KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013


Leave a comment

#491 How the Netherlands Keep People’s Feet Dry

Oleh Asma Amaliah

Bagaimana Belanda menjaga kaki rakyatnya agar tetap kering.
Satu kalimat yang cukup menggambarkan betapa perhatiannya pemerintah Belanda dan para scientist-nya dalam melihat situasi dan kondisi Negara mereka.

(map belanda berdasarkan level air laut sumber : http://www.rnw.nl )

Belanda dan spirit. Belanda dan air. Belanda dan desain konstruksi. Tidak akan pernah habis untuk kita bahas. Tidak akan pernah cukup untuk ditelisik betapa giat dan kreatifnya The Dutch untuk hidup nyaman padahal kita tahu sendiri bahwa wilayah Negara Belanda sepertiganya berada dibawah permukaan air laut, yang dimana banjir sewaktu-waktu dapat mengintai mereka. Keadaan topografi yang kurang mendukung inilah yang menjadi awal bangsa Belanda memutar otak lebih cepat dan bergerak lebih cepat. Tak heran jika di Belanda tidak akan ditemukan orang yang jalannya lambat.

Berakit-rakit ke hulu bersenang-senang kemudian, bersakit-sakit dahulu, hidup makmur kemudian
Kalimat ini sangat cocok untuk bangsa Belanda. Apa yang Bangsa Belanda rasakan saat ini adalah sebuah pencapaian atas kerja keras dan semangat yang tinggi untuk penghidupan yang lebih baik. Bukan hanya sekedar penghidupan yang lebih baik, namun kesuksesan dan kemakmuran yang dituai. Itulah mengapa bangsa Belanda sangat menghormati para pendahulunya yang berjuang membangun Belanda sehingga Negara Belanda menjadi apa yang seperti kita lihat saat ini. Tapi eiittss…..tidak hanya menghormati saja, di jaman modern sekarang ini bangsa Belanda masih tetap menjadi Pioneer di berbagai bidang. Pioneer born The Pioneer.

While God Created the Earth, Dutch Created the Netherland

Sejak  abad ke-16, bangsa Belanda sibuk mengeringkan danau dan rawa. Sehingga pada tahun 1612 Belanda telah berhasil mengeringkan Beemsteryang pada saat itu merupakan danau besar. Beemster dikeringkan dengan menggunakan teknologi Kincir Angin yang saat itu orang lain pun tidak akan pernah berpikir untuk mengeringkan sebuah danau besar dengan Kincir Angin. And… tadaaaa…. Their Citizen’s Feet Dry.  Bangsa Belanda membentuk daratan mereka sendiri.
Namun, musibah besar melanda Belanda pada Januari tahun 1953, air bah menghantam daratan Zeeland menewaskan lebih dari 1800 orang. Hal ini yang kemudian menjadi cikal bakal megaproyek Delta Works.

(kondisi banjir tahun 1953, http://www.digitaljournal.com )


( Peta megaproyek Delta Works http://www.deltawerken.com )

Proyek Delta Works ini meliputi pembangunan bendungan, tanggul danstorm surge barriers. Dalam Delta Works dibangun sejumlah barriersbarriersyang paling terkenal adalah Maeslantkering yang pengerjaannya baru selesai tahun 1997.
             (Maeslantkering  http://www.quieroalgodiferente.com)
Selain itu, Dutch Pioneering juga mengembangkan : wind power sebagai energi yang dapat diperbaharui, eco floating house dan sistem tata kelola air, dimana sistem tata kelola air ini juga diterapkan oleh masyarakat itu sendiri dengan menerapkan sistem resapan air melalui swale/wadi maupun infiltration tank.

Kepeloporan The Dutch dalam sistem tata kelola air membuat Pemerintah Amerika Serikat menandatangani sejumlah kerjasama dengan Belanda. Salah satunya dengan membangun Delta Plan II di Califonia. Belanda dan California memiliki masalah yang sama, yaitu daratan yang rendah yang rentan terhadap banjir sehingga solusi yang dibangun adalah dengan Room for The River.

(California Delta Bay http://www.mwdh2o.com )

Selain California, masih banyak lagi Negara yang menerapkan sistem tata kelola air milik Belanda. Ini membuktikan bahwa Belanda adalah pelopor sistem tata kelola air yang terbaik. Tidak hanya membuat kaki rakyatnya tetap kering, namun bangsa Belanda juga membuat kaki rakyat Negara lain juga merasakan hal yang sama.
Pioneer born The Pioneer. Pioneer for theirselves and for the others
Advertisements


Leave a comment

#476 Kotak P3K Milik Belanda

Oleh Nadya Putri Saraswati

“Prevention is better than cure” – English Proverbs.

