KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013


Leave a comment

#400 When intelligence meets humanity

Oleh Nabila Rizka Herdiani

Duh dari judulnya saja udah bikin pusing ya?

Hahaha..nggak perlu pusing-pusing kok! Disini bakal dibahas tentang dunia pendidikan lhoo…

When  intelligence meets humanity adalah satukalimat sederhana yang mungkin bisa menyeimbangkan antara otak kanan dan kiriseorang anak.

Sejak1815, Belanda sudah mempunyai sistem pendidikan yang baik dan berkembang terus.Pendidikan di Belanda adalah salah satu sistem pendidikan dengan reputasi bagusdi Internasional. Ijazah pendidikan diBelanda sangat dihargai di mata duniaTidak mengherankan jika Belanda adalah salah satu ‘pemberi’ banyak ilmuwan bagi dunia.Banyak ilmuwan dari Belanda yang mendapatkan nobel dalam bidang kemanusiaan danpengetahuannya.

Tetapi kepintaran bukan hanya didapat dari segi otak kiri saja. Tetapi juga dari otakkanan manusia. Kecerdasan tidak ada artinya jika kita tidak dapatmenyeimbangkan kecerdasan emosional.

Selama ini sasaran seseorang dalam mengenyam dunia pendidikan hanyalah untukmendapatkan pekerjaan dan tidak ada segi kemanusiaan. Mengapa kita tidakmembuat sesuatu yang kaku menjadi lebih luwes? Dunia pendidikan di Belanda  mengajarkan setiap muridnya untuk menjadi profesional. Yang artinya pendidikan tidak hanya berhenti jika sudah selesai dengan satu tingkatan, pendidikan berlaku dan bersifat forever. Yang artinya pendidikan bersifat kekal. Dalam daftar Top 50 Life SciencesUniversities dari Times Higher Education, Wageningen University and Research Centre serta Utrecht University menempati peringkat ke-17 dan ke-30. Secara umum, sistem pendidikan di Belanda  dapat dikategorikan sebagai berikut :

·        Pendidikan Tingkat Dasar dan lanjutan(Primary and Secondary Education)

·        Pendidikan Tingkat Menengah Kejuruan(Senior Secondary Vocational Education and Training)

·        Pendidikan Tingkat Tinggi (HigherEducation)

o  Beberapa Tingkatan Pendidikan Lanjutan

VMBO(Program 4 tahun) Senior Secondary Vocational and Training

HAVO(5 tahun) dan VWO (6 tahun) merupakan pendidikan selektif. Dua tahun terakhirdi HAVO/ 3 tahun terakhir di VWO merupakan tahun penjurusan untuk memilihbidang pilihan mereka

o  Pendidikan Tingkat Menengah Kejuruan(Senior Secondary Vocational Educational and Training) (MBO) – 4 tahun

Memilikibebrapa jurusan, yakni ekonomi, teknik, kesehatan, perawatan diri,kesejahteraan dan pertanian. Program MBO diberikan dalam 4 tingkatan (1-4tahun) dan hanya lulusan dari tingkatan 4 MBO saja yang bisa memiliki akses keHBO (Hogeschool)

o  Pendidikan Tingkat Tinggi (HigherEducation)

HBO(Hogeschool/Universities of Profesional Education)

WO(Research Universities)

Pendidikandi Belanda akan lebih kaya dan berwarna jika ditambah unsur esensi humanity. Apa itu?

Yupp!Benar! Kita bisa menerapkan sistem Brainand Humanity. Yaitu dengan:

·        Senin-Jumat dengan berdiskusi, dan kelaspelajaran dengan metode siswa aktif.

·        Sabtu-minggu dengan kegiatan kemanusiaandan pelajaran mengenai kecerdasan emosional dan kegiatan kemasyarakatan sepertiguru membuat penyuluhan agar SARA tidak terjadi di lingkungan pendidikan, dan kriminalitas antar pelajar tidak terjadi, cara menghormati antar sesama dan meningkatkan kepedulian antar sesama umat beragama atau sesama manusia

Dengan 1000 lebih program pendidikan internasional yang ditawarkan di Belanda, membuka kesempatan bagi pelajar dari seluruh negara untuk datang dan belajar di negeri kanal ini. Maka tak ayal, bila SumberDaya Manusia Belanda lebih unggul daripada Bangsa yang lain. Mereka sudah mempersiapkan tujuan (proses pembentukan manusia unggul) secara matang dalamproses pembelajaran sedari dini.

