 kWH per tahun. Di Indonesia pun sudah mulai dilakukan penelitian dan pengembangan biomassa dari kotoran ayam.

Lagi, sebuah energi terbarukan yang dimanfaatkan Belanda untuk mengurangi emisi gas buang, yaitu angin. Kincir angin yang awalnya hanya berfungsi untuk mengatur aliran air, mulai tahun 1973 sudah dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik dengan mengubahnya menjadi kincir angin modern atau turbin. Empat kincir angin pertama yang dibangun di lepas pantai, di desa Kinderdijk berkapasitas 1 megawatt. Namun, beberapa tahun belakangan, jumlah listrik yang berasal dari energi angin menyusut sampai 13%. Kondisi angin yang kecepatannya berkurang disinyalir menjadi penyebab turunnya kapasitas listrik.

Selain energi angin, beberapa energi alternatif lain juga terus dikembangkan di negeri Ratu Beatrix itu. Salah satunya adalah sistem pembangkit listrik tenaga sampah. Di Belanda, Afval Energie Bedrijf menjadi perusahaan terbesar penghasil energi listrik berbasis sampah. Kini, perusahaan tersebut menjadi perusahaan pengolah sampah terbesar di dunia yang mampu menghasilkan energi listrik untuk memenuhi sekitar 320.000 rumah tangga dan listrik seluruh di Amsterdam.

Dan kali ini Indonesia memalui Pertamina sedang menjalankan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi dengan kapasitas sekitar 120 megawatt (MW). Selain di Bekasi, PLTSa mulai dikembangkan di Riau yang rencananya akan berkekuatan 20 megawatt dengan menggunakan bahan sampah 500 ton per harinya di pembuangan sampah Muara Fajar. Dengan adanya PLTSa tersebut, pemerintah provinsi Riau menyatakan bahwa akhir tahun 2013 masyarakat Pekan baru ditargetkan sudah dapat menikmati listrik hasil sampah di Pembuangan Muara Fajar.

Dan kesimpulannya, Belanda adalah sebuah inspirasi yang wajib dicontoh di seluruh negara di dunia, khususnya Indonesia, yaitu untuk selalu berinovasi memanfaatkan energi terbarukan dan peduli terhadap bumi.

Referensi 

http://www.indofiles.web.id/showthread.php?t=84778
http://geoligence.wordpress.com/tag/carbon-capture-and-storage/
http://www.agussuwasono.com/artikel/iptek/84-tahi-ayam-menerangi-90000-rumah.html
http://listrikindonesia.com/pemanfaatan_energi_angin_di_belanda_belum_optimal_125.htm
http://riautelevisi.com/home/berita/daerah/kota-pekanbaru/item/631-akhir-tahun-warga-pekanbaru-nikmati-listrik-tenaga-sampah
http://pulsatokenlistrik.com/2012/10/ada-pembangkit-listrik-tenaga-sampah/


Leave a comment

#487 Belanda, Sang Pionir Energi Baru dan Terbarukan Dunia

Oleh Iin Parlina

Nampaknya judul artikel ini tidak berlebihan. Telah banyak fakta bertebaran yang menggambarkan betapa majunya Negara seluas 33,893 km2 dengan penduduk berjumlah 0.26% penduduk dunia dalam hal penguasaan teknologi energI terbarukan. Dengan segala keterbatasnnya (kondisi geografis, dll), Belanda mampu mengoptimalkan sumber energy terbarukan yang sangat beragam yang mampu menyuplai 2.4% dari total energi yang ada (2005). Dan tak hanya berkiprah untuk diri sendiri, Belanda  menjadi pionir dan menebarkan teknologi yang dimilikinya ke seluruh penjuru dunia, membantu beban bumi dalam mengatasi isu energy dan perubahan iklim.