(Mencegah lebih baik daripada mengobati – Pepatah Inggris)

Tanpa disadari, kita seringkali meremehkan hal-hal kecil. Menunggu menjadi besar, baru kemudian kepanikan menjalar. Justru masalah kecil bisa berdampak besar bagi kita. Hal inilah yang menjadi latar belakang Belanda bergegas menyiapkan kotak P3K untuk mencegah hal-hal buruk terjadi. Apa saja isi kotak P3K Belanda?

yang pertama adalah Pengalaman. Pengalaman sejatinya adalah guru yang paling berharga dan Belanda memperoleh banyak ilmu dari pengalaman itu. Koninkrijk der Nederlanden atau the Netherlands merupakan Negara dengan kontur tanah yang 2/3 wilayah daratannya berada di bawah permukaan laut. Hal ini yang menyebabkan Belanda tak jemu-jemu harus berurusan dengan masalah yang sama; air. Inilah pengalaman pahit yang menimpa Belanda di tahun 1953[1]. Banjir bandang yang terjadi dalam satu malam. Banjir nasional ini telah menewaskan setidaknya 1850 orang serta ribuan tempat tinggal hancur. Hingga yang terparah, dua desa bahkan hilang dari peta. Traumatik besar yang membuat Belanda tidak tinggal diam. Dari Pengalaman mengerikan ini kemudian lahirlahyang kedua yaitu Pemikiran. Belanda berfikir keras bagaimana ‘menolak’ bencana alam yang dahsyat itu datang lagi menghampiri.

When you repeat a mistake, it is not a mistake anymore: it is a decision. – Paulo Coelho

(Ketika kamu mengulangi kesalahan, itu tidak lagi menjadi kesalahan: itu adalah pilihan. – Paulo Coelho)

Tidak ada yang bisa melawan kekuatan alam, dan Belanda memutuskan untuk bersahabat dengannya. Pemikiran Belanda tertuang dalam ide kreatif nan inovatif yang akhirnya mampu membuat Belanda bangkit melawan sumber masalah mereka. Belanda membangun sistem pertahanan banjir yang lebih besar. Proyek ini dikenal dengan nama proyek Delta (Deltaworks).[2] Sebuah proyek yang dengan serius dilakoni Belanda demi melindungi masyarakat dari bencana alam yang dapat kapan saja memporak-porandakan negeri kincir angin tersebut. Bendungan dan tanggul ini digadang-gadang memiliki konstruksi paling rumit yang pernah ada. Tak heran jika akhirnya Deltaworks masuk dalam tujuh keajaiban dunia menurut kelompok insinyur sipil Amerika.

Langkah selanjutnya dan menjadi P yang terakhir adalah Persiapan. Tidak butuh waktu lama bagi Belanda untuk bangkit dari keterpurukan. Selang lima tahun, terbentuklah konstruksi pertama yaitu Hollandse Ijssel di sebelah Barat dan disusul oleh 13 bendungan lainnya yang selesai dalam 39 tahun.

Dengan adanya Deltaworks, lengkap sudah kotak P3K Belanda. Karena K = Kabulkan!Deltaworks adalah satu bukti keseriusan Belanda dalam menghadapi masalah. Untuk masalah air Belanda-lah pelopornya. Buah keberhasilan Belanda menaklukan air mendapat apresiasi besar dari berbagai belahan dunia. Lihat saja bagaimana The New York Economic Development Corporation (NY EDC) ‘berilmu’[3] dengan Belanda untuk mencengah terjadinya resiko banjir di dataran rendah Manhattan karena naiknya permukaan laut dan perubahan iklim akibat pemanasan global. Deltaworks juga menjadi magnet bagi para turis. Dengan tujuan mengenang sejarah, dibangunlah museum bernama Watersnoodmuseum[4] pada tahun 2001. Museum ini berisi cerita tentang bagaimana Belanda menaklukan air di masa lalu, masa kini dan masa depan.

Berkat turis-turis ini Belanda berhasil menduduki peringkat ke-13 di dunia menurutlaporan Travel and Tourism Competitiveness 2013.[5] Mereka juga yang menjadi alasan Bandara Schiphol didaulat sebagai bandara terbaik di Eropa menurut Skytrax World Airport Awards[6]

Pengalaman, Pemikiran, Persiapan dan Kabulkan! telah menjadi kunci kesuksesan Belanda. Ayo lengkapi kotak P3K kita agar bisa menjadi pelopor seperti Belanda!