Solusi Brain and Humanity ini tentunya dapatmenjadi pionir dan mengurangi degradasi pendidikan. Falsafah ini berlaku bagimereka :

                         Smart+Passion + Purpose +Good system = success

Referensi

http://handinisuwarno.wordpress.com/2012/04/30/sistem-pendidikan-di-belanda/
http://adibudiyulianto.blogspot.com/2012/04/liarnya-pendidikan-belanda.html
http://maulanusantara.wordpress.com/2011/07/28/sistem-pendidikan-belanda/

Advertisements


Leave a comment

#399 Dutchs: Apakah Mereka Terlahir Sebagai Pionir?

Oleh Nor Khalim

Orang- orang dari negeri kincir angin ini tidak pernah berhenti membuat dunia berdecak kagum pada mereka. Berbagai penemuan di berbagai lintas bidang menempatkan negeri tempat kelahiran Desiderius Erasmus ini sebagai  salah satu Negara yang paling inovatif di dunia. Jika kita membuka buku sejarah, maka kita akan menemukan sepenggal kisah tentang keberanian bangsa belanda pada abad ke 16 yang melakukan ekspedisi pelayaran “The East” guna menemukan jalan menuju Negara penghasil rempah- rempah di Asia. Alhasil, salah satu dari tiga kapal yang berpartisipasi dalam ekspedisi ini kembali ke Belanda dengan membawa rute perdagangan baru ke Negara penghasil rempah- rempah.
Di sisi lain, ketika kita membaca katalog yang berisi daftar seniman yang tersohor sepanjang masa, tentu kita akan menemukan nama Rembrandt dan Van Gogh tertulis dengan tinta emas disana. Kedua pelukis beda generasi ini berasal dari negeri yang terkenal dengan keindahan bunga tulipnya, Belanda. Rembrandt merupakan seorang  pelukis hebat yang lahir di awal abad 17 dengan ”The Night Watch” sebagai masterpiece-nya. Ia juga merupakan sebuah ikon dari remarkable cultural boom pada era tersebut. Hampir dua abad berselang setelah kematian Rembrandt, lahirlah seorang pionir dari modern artist Vincent Van Gogh pada tahun 1853. Bukan hanya lukisanya saja yang dikagumi oleh orang-orang di berbagai penjuru dunia, kisah hidup Van Gogh juga menarik perhatian. Van Gogh seringkali menggambar pemandangan dan dirinya sendiri dikarenakan tidak memiliki cukup uang untuk membayar model, salah satu karya terbaiknya adalah “The Potato Eaters” yang menceritakan sisi gelap dari kehidupan sebuah keluarga petani. Karya- karya Van Gogh masih mendapat apresiasi yang tinggi hingga kini, hal ini terbukti dengan museum Van Gogh di Amsterdam yang tak pernah sepi dari para pengunjung.
Darah pionir tampaknya terus diwarisi oleh orang Belanda dari leluhurnya hingga kini. Tak terhitung lagi banyaknya penemuan baru dan  ide- ide kreatif yang ditelurkan oleh orang- orang Belanda. Salah satu tokoh dari Belanda yang pada saat ini mendunia karena karyanya adalah Rem Koolhaas. Arsitek ternama dari Belanda ini bernama lengkap Remment Lucas Koolhaas, ia lahir di Rotterdam pada tahun 1994. Ia bukan hanya seorang arsitek yang handal, namun juga seorang professor di Graduate School of Design of Harvard University dan seorang architectural theorist, salah satu karyanya yang terkenal yakni Delirious of New York. Koolhaas bersama parternya memelopori berdirinya Officer for Metropolitan Architecture atau OMA yang bermarkas di Rotterdam. Bersama OMA, ia mendesign berbagai bangunan yang terbilang unik dan memiliki karakter tersendiri.
Ketika kota Seattle akan membangun sebuah perpustakaan baru, melalui OMA Koolhaas mengirimkan sebuah design yang bisa dibilang spektakuler. Ia mendesign sebuah gedung dengan tumpukan dinding yang menganjur keluar penahan balkon dengan dihiasi jendela-jendela kaca yang cantik berlapis baja sebagai penopangnya.