 

Prestasi Belanda dalam kemajuan teknologi energy terbarukan di kancah internasional sangat memukau, selain mendapatkan peringkat ke-4 dalam aplikasi paten untuk energy sel surya, Belanda juga mendapatkan peringkat ke-6 dalam aplikasi paten terkait pembangkit energy listrik berkelanjutan. Lihat saja karya nyatanya yang berupa pulau sel surya yang disebut dengan “Solar Island Almere” dengan luas lahan sel surya sebesar 6,900 m2 yang mampu memenuhi 10% dari total kebutuhan energy 2700 rumah dan beberapa fasilitas lokal yang ada sekitar area pulau.

Selain itu, inovasi Belanda yang mampu mengubah panel surya menjadi setipis kertas bernama Helianthos, membuat energy ini memperbesar kesempatan aplikasinya.

 

Bukti yang lain adalah kendaraan berbahan bakar tenaga matahari,Nuna yang dibangun oleh mahasiswa dari TU Delft dan dijalankanThe Dutch Nuon Solar Team yang berhasil memenangkan lomba balap sebanyak 4 kali di Australia pada World Solar Challenge 2009.

 

Teknologi pembangkit energy angin Belanda juga sangat maju. Sampai tahun 2007, telah ada 2 area besar untuk memanen energy angin di laut. Tak hanya di laut, Belanda juga mengembangkan turbin angin yang sesuai dengan daerah perkotaan yang rapat dengan gedung perkantoran.

 

Ide keren lain lagi adalah pemanfaatan rumah kaca yang selama ini hanya berfungsi untuk sektor pertanian. Belanda tidak hanya akan menjadi Belanda, jika konsep rumah kaca yang selama ini ada, tidak berubah. Belanda berhasil menjalankan program pembangkit listrik dari rumah-rumah kaca yang ada di sana. Rumah-rumah kaca ini tak hanya memperkuat sektor pertanian Belanda, tapi juga mendulang energi yang bisa digunakan untuk pertanian itu sendiri.

Kreatifitas dan daya inovasi di bidang energy yang membawa Belanda bisa maju melangkah jauh dibandingkan Negara-negara lainnya. Misalnya pemikiran mengenai pemanfaatan energi gerak yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menari untuk dikonversi menjadi energy listrik oleh sebuah alat bernama Sustainable Dance Floor. Alat ini diperkirakan mampu mengkonversi energi sebesar 8 milyar joule. Lantai dansa ini didesain dengan menggunakan generator kecil yang dipasang pada ubin yang akan terstimulus dengan tekanan yang ditimbulkan oleh gerakan kaki di atasnya. Lantai ini akan tertekan sejauh 10 mm ketika lantai diinjak. Tekanan kecil ini akan membangkitkan modul generator yang kemudian menghasilkan 35 watt/modul.

Bagi Belanda, laut tidak hanya bisa dijadikan sebagai arena dan lahan pembangkit listrik tenaga angin oleh turbin-turbin modern, sumber energi ombak dan pasang surut, tapi Belanda juga berhasil menjadikannya sebagai sumber energy terbarukan dari alga menjadi biofuel telah berhasil mensuplai bahan bakar bagi armada pesawat terbang Belanda KLM dan jenis teknologi baru yang disebut “blue energy” dengan menggunakan teknologi Reverse-Electrodialysis (RED), mereka mampu memanen energi dari pencampuran antara air laut dan air tawar. Keren bukan???


Leave a comment

#484 Ketika Energi Fosil Perlahan Menjadi “Fosil” (2)

Oleh Irsyad

Hanya karena Pionir selalu berada di depan bukan, berarti kita harus melihatnya dari sisi tampak depannya saja. Ada berbagai sisi yang memberi arti kepada kita tentang eksistensi pionir sebagai sebuah entitas yang unik dan berbeda. Masih dalam konteks Belanda dalam mempionir energi alternatif, sekarang mari kita mencoba melihat sisi lain tentang bagaimana proses “memfosilkan” pikiran dan praktek pemenuhan kebutuhan energi melalui sumber energi fosil.

trias energitica

Bagan diatas disebut sebagai tria energitica[1]. Sesuai dengan konsep trias, tiga aspek tersebut saling berkaitan satu sama lain untuk kemudian menghasilkan efisiensi energi yang cukup menjanjikan hasilnya. Tentu, secara sederhana kita dapat memahami tiga aspek tesebut. Namun trias energitica bukan sekedar frase yang tak mempunyai konten, melainkan didalamnya terdapat berbagai kerumitan proses tentang mencapai tujuan efisiensi energi.