Referensi

[1]http://www.geheugenvannederland.nl/?/en/collecties/de_watersnoodramp_gefotografeerd

[2] http://www.deltawerken.com

[3] http://www.hollandtrade.com/media/news/?bstnum=5231

[4] http://www.watersnoodmuseum.nl

[5] http://www.weforum.org/issues/travel-and-tourism-competitiveness

[6] http://www.worldairportawards.com


Leave a comment

#452 To Make Lemonade out of Lemons: Sebuah Pelajaran dari Negara Raja Willem-Alexander

Oleh Nella Fitri Maya Juwita

Belanda, ya itulah negara sang raja. Negara yang terkenal dengan hamparan bunga tulipnya nan indah adalah negara dataran rendah dimana seperempat dari negara tersebut berada di bawah permukaan laut (bpl). Titik terendahnya mencapai 6.76 meter bpl sedangkan titik tertinggi hanya 323 meter di atas permukaan laut. Dari fakta di atas, tak dapat disangkal bahwa air merupakan momok menakutkan bagi Belanda. Namun bukan Belanda namanya kalau menyerah pada keadaan. Dengan perjuangan tak kenal lelah, ia berhasil menaklukkan kekurangannya dan lebih fenomenal lagi, ia mampu menunggangi kekurangan tersebut hingga menjadikannya negara pionir.

Image

Semua berawal dari bencana banjir yang mengakibatkan Belanda kehilangan area yang luas pada abad ke-9 hingga abad ke-13. Untuk mengatasi bencana ini, dilakukanlah reklamasi terhadap lahan gambut di bagian barat negara tersebut yang berhasil mengurangi level ketinggian air. Namun sebaliknya, hal tersebut juga mengakibatkan penurunan tanah di bagian polder yang berakibat semakin rentannya wilayah tersebut terhadap banjir. Untuk mengatasinya, dibangunlah bendungan di sekitar lahan gambut dan di wilayah polder yang padat penduduk tersebut serta mulai diperkenalkannya kincir angin pada tahun 1250 hingga 1600.

Berbekal mental pekerja keras, tak kenal lelah dan selalu dinaungi rasa ingin tahu yang tinggi, bangsa Belanda terus berusaha menemukan cara terbaik untuk menaklukkan kekurangannya. Pada abad ke-17, dengan kemampuan teknologi yang semakin meningkat, Belanda berhasil melakukan pengeringan terhadap danau Haarlem seluas 18.000 hektar yang salah satu bagiannya menjadi tempat berdirinya bandara Schipol sekarang ini.

Image

Peta sebelum direklamasinya danau Haarlem (Haarlemmermeer)

Image

Pemandangan kota Haarlem (yang tadinya danau) di masa kini

Tidak berhenti sampai disitu saja, proyek pembangunan tanggul skala besar (Afsluitdijk) dimulai pada abad ke-20. Tujuan dari mega proyek ini adalah untuk menutup pintu terbuka Belanda yang langsung menghadap ke laut utara.

Image

Proses pengerjaan Afsluitdijk

Image

Afsluitdijk di Belanda

Namun dengan segala upaya yang telah dikerahkan, air (lagi-lagi) kembali menguji Belanda. Pada tahun 1953 terjadi banjir bandang yang merenggut nyawa 1800 warganya.

Image

Suasana pasca banjir tahun 1953

Putus kah asa Belanda? Tidak, teman. Mereka malah muncul dengan ide yang lebih brilian yang menghantarkannya sebagai negara dataran rendah pertama yang berhasil menaklukkan air. Ya, Belanda menjadi pionir karena air melalui proyekdeltaworks-nya. Deltaworks merupakan proyek proteksi banjir terbesar di dunia yang mulai dirintis oleh Belanda pada tahun 1953. Melalui proyek deltaworks ini, Belanda berhasil membangun 13 bendungan raksasa yang memakan waktu selama 30 tahun. Keberhasilan Belanda dalam proyek deltaworks tidak hanya diakui dinegaranya saja, namun juga di dunia. Hal ini terbukti dengan masuknya deltaworksdalam seven wonders of the modern world.

Image

Peta posisi delta

Image

Penampakan beberapa delta di berbagai tempat

Sudah selesaikah perjuangan Belanda? Belum, teman. Terkait dengan perubahan iklim global, pada tahun 2006 yang lalu Belanda kembali menelurkan pemikiran out-of-the-box nya dalam mengatasi banjir. Alih-alih memisahkan air dengan daratan, kini Belanda memberikan ruang lebih bagi air melalui pelebaran beberapa sungai. Proyek yang membutuhkan dana sebesar €2.3 juta ini diharapkan selesai pada tahun 2015.