Bersama OMA Koolhaas juga mendesign gedung CCTV di Cina dan berbagai gedung lainya yang membuat mata takjub. Tidak heran jika Koolhaas dinobatkan sebagai The World’s most Influential People oleh majalah Time pada tahun 2008.
Orang- orang Belanda tampaknya tak pernah berhenti berkreasi dan berinovasi untuk menemukan hal- hal baru. Tak peduli apakah lima abad yang lalu, sekarang atau bahkan mungkin lima abad yang akan datang. Apakah mereka memang terlahir sebagai seorang pionir?

Referensi
Oostrom, Frits Van. (2008). The Netherland in a Nutshell: Highlight from Dutch History and Culture. Amsterdam: Amstrdam University Press.
Lacayo, Richard (2009-04-30). “Rem Koolhaas”. Time Retrieved on 2008-05-12. Retrieved 2010-05-22.
http://en.wikipedia.org/wiki/Seattle_Central_Library
http://en.wikipedia.org/wiki/Rem_Koolhaas


1 Comment

#398 “Si Pembuat Awan” dari Belanda

Oleh Sofiyatun

Terkadang ketika duduk seorang diri dengan suasana hati yang tepat, imajinasi kita akan terbang ke tempat-tempat yang tidak terjangkau. kita membayangkan sedang menyusuri lorong klasik dengan awan putih yang menggantung di samping kiri dan kanan, atau ingatan kita terlempar ke masa kecil, ketika kepala mendongak ke langit. Kita tersenyum dengan mata berbinar, menunjuk awan, memiripkan awan-awan itu dengan mainan, kelinci ataupun bunga. Ada satu poin yang sama pada kedua deskripsi di atas. Apa itu? Itu adalah awan. Ya, awan selalu disejajarkan dengan hayalan, fantasi, dramatic scene, dan keanggunan.

 
Gambar 1. Berndnaut Smilde

Syahdan, hampir setiap orang mengagumi atau setidaknya pernah mengagumi awan putih. Namun, semua itu hanya sebatas kekaguman yang sungguh sulit direalisasikan. Kita harus terjun payung atau naik ke puncak gunung untuk menyentuh awan dan berfoto di antara kedramatisannya. Lalu, kenapa tidak berpikir untuk membawanya ke dalam toples atau ruangan? Oh ini sedikit tidak efisien. Bagaimana kalau membuatnya saja? Nah, this is a nice idea. Inilah space yang dilihat Berndnaut Smilde, seniman dari Amsterdam, Belanda. Ia tau betapa banyak orang yang ingin menikmati keindahan awan, ia tau bahwa mengantongi awan dari atas sana untuk di bawa ke bumi akan menguras biaya dan waktu, maka ia mengambil satu peluang, yaitu membuat awan.

 
Gambar 2. nimbus cukurkuma hamam

Dalam salah satu video tentang Smilde di youtube, kita bisa melihat seniman tampan itu menyemprotkan air untuk mengatur kelembapan dari hand sprayer ke udara. Ia juga memanipulasi suhu ruang dan pencahayaan seoptimum mungkin. Selanjutnya mesin asap yang menempel di dinding akan menyemburkan kepulan asap tebal. Aha, itu dia! Dalam beberapa saat, terbentuklah awan putih yang menggantung dramatis di tengah ruangan, momen singkat ini yang Smilde manfaatkan untuk mengambil foto-foto dari berbagai angel. Ia juga memberi nama setiap awan yang berhasil dibuat, seperti nimbus d’aspremont, nimbus cukurkuma hamam dan banyak lagi. Karya ini tentu sangat menggebrak dunia seni di seluruh dunia. Tak ayal, Smilde pun kemudian harus menampilkan awan dan pameran foto awan buatannya di banyak negara. Diantaranya di Ronchini Gallery di London , Galleries SFAC di San Francisco dan di Land of Tomorrow di Louisville, Kentucky. Awan buatan seniman kelahiran Groningan, 1978, inipun disebut sebagai “Best inventions of the year 2012” oleh majalah Time.

 

Gambar 3. Nimbus NP3

 
Gambar 4. Nimbus D’Aspremont
Awan buatan tersebut memang hanya bisa bertahan beberapa detik. Namun, justru dengan begitu ada rasa yang tercipta bagi setiap orang yang melihatnya. Karena disanalah diajarkan untuk menikmati sesuatu yang singkat dengan sepenuh hati. Di sanalah tercipta seni, keindahan yang dirindukan.
“I’m interested in the ephemeral aspect of the work” Ucap Smilde ketika diwawancarai.
 