Salah satu hal yang menjadi dampak serius tentang mengapa kita harus beralih dari sumber energi fosil adalah dampak negatif terhadap lingkungan dan perubahan iklim tentunya. Poin sentral terhadap isu ini adalah bagaimana kita mampu mengelola CO2 yang dihasilkan dari pembakaran hingga pada akhirnya mampu secara bertahap mereduksi efeknya secara keseluruhan.

Beralih ke konteks yang sedikit lebih tekhnis, maka dalam hal ini kita membicarakan bahwa proses untuk nantinya sampai pada hasil reduksi CO2, maka ada tahapan-tahapan yang berada dalam sebuah sistem yang tentunya telah dibangun melalui riset yang matang.

               CO2 Capture

Bagan diatas adalah penjelasan tekhnis dalam konteks manajemen CO2. Mulai dari proses sebelum pembakaran ataupun setelah pembakaran, CO2 yang di-capture pada akhirnya mampu mereduksi efek negatif CO2 terhadap lingkungan secara universal. Tentu, banyak istilah yang sangat berbau tekhnis dalam bagan diatas, namun untuk mempermudah pemahaman kita terhadap proses ini, video-video animasi berikut mungkin bisa membantu pemahaman kita terhadap inovasi ini.

                Video 1 : The Hard Facts

RTEmagicC_zepshot1_01.PNG

               Video 2 : Safe Storage

RTEmagicC_zepshot3_01.PNG

Video 3 : Post Combustion CO2 Capture

RTEmagicC_CO2animation04.PNG

Presentasi-presentasi sederhana yang diberikan diatas adalah fakta bahwa Belanda sangat-sangat ingin memberikan semacam positive campaign terhadap dunia secara keseluruhan bahwa ada inovasi yang sangat menjanjikan dalam pemenuhan energi namun tidak meninggalkan kepedulian kita terhadap lingkungan, iklim ataupun bumi secara universal.

Adanya akses informasi yang sangat terbuka terhadap hal ini semakin memperkuat bahwa Belanda layak dikatakan sebagai Pionir sekaligus sponsor terhadap penyeimbangan kebutuhan manusia akan energi yang yang lebih baik, namun tak meninggalkan tanggung jawabnya terhadap bumi yang telah kita eksplorasi habis-habisan selama ini.

Tentu masih banyak sisi lain yang bisa digali dalam konteks Belanda sebagai pionir energi terbarukan beserta relasinya dengan lingkungan. Namun satu hal yang pasti adalah dengan adanya inovasi energi yang telah dilakukan oleh masyarakat Belanda yang juga didukung penuh oleh kebijakan politiknya, tampaknya cukup “menampar” kita semua yang masih belum puas mencari sumur-sumur minyak dan menggali secara habis-habisan tambang batubara tanpa sedikitpun menggali potensi lain akan adanya sumber energi terbarukan.

Belanda telah eksis sebagai bangsa yang mempionir pemenuhan kebutuhan energi melalui sumber energi terbarukan untuk kemudian anak cucu mereka masih bisa “bernafas” di masa depan, dan memberikan kontribusi terhadap lingkungan tentunya. Jika kita masih bersikeras untuk tidak “melek” akan pentingnya inovasi sumber energi terbarukan dengan hanya bisa menggali dan menggali sumur minyak, maka kita sangat layak disebut sebagai “manusia primitif” yang mungkin juga patut “difosilkan” dalam dasar kerak bumi!