Image

Sungai Rhine yang terlihat dari udara: salah satu sungai

yang dalam konsep memberikan ruang lebih pada air akan diperlebar

Itulah Belanda. Negara yang tak pernah lelah berjuang menghadapi kekurangan yang ada. Melihat perjuangannya, aku teringat pada sepenggal firman Allah SWT yang berbunyi:

Sesungguhnya Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka.”

Sungguh Belanda telah membuktikannya. Dengan perjuangan tanpa mengenal lelah akhirnya ia mampu mengubah nasibnya dari negara kerajaan tanah rendah langganan banjir menjadi negara terdepan penakluk sang banjir.

Image

Referensi

Delta Works Flood Protection, Rhine-Meuse-Scheldt Delta, Netherlands. Diakses melalui http://water-technology.net/projects/delta-works-flood-netherlands/
History of Water Management. Diakses melaluihttp://www.ruimtevoorderivier.nl/meta-navigatie/english/history-of-watermanagement/
Made in Holland. Solution for a Changing World.The Netherlands: Worldwide Partner for Water. Diakses melalui www.hollandtrade.com
Pioneering Water. Royal Netherlands Embassy.
Room for the River: Making room for the Dutch approach. Diakses melaluiwww.ruimtevoorderivier.nl
The Disaster of the 1953 Flood. Diakses melaluihttp://www.floodsite.net/juniorfloodsite/en/student/thingstoknow/hydrology/1953flood.html
10 Fakta Menarik Belanda. Diakses melaluihttp://olahraga.plasa.msn.com/football/euro-2012/features/10-fakta-menarik-belanda
Referensi Gambar
http://www.nationsonline.org/maps/netherlands_map.jpg
https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/graphics/flags/large/nl-lgflag.gif
http://25.media.tumblr.com/4abe00891e4baeb2e91657b681f0508f/tumblr_mhcmqsAXZP1s3i8zbo1_500.jpg
http://www.ricksteves.com/images/ben/haar_grote-markt.jpg
https://cdn4.gbot.me/photos/DM/qc/1305070941/Netherlands___Nov_27__013-Haarlem-20000000001581875-500×375.jpg
http://cdn.eupedia.com/images/content/haarlem-2.jpg
http://imagene.youropi.com/haarlem%28p:city,haarlem%29%28c:0%29.jpg
http://www.112sudwestfryslan.nl/wp-content/uploads/2011/01/afsluit.jpg
http://www.huubmous.nl/wordpress/wp-content/uploads/2007/03/afsluitdijk-afb1.jpg
http://www.autoevolution.com/news-image/afsluitdijk-cruising-over-water-11817-3.html
http://www.autoevolution.com/news-image/afsluitdijk-cruising-over-water-11817-4.html
http://davidmixner.typepad.com/.a/6a00d8341c90b153ef017ee4e632f1970d-pi
http://www.wired.com/images/article/magazine/1701/ff_dutch_delta_flood.jpg
http://www.deltawerken.com/modules/mediagallery/images/maps/dammen.jpg
http://images2-telegraaf.nl/multimedia/archive/00756/deltawerken_756512a.jpg
http://www.cityguiderotterdam.com/uploads/pics/deltawerken_01.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-xM0SDyDuwxI/TrTvtyKqvBI/AAAAAAAAAOg/tL2IPAEJB4U/s1600/198Delta.jpg
http://www.water.mottmac.com/waterprojects/?mode=type&id=403689
http://yabbedoo.files.wordpress.com/2011/04/tulipsfieldsinholland6.jpg
http://knowinglyundersold.files.wordpress.com/2010/07/lemonsylemonade.jpg
http://thrive.blogs.petaluma360.com/files/2010/05/Lemonade.jpg
http://www.esacademic.com/pictures/eswiki/51/300px-Netherlands_Afsluitdijk.jpg


Leave a comment

#440 Kreativitasnya yang luar biasa ditengah keterbatasannya

Oleh Shabrina Eka Pitasari Putri 

Dutch pioneer. Ya, jika ditanya mengenai Dutch Pioneer, maka tanpa ragu saya akan menyatakan kekaguman saya terhadap ide-ide kreatif para ilmuan Belanda yang mempelopori solusi-solusi yang menakjubkan untuk mengatasi keterbatasan Negara Bendungan tersebut. Beberapa diantaranya adalah cara-cara unik mereka membangun negeri yang sangat diminati wisatawan untuk dikunjungi. Ya, memang sangat unik.