Gambar 5. Nimbus II

 
Gambar 6. Nimbus green room II, 2013

Awan buatan ini tidak hanya mewujudkan hayalan banyak orang, tidak hanya melambungkan nama Smilde, tidak hanya mewangikan negara Belanda, namun memberikan pelajaran kepada banyak orang. Sesuatu yang tinggi, tidak tersentuh, bukan berarti tidak bisa diwujudkan.Smilde juga mengajarkan kita untuk tidak melupakan hal-hal yang ada disekeliling kita, sesederha apapun itu. ‘Using his daily surrounding as spaces as inspiration’ begitu kalimat yang tertulis pada sebuah artikel di http://www.dailymail.co.uk untuk mendeskripsikan sang pionir Berndnaut Smilde. Semoga kita bisa mengambil inspirasi dari karya ini dan segera bisa memiliki karya menakjubkan.

Referensi


Leave a comment

#397 Kaset Pita dan Gelombang Budaya Pop Global

Oleh Nicko Rizqi Azhari

Jauh sebelum Youtube, iTunes, dan bahkan MTV ada, budaya populer telah berekspansi membentuk kultur dominan yang disukai banyak orang di seluruh dunia. Memang, sebagian besar budaya pop itu diproduksi di AS, di sisi barat Atlantik. Tapi, tahukah Anda kalau media penyebar budaya pop itu pertama kali di produksi di sisi timur Atlantik, di sebuah negara kecil bernama Belanda? Ya, Belanda. Dan, penyebar budaya pop itu adalah kaset pita!

Kaset pita adalah media penyimpan data dengan format suara, berbentuk persegi panjang dan berisi pita magnetik, yang digulungkan pada sepasang roda penggulung kecil. Saat dimainkan dengan pemutar kaset, pita akan bergulung dari satu roda ke arah roda yang lain. Kedua sisi (arah gulungan) roda dapat digunakan sebagai media perekaman suara dan dapat dimainkan.

Kaset pita dan perekam kaset pertama buatan Philips (Foto: philipsmuseumeindhoven.nl/phe/products/e_cc.htm)

Media penyimpan suara ini ditemukan pada 1962 oleh Philips, perusahaan elektronik asal Belanda. Pada 1963, kaset pita diperkenalkan pada gelaran Berlin Radio Show di Jerman. Tahun berikutnya, produksi kaset pita mulai dilakukan secara massal di Hannover, Jerman. Pada 1965, kaset rekaman musik (musicassettes) diperkenalkan di Eropa, kemudian menyusul di AS pada 1966.

Alih-alih melindungi kaset pita sebagai teknologi eksklusif, Philips justru mendorong perusahaan lain untuk menggunakannya dengan lisensi. Karena itu, popularitas kaset pita cepat meluas. Pada 1968, sekitar 45 pabrik elektronik telah menjual lebih dari 2,4 juta pemutar kaset di seluruh dunia. Nilai bisnis dari kaset pita pun telah mencapai 150 juta dollar AS. Pada akhir dekade 60-an, kaset pita Philips telah menjadi format standar bagi industri rekaman.

Meluasnya penggunaan kaset pita pada industri rekaman telah memperluas pasar dan penetrasi industri musik serta budaya pop global. Dari awal dekade 70-an hingga akhir abad ke-20, penjualan album meningkat dua kali lipat. Pada periode yang sama, penjualan album dengan media piringan hitam terus menurun, hingga kemudian runtuh. Dekade 80-an, kaset pita menjadi media utama penjualan album musik. Puncaknya, pada 1988 sebanyak 73 juta unit rekaman musik terjual.

Iklan penjualan kaset pada tahun 80-an (Foto: Billboard Magazine, 6 Nov 1982)

Kaset pita audio menjadi sangat penting bagi para remaja penggila musik pada dekade 80-an. Pada awal dekade tersebut, dilaporkan penetrasi pemutar kaset pita di negara-negara Barat telah melebihi 100 persen, yang berarti melebihi jumlah rumah tangga yang ada. Sementara di negara-negara berkembang, keberadaan kaset pita seakan menjadi tanda kehadiran budaya Barat. Sebagai teknologi rekaman yang portabel dan mudah dikopi, kaset pita juga digunakan dalam produksi, penggandaan, dan penyebaran musik-musik lokal serta penciptaan aliran-aliran musik baru. Punk dan rap adalah aliran musik yang perkembangannya didorong oleh peran kaset pita.