Sebagaimana yang kita ketahui, hampir separuh dari negara Belanda berada kurang satu meter dari permukaan laut. Permukaan tertingginya hanya 321 meter di permukaan laut, yaitu propinsi Limburg, yang berada di bagian tenggara negeri Belanda. Sedangkan, permukaan terendahnya yaitu daerah bernama Nieuwerkerk aan den Ijssel berada berada 6.76 dibawah permukaan laut.
 
Banjir besar dan lautan badai yang berulang kali menerpa mendorong negara Tulip ini pantang menyerah pada keadaan. Penduduk negeri Tulip pun ‘dipaksa’ berkreasi untuk dapat bertahan di negaranya sendiri. Untuk bertahan dari terjangan air maka dibuatlah bendungan-bendungan untuk menahan air yang mengelilingi tanah Belanda. Ya, bagaikan ‘menguras dan mengeringkan  air laut’, danau-danau yang ada di Negara Tulip tersebut dikeringkan, polder (tanah reklamasi) dibangun, dan ketinggian air dikontrol. Sampai pada akhirnya pembangunan bendungan berujung pada pembangunan Afsluitdijk.
Afsluitdijk adalah salah satu mahakarya modern Belanda, dimana  satu keping bendungan yang membentang sepanjang 32 km lurus-lempeng, dengan lebar 90 m, seolah seperti garis yang membelah lautan. Dengan ketinggian 7,25 meter dari permukaan laut, di atas bendungan tersebut terbentang jalan bebas hambatan dan jalur khusus untuk sepeda. Sungguh suatu proyek yang mengagumkan. Mengubah negeri bawah laut tersebut menjadi negeri yang kokoh berdiri hingga saat ini. Pada monumen bendungan Afsluitdijk tertulis: “Bangsa yang hidup, membangun masa depannya”. Dari kalimat tersebut dapat tercermin gigihnya perjuangan para penggagasnya.
Tidak puas sampai disitu, Negara Oranye ini membangun tanggul penahan gelombang laut yang lebih besar dan rumit dari Afsluitdijk untuk memperkokoh negaranya. Tanggul ini diberi nama Delta Works. Perencanaan tata ruang dan konstruksi difokuskan pada pemisahan air dan dataran. Dengan tembok setinggi 13 meter dari permukaan laut, sistem ini diyakini mampu menahan badai besar yang terjadi di Belanda.
Dengan total panjang 16.500 km, yang terdiri dari 2.420 km bendungan utama dan 14.080 km bendungan sekunder, jumlah totalnya adalah 300 struktur raksasa. Tentu tidak diragukan lagi Afsluitdijk dan Delta Works, dua mahakarya tersebut kini dipercaya menjadi salah satu keajaiban konstruksi raksasa di dunia modern ini.
Tidak cukup dengan bendungan untuk melawan banjir, Belanda kini juga menjadi pelpor dalam mengembangkan rumah amfibi yang dapat mengapung di atas air ketika terjadi banjir. Rumah amfibi atau dutch floating eco-homes ini sangat efisien sebagai solusi mengatasi banjir mengingat keterbatasan lahan yang dimiliki.
Kreativitas dan inovasi yang dimiliki oleh bangsa Belanda tidak muncul secara tiba-tiba, namun karena didukung oleh sistem pendidikan yang dirancang secara sistematis dan berkualitas tinggi. Tidak semata-semata hanya untuk memperoleh ilmu tetapi berfungsi juga untuk menanamkan budaya inovasi dan kreativitas untuk menghadapi tantangan global.
Inilah yang saya sukai dari negeri Bendungan ini. Meskipun Negara kecil, tetapi memiliki pengaruh yang kuat karena kualitas SDM nya yang luar biasa. Seperti pepatah di sini, kecil-kecil cabe rawit J.
Referensi

http://www.emfajar.net/featured/rahasia-belanda-mengubah-keterbatasan-menjadi-kreativitas/


42 Comments

#390 Flevoland, Kawasan yang Dibangun dari Sebuah Impian

Oleh Pinashti Sakanti

Belanda, atau Nederland, adalah sebuah negara yang terletak di bagian barat Eropa yang berdiri di atas wilayah dengan permukaan tanah yang sangat rendah. Sekitar seperempat wilayah Belanda berada di bawah permukaan laut. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya permukaan air dan mengakibatkan terjadinya ancaman banjir saat badai menerjang. Hebatnya, negara ini mampu bertahan walaupun tidak didukung oleh kondisi alam yang menguntungkan. Hal ini mendorong Belanda untuk membuat sejumlah terobosan baru untuk mencegah terjadinya peristiwa banjir yang kerap melanda negeri itu. Salah satu terobosan yang berhasil dilakukan dan mendapat pengakuan dunia adalah di bidang reklamasi bibir pantai. Keberhasilan ini ditandai dengan lahirnya sebuah provinsi baru yang diberi nama Flevoland.

Dr. Cornelis Lely

Flevoland adalah sebuah provinsi yang berdiri di atas lahan hasil reklamasi. Hal ini dapat terwujud berkat gagasan dan kerja keras seorang insinyur sipil Belanda bernama Cornelis Lely untuk menyelamatkan penduduk dari banjir akibat badai yang selalu menerpa teluk di wilayah itu. Lely membuat ide membendung laut dengan membangun sebuah bendungan panjang yang akan menutup Zuiderzee (Laut Selatan) dan mengubahnya menjadi danau serta membangun empat polder di danau yang akan dikeringkan untuk digunakan sebagai lahan pertanian. Namun, tidak semua orang setuju dengan ide tersebut. Nelayan di sepanjang Zuiderzee khawatir proyek tersebut akan menghilangkan mata pencaharian mereka. Sementara tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa proyek tersebut dapat meningkatkan permukaan air di wilayah lain yang berada di sepanjang pantai. Pemerintah juga merasa terbebani dengan biaya yang dibutuhkan untuk proyek tersebut. Padahal tujuan dari proyek reklamasi Lely adalah untuk membangun sistem perlindungan terhadap ancaman banjir, meningkatkan sistem pengelolaan air, membangun jaringan transportasi cepat antara wilayah barat, utara, dan timur Belanda, serta memperluas lahan pertanian dan membuka lapangan kerja baru.

Karena tidak mengindahkan usulan Lely, pada tahun 1916 beberapa tanggul di sepanjang Zuiderzee akhirnya jebol dan mengakibatkan terjadinya banjir besar. Bencana ini membuka mata banyak pihak yang akhirnya memberikan dukungan terhadap gagasan yang dibuat oleh Lely. Pada tanggal 14 Juni 1918, Undang-Undang Zuiderzee akhirnya disahkan dan proyek ini secara resmi dimulai. Dibutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk menyelesaikan proyek tersebut. Sedikit demi sedikit wilayah laut berubah menjadi daratan luas. Pada tanggal 1 Januari 1986, lahirlah provinsi kedua belas Belanda yang juga merupakan provinsi pertama dalam sejarah yang terbentuk dari hasil reklamasi, Flevoland.
Untuk menghormati jasa Cornelis Lely, ibukota Flevoland diberi nama Lelystad. Sebuah monumen juga dibangun untuk menghormati dirinya di tempat dimana tanggul ditutup yang dilengkapi dengan tulisan, “A nation that lives, builds on its future” yang berarti “Bangsa yang mampu bertahan, membangun masa depannya”. Penduduk setempat hingga kini terus bekerja keras untuk membangun masa depan Flevoland.
 
Lelystad, Flevoland
Impian Dr. Lely untuk membendung dan menguras air laut yang semula dianggap oleh banyak orang sebagai upaya yang mustahil, akhirnya menjadi kenyataan meskipun pengerjaannya memerlukan waktu yang cukup lama. Ide jenius Cornelis Lely telah menjadikan Belanda sebagai pionir di bidang reklamasi dan pengelolaan wilayah perairan. Cornelis Lely akan terus dikenang dalam hati setiap warga Belanda. Bermimpilah seperti Cornelis Lely, karena sebagaimana dikatakan Eleanor Roosevelt, “The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.”
Referensi


Leave a comment

#348 Berlian suatu Bencana

Oleh Monalisa Pertiwi Siregar

“What doesn’t kill you makes you stronger”
Lirik ini mungkin sering kita dengar tapi kayanya susah deh dinalarin ‘sesuatu yang ga membunuh akan membuat kita kuat”..??!?
Kemudian saya membaca mengenai sebuah pemukiman cantik di Negara Belanda, Giethoorn namanya (Pernah dengar?? Saya juga baru denger :D). Nah pertanyaan, apa yang membuat tempat ini spesial dibandingkan daerah lain (dan nyambung dengan lirik sebelumnya)? Begini ceritanya.
 