Kaset pita juga menentukan tren gadget pada paruh kedua abad ke-20. Pertengahan dekade 70-an, piranti gabungan teknologi radio transistor dan pemutar kaset mulai populer. Pada dekade 80-an pun anak-anak muda dunia menggandrungi perangkat pemutar dan perekam portabel Walkman buatan Sony.

Meski kini masa dominasi kaset pita sudah berlalu, gelombang budaya pop global yang dirintis olehnya masih terus berlanjut. Terbayang bukan, bagaimana penemuan ”kecil” dari sebuah negara ”kecil” bisa merevolusi sekaligus menciptakan budaya pop global? Bisa jadi tanpa kaset pita, generasi ayah ibu kita–juga kita–tidak akan pernah mengenal nama-nama seperti David Bowie, Stevie Wonder, The Rolling Stones, Bob Marley, Elton John, atau ABBA.

Referensi

Sukher, Ray. 2005. Popular Music: The Key Concept. Oxon: Routledge.
Wall, Tim. 2003. Studying Popular Culture. London: SAGE Publications.
Billboard Magazine, 6 Nov 1982
http://www.soc.duke.edu/~s142tm01/history4.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Compact_Cassette


2 Comments

#396 Belanda, Bagi Saya Ini adalah Perkara Branding

Oleh Riza Nur Afifah

Ketika anda membaca tulisan saya dan mengenai Belanda, apa yang pertama kali terlintas di benak anda menganai negara ini? Bisa dengan mudah saya tebak nampaknya, bisa kincir angin, orange, tulip, keju, atau sepatu tradisional yang biasa disebut clog, red light district? Atau bahkan yang langsung terlintas adalah foto di depan city landmark I amsterdam?

Seperti layaknya Prancis dengan Eiffel towernya, Italia dengan menara Pissa dan Coloseum, ataupun Cina dengan Great Wall-nya, Belanda pun memiliki Kincir angin. Kincir angin? Ya, menurut saya, kincir angin tidak bisa diremehkan untuk kasus branding negara ini. Bayangkan saja bagaimana kabar dari kincir angin belanda ini di dunia luar. Bagaimana sebuah kincir bisa menjadi alat pembangkit energi, penggilingan gandum. Keidentikan kincir angin dengan Belanda menjadikan kelekatan brand tersebut untuk Belanda. Keadaan ini yang menjadikan banyak orang ingin datang berkunjung untuk melihat langsung seperti apa sistemnya.

You see it is an energy solution, but I see this is the way how they make us curios and wanna visit it

Selain karena kincir anginnya, mungkin bungan tulip pun menjadikan anda ingin pergi ke negara ini. Negara ini rasanya bisa dibilang sebagai pioneer dalam halflower parade. Yah, setiap musim semi di tiap tahunnya, biasanya di bulan Maret, ada event yang selalu ada di kota kecil bernama Lisse, bagia utara Belanda. Acara ini merupakan gelaran akbar yang terbilang sangat natural karena para pengunjung akan disajikan dengan pemandangan hamparan bunga tulip yang sedang mekar dan memiliki gradasi warna-warna yang sangat menarik. Hal inilah yang menjadikan Keukenhof menjadi the most event that have to visit bagi para pelancong. Pengenalan bunga tulip sebagai identitas negara Belanda memberikan efek epidemi yang bisa menyebar dengan luas. Pengaruhnya pun bisa terlihat dari pendapatan negara dari devisa yang datang dari pelancong luar negeri tiap event ini digelar.

Keukenhof

Lalu, kasus branding yang lebih sederhana namun sangat sukses dari Belanda adalah mengenai country colour-nya. Siapa sekarang yang tidak mengenal orange Belanda? Supporter sepak bola sudah pasti sangat mengenali warna khas negara ini. Siapa yang mengira juga bahawa warna orange dari wortel awalnya berasal dari usaha petani Belanda untuk menyilangkn wortel warna merah dan kuning agar didapat warna orange, warna Belanda, warna dukungan untuk kemengan Belanda saat perang dengan Spanyol di abad 16.