Giethoorn tampak dari atas
Giethoorn adalah sebuah desa di provinsi Overijssel, sekitar 5 km barat daya Steenwijk. Nama Giethoorn sendiri digunakan karena dahulu didaerah tersebut ditemukan banyak tanduk kambing liar yang tewas karena banjir. Oleh buronan Mediterani (yang dulunya datang dan menetap disana) daerah tersebut disebut ‘Geytenhorn’ atau tanduk-kambing, kemudian setelah bertahun-tahun berubah  menjadi Giethoorn.  Giethoorn kemudian terkenal karena disebut-sebut sebagai desa-bebas-polusi atau “Venesia dari Utara”.
“Loh Venesia ko di Belanda? Bukannya di Itali??” *bingung*
 
Belanda diterjang badai besar

Sejarah mencatat banjir besar pernah melanda Belanda pada 19 November 1421.  Banjir tersebut disebabkan karena badai besar di dekat pantai laut utara yang menyebabkan tanggul-tanggul rusak dan membajiri sebagian besar wilayah. Tercatat 71 orang hilang dan kurang lebih 2000 – 10.000 orang menjadi korban (terluka dan meninggal). Banjir ini meninggalkan kerusakan hebat di Zeeland dan Holand (Bahkan banjir ini mendapat peringkat kesepuluh banjir terburuk di Belanda, Fyi).

Lalu sisa yang ditinggalkan oleh bencana tsb adalah luapan air yang menggenangi rumah dan lingkungan. Alih-alih memperbaiki daerah tersebut (seperti sebelumnya), pemerintah setempat  mendapat gagasan untuk membuat suatu konsep baru dari kerusakan yang ditinggalkan. Mereka kemudian membangun pulau-pulau kecil yang untuk saling berhubungan akan menggunakan jembatan atau perahu kecil. Jadi mereka bisa tinggal seperti di pulau pribadi dimana perahu dapat diparkir di halaman depan (How cool is that…).
 
Giethorn di musim panas dan musim dingin
Konsep awal pembangunan Giethoorn adalah sebagai kota dengan jalur air. Jadi untuk transportasi maupun pengangkutan barang/ kebutuhan masyarakat harus dengan berjalan kaki atau menggunakan perahu kecil. Kendaraan umumnyapun menggunakanperahu (yang seperti bus) dan menggunakan mesin yang tidak berisik sehingga disebut perahu berbisik.
 
Sarana transportasi di Giethoorn
Coba deh bayangin kalau setelah banjir sebelumnya pemerintah setempat memilih untuk memperbaiki wilayah seperti semula, pasti Giethoorn tidak akan pernah ada dan menjadi salah satu desa apung di Belanda. Mungkin Giethoorn akan menjadi kota indah di Belanda yang hampir sama dengan wilayah lainnya, tanpa keistimewaan yang menonjol. Bener ga?
Tapi yang membuat saya kagum akan Belanda adalah Giethoorn merupakan hasil dari sebuah bencana. Desa ini tidak hadir dari faktor geografis yang mendukung, sepertikawasan apung lainnya.Tetapi karena Belanda bisa melihat potensi dari hal yang hampir “membunuh” mereka.
Nah, Indonesiakan baru-baru ini mengalami bencana banjir besar tuh dan beberapa masalah lainnya, keliatannya harus belajar dari Belanda untuk dapat mengubah kegagalan menjadi potensi besar. Caranya seperti apa, saya belum tau. Tapi mulai hari ini mari belajar bersama. Belanda saja bisa, Indonesia pasti juga bisa. Semangat Indonesia! ^^

Referensi
http://www.berani.co.id/news/22/1008154/1004440/Wisata%20Kanal%20Venesia%20Ada%20di%20Belanda?/23
http://www.zwaantje.nl/uk.giethoorn.html
http://news.citydirectory.co.id/polhuk/berita/Desa-Giethoorn-Venesia-Ala-Belanda
http://en.wikipedia.org/wiki/St._Elizabeth%27s_flood_%281421%29


Leave a comment

#335 Superhero Abad 21

Oleh Erwinton Simatupang 

Bumi sedang dalam bahaya. Penyebabnya apalagi kalo bukan perubahan iklim, yang menjadi musuh besar dan berpotensi mengancam peradaban manusia abad ini. Semua negara, tanpa terkecuali, telah “diserang” berbagai dampak dari perubahan iklim, sebut saja seperti musim kering yang berkepanjangan, peningkatan frekuensi cuaca ekstrim, banjir, serta naiknya permukaan air laut merupakan sebagian kecil permasalahan yang timbul dari perubahan iklim. Perubahan ini ternyata erat kaitannya dengan air. Kenapa? Karena dampak perubahan iklim akan dirasakan melalui air.[1]

Sumber foto : http://www.america.gov/multimedia/photogallery.html#/14900/water/
Terkait usaha mengatasi masalah tersebut, ternyata bangsa Belanda layak disematkan julukan superheroabad 21. Berlebihan? Rasanya tidak. Pengalaman Belanda sebagai bangsa  pelopor yang mampu beradaptasi dengan air, akhirnya menempatkan Belanda menjadi bangsa di garis terdepan guna “melawan” dan mengatasi dampak perubahan iklim dalam percaturan global.

Sebagai contoh misalnya pencegahan banjir di Ho Chi Minh, Vietnam, yang menempatkan bangsa Belanda sebagai bagian problem solving, dengan menggabungkan sebuah lingkaran bendungan kecil di sekitar pusat kota dan daerah-daerah terpencil yang berpotensi banjir. Metode ini juga berdampak terhadap biaya pengeluaran menjadi lebih efisien tanpa mengurangi substansi kegunaannya.[2]

Sumber foto : http://www.dutchwatersector.com/news/wp-content/uploads/2013/03/dws-rhdhv-ho-chi-minh-flood-map-525px.jpg

Tidak hanya itu, guna melakukan pengolahan air limbah di Ninh Thuan, salah satu daerah termiskin dan terkering di Vietnam, keahlian bangsa Belanda masih begitu kental terasa.[3]

 

Sumber foto : http://royalhaskoningdhv.com/CMSGlobalFiles/SiteFiles/c1/c1d933e1-daeb-4405-a2d6-b5fd55c1552e.jpg

Keahlian Belanda mengenai air juga membantu Bolivia dalam menyusun sebuah sistem alarm yang bereaksi terhadap banjir. Harapannya, masyarakat mampu mendeteksi banjir lebih dini sehingga tindakan preventif dapat dilakukan.[4]

Banjir yang melanda Bolivia

Sumber foto : http://www.dutchwatersector.com/news/wp-content/uploads/2012/09/dws-wibo-flood-trinidad-2008.jpg

Belanda juga membantu Bolivia dalam pengembangan sistem air minum baru yang terhubung langsung dengan sumber air minum di La Paz.[5]

Sumber foto : http://www.dutchwatersector.com/news/wp-content/uploads/2012/10/dws-vei-la-paz-drinking-water-supply-525px.jpg

Mau bukti lagi? Mari beralih ke belahan bumi lainnya, tepatnya di Republik Maladewa. Semenjak tsunami memporak-porandakan sebagian besar Pulau Vilushufi, para ahli Belanda-lah yang membuat ukuran pulau tersebut menjadi empat kali lebih besar dari ukuran sebelumnya. Perlahan tapi pasti, Vilushufi kembali beroperasi dengan adanya pembangunan pelabuhan baru serta sistem prediksi terhadap serangan tsunami, yang masih hasil tangan para ahli Belanda. Kini, Vilushufi dinyatakan sebagai ‘safeisland’  oleh pemerintah Maladewa.[6]

Sumber foto :  http://www.boskalis.com/about-us/projects/project-overview/project/vilufushi-dredging-reclamation-reconstruction-and-environmental-monitoring-works.html

Itu-mah cuman 3 negara, belum mencakup secara global? Mungkin teman-teman berpikiran begitu. Ini dia saya suguhkan secara highlight negara-negara lain, seperti Kamerun, Rumania, Cina, Mesir, Italia bahkan Amerika Serikat juga membutuhkan peran bangsa Belanda di bidang perairan. Di Kamerun ada pengembangan industri Pelabuhan Kribi, kemudian ada small scale solutions di Rumania, wastewater reuseserta eco cities di Cina, sustainable irrigation di Mesir, strategi menghadapi angin topan di Venice, perlindungan menghadapi badai Katrina di New Orleans, pengintegrasian manajemen sumber air di Florida, serta penyediaan air bersih di Mozambik.

Bahkan, di Indonesia sendiri, peran bangsa Belanda tidak bisa kita lepaskan dalam upaya pengembangan lahan di Teluk Jakarta.[7]Pengolahan air bersih serta pengentasan polusi di berbagai sungai Jakarta juga belum jauh-jauh tuh dari peran bangsa Belanda.

Sumber foto : http://royalhaskoningdhv.com/CMSGlobalFiles/SiteFiles/bd/bd1ee075-82cf-47a1-80fc-4f9c916e00b4.jpg

Nah, dari penjelasan panjang di atas, coba kita bayangkan bagaimana jika seandainya bangsa Belanda tidak ada? Layaknya sebuah cerita fiksi yang kehilangan superheronya, bukan tidak mungkin masyarakat dunia akan kucar-kacir menghadapi musuh terbesar abad ini, apalagi kalo bukan perubahan iklim. Oleh karena itu,ungkapan The Netherlands is a small country that thinks big sangat layak ditujukan bagi Belanda.

Referensi

[1]http://www.america.gov/multimedia/photogallery.html#/14900/water/