Gradasi warna asal wortel

Baru-baru ini branding lain yang dilakukan oleh Belanda untuk memperkenalkan potensi dari negaranya adalah membuat city landamark di Amsterdam. Tugu I amsterdam menurut saya adalah sebuat tengaran kota yang sangat kreatif, dan menimbulkan efek triangulasi yang baik, yang bisa menjadikan kota tersebut lebih hidup dan humane. Bagaimana landmark tersebut bisa menjadi tempat bagi warga lokal untuk sekedar sight seeing di sore hari, lalu sebagai tempat untuk para pelancong mengabadikan gambar dirinya di foto. Usaha yang sepele, namun saya yakin, ini adalah hasil pemikiran kreatif yang akhirnya berefek sangat global.

I amsterdam

Perkara country branding, menurut saya adalah sebuah jalan yang sangat konkrit dan mudah untuk dilakukan. Pembenahan negara, didokumentasikan dengan baik, lalu diterbitkan di website resmi negara, sudah, itu saja, ajak warga negaramu untuk menyebarkan di account sosmednya masing-masing. Semakin banyak orang membaca, semakin banyak yang ingin tahu, dan semakin banyak yang ingin mendatangi. Begitu menurut saya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran.

Referensi

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/wortel-oranye-karena-belanda
http://www.orrstravel.com/groups/keukenhof-amsterdam-dutch-highlights/
http://stelianpopa.blogspot.com/2010/09/i-amsterdam.html
http://www.football-shirts.co.uk/holland-shirt.html


Leave a comment

#395 A Good thing on the bad things

Oleh Dwi Utami 

Ngomong-ngomong tentang Belanda, pasti yang langsung muncul di pikiran kita adalah masa penjajahan. Padahal kalau berbicara tentang Belanda, tidak memulu semua tentang penjajahan yang dilakukan di Indonesia. Kita tidak bisa mengelak bahwa kekayaan alam yang dimiliki Indonesia bisa tereksplorasi karena adanya penjajahan Belanda di Indonesia. Belanda merupakan pionir eksplorasi minyak bumi di Indonesia. Pada masa itu, Belanda memiliki teknologi lebih maju dan Indonesia memiliki kekayaan alam yang perlu dieksplorasi. Perkembangan industri minyak bumi di Indonesia pun tidak lepas dari peranan Belanda pada masa penjajahan.
Awal mula eksplorasi minyak bumi di Indonesia dimulai oleh seorang pengusaha Belanda bernama Jan Reerink. Pada Tahun 1871, Jan Reerink melakukan pengeboran minyak modern pertama di Indonesia yaitu di desa Maja, Majalengka, Jawa Barat yang diberi nama sumur Madja-1. Jan Reerink ini melakukan pengeboran dengan metode yang sama dengan yang dilakukan di Pennsylvania, Amerika Serikat (tempat pengeboran minyak pertama di Dunia oleh Kolonel Edwin L Drake dan William Smith de Titusville pada tahun 1859). Pengeboran dengan metode ini (menggunakan tenaga lembu) telah dilakukan di 4 buah sumur yang kemudian ditutup karena hasilnya tidak cukup memuaskan.
Eksplorasi selanjutnya juga masih dilakukan oleh seorang Belanda pada tahun 1883 di daerah Langkat, Sumatera Utara. Seorang Belanda ini adalah instruktur perkebunan tembakau bernama Jan Zijlker. Jan Zijlker menyadari adanya minyak di daerah tersebut setelah melihat penduduk setempat menggunakan obor dengan api yang tahan lama menyala. Pengeboran pun dilakukan dengan nama sumur Telaga Tunggal dengan modal yang berasal dari negeri Belanda dan membentuk perusahaan minyak dengan lokasi yang berdekatan.
Era tersebut merupakan era mulai berkembangnya eksplorasi minyak di Indonesia yang kemudian ditandai dengan penemuan-penemuan lainnya di daerah Surabaya, Jambi, Aceh Timur, Palembang dan Kalimatan Timur. Maraknya penemuan minyak di Indonesia ini, pemerintah Hindia Belanda pada akhirnya membentuk perusahaan minyak NV. Koninklijke Netherlansche Mij. Tot Exploitatie van Petroleum Bronnen in Netherlandsch Indie atau Royal Dutch Company dan sekarang lebih dikenal dengan Shell (Royal Dutch dan Shell melakukan merger pada tahun 1907). Setelah itu, dimulai adanya invansi perusahaan-perusahaan asing ke Indonesia dan membuat perkembangan industri minyak semakin besar.

Jika dilihat dari satu hal itu saja, ternyata Belanda juga membawa perubahan besar dan positif terhadap Indonesia diluar penjajahan yang dilakukan. So, there is always a good thing on the bad things.

 


Leave a comment

#394 Mencium Hilversum dari Solo

Oleh Fakhri Zakaria

Tahun 2010 lalu saya diberi kesempatan menunaikan mimpi besar jurnalis musik. Menulis artikel panjang untuk majalah Rolling Stone. Saya dan rekan saya, Ayos Purwoaji, datang ke Solo. Mengunjungi episentrum musik Indonesia bernama Lokananta. Sebuah pabrik piringan hitam yang kemudian berkembang menjadi studio musik, juga perusahaan rekaman yang didirikan pemerintah pada tahun 1956 silam.

Selama satu bulan kami masuk ke dalam brankas musik Indonesia. Membabat literatur-literatur tentang Lokananta, mencari jejak-jejak pendiri Lokananta sampai menemui musisi-musisi besar Indonesia yang pernah merintis karier di Lokananta, Waldjinah dan Buby Chen. Kami  akhirnya sampai pada satu nama. Berpuluh ribu kilometer di benua Eropa sana. Hilversum.

Hilversum Media Park. Sumber: http://www.tulipinnhilversum.nl/toeristische-informatie-hilversum.41081.aspx?Language=NL

Terletak 30 kilometer tenggara Amsterdam, Hilversum adalah “ibu kota” bagi stasiun radio dan televisi di Belanda. Studio televisi dan radio Nederlandse Omroep Stichting (NOS)lembaga penyiaran milik pemerintah Belanda berlokasi di kota yang berkembang sejak Zaman Perunggu atau tahun 800 S.M ini. Selain itu, studio dan kantor semua organisasi penyiaran publik di Belanda serta studio produksi siaran TV komersial juga ada di kota yang berpenduduk 86 ribu jiwa ini. Begitu pentingnya Hilversum terlihat di di banyak frekuensi radio tua di Inggris yang memiliki “Hilversum” sebagai posisi pada gelombang siaran mereka.

Hilversum juga menjadi rumah Radio Nederland Wereldomroep atau Radio Netherlands Worldwide (RNW) yang memproduksi dan menyiarkan program untuk publik internasional di luar Belanda. RNW memulai siaran sejak tahun 1927 dengan menggunakan gelombang pendek yang menghubungan Belanda dengan Indonesia.

Maladi, yang juga dikenal sebagai Menteri Penerangan serta tokoh sepakbola, bermimpi menjadikan Solo layaknya Hilversum. Solo terpilih karena menjadi pusat budaya mengingat posisinya yang dekat dengan empat kerajaan besar di Jawa yang masih eksis: Kasunanan dan Mangkunegaran di Solo serta Kasultanan dan Pakualaman di Jogja.

Lokananta diniatkan menjadi pusat rekaman untuk lagu dan budaya Nusantara. Mirip dengan Hilversum yang menjadi rumah seni sejak pada abad ke-19, terutama seni lukis lanskap. Sangat mungkin jika masterplan Maladi tadi berhasil, Solo saat ini seperti Hilversum.

Lokananta

Saat itu di medio 50-an, nama-nama seperti Nat King Cole, Frank Sinatra, dan Elvis Presley merajai chart musik RRI, mengalahkan penyanyi lokal. R. Maladi yang saat itu menjabat sebagai Direktur RRI Jakarta resah.

Maladi bersama dua rekannya R. Oetojo Soemowidjojo dan R. Ngabehi Soegoto Soerjodipoero, yang masing-masing menjabat sebagai Kepala Studio dan Kepala Teknik Produksi RRI Surakarta, lalu berinisiatif mendirikan pabrik piringan hitam milik pemerintah untuk mendukung siaran 49 jaringan RRI di seluruh Indonesia. Setiap stasiun lokal diinstruksikan mengirimkan minimal dua buah lagu daerah untuk diproduksi dalam format piringan hitam. Tanggal 29 Oktober 1956 Lokananta resmi berdiri.

Memang, Maladi belum berhasil mewujudkan mimpinya. Lokananta tenggelam pasca dibubarkannya Departemen Penerangan meski kini sudah ada inisiatif publik untuk merevitalisasinya. Namun yang jelas dari Hilversum kita semua tahu betapa pentingnya keberadaan media sebagai sumber informasi. Lewat Maladi, dari Lokananta dan Solo kita masih bisa mencium Hilversum.