KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#575 Batavia dan VOC: Titik Awal Globalisasi

Leave a comment

Oleh Erwin Hendrawijaya

Sayaterkejut ketika keponakan saya, Alya – 6 tahun, yang tinggal di pinggiran kotaPontianak meminta saya membelikan poster seukuran manusia dari penyanyi tampanasal Canada – Justin Bieber. Saya terkejut tidak hanya pada permintaan Alya,tapi juga pada fakta bahwa globalisasi telah menjangkau daerah-daerah pinggiran. Saya setuju dengan Thomas L. Friedman, pengarang buku The World isflat, bahwa dunia semakin hari semakin flat,bahwa manusia di seluruh dunia akan semakin terhubung. Tapi menerima permintaankeponakan saya tadi, saya masih belum percaya bahwa globalisasi telah begitudahsyat menjalar.

Selain cepatnya kemajuan infrastuktur dan teknologi, munculnya perusahaan multinasional adalah penggerak utama merebaknya globalisasi(1). Merek perusahaan multinasional seperti McDonald, Coca-cola, Nokia, Phillips dan lainnya, kini mudah ditemui di seluruh penjuru dunia. Tidak hanya mempengaruhi budaya –seperti permintaan Alya, perusahaan-perusahaan multinasional ini juga memberikan sumbangsih dalam bidang ekonomi bagi negara dimana mereka beroperasi. Dari 100 entiti ekonomi terbesar dunia, 53 di antaranya adalah perusahaan multinasional. Yang mengejutkan, kekayaan perusahaan-perusahaan tersebut melebih kekayaan dari 120 negara di dunia(1).

Lalu kapan dan apa nama perusahaan multinasional yang pertama berdiri?  Semua orang Indonesia pasti sudah kenal dengan nama perusahaan ini. Ko bisa? Perusahaan ini berdiri di Indonesia berabad tahun lalu. Ia dikenal masyarakat dengan isilah kompeni, atau compagie dari nama lengkapnya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau The Dutch East India Company. VOC didirikan oleh para pedagang Belanda dengan bantuan ide Dutch State General Johan Van Oldebarnevelt  pada tanggal 20 Maret 1602. Dalam perjalanannya, VOC adalah perusahaan dengan multi-etnis pegawai dengan kantor pusatnya di Jakarta (Batavia saat itu) dan Ceylon (Sri Lanka saat ini). Dibangun untuk melindungi monopoli atas hasil bumi Asia dari serangan Portugis dan Spanyol, modal awal VOC adalah modal patungan sebesar sebesar 6.5 juta dutch guilders(2).

VOC saat itu merupakan megacorporation yang pertama kali mengeluarkan saham dan memberikan dividen sebesar 18% per tahun selama 200 tahun(3). Praktekini masih terus diterapkan oleh perusahaan modern saat ini karena manfaat yang dihasilkannya. Pelepasan saham ke masyarakat umum, atau dikenal dengan istilah Initial Public Offering (IPO) diyakini dapat membantu membangun struktur keuangan dan permodalan yang sehat bagi perusahaan, meningkatkan transparansi, produktifitas,dan professionalisme pegawai dan manajemen(4).

Mungkinkita diwarisi ketidaksukaan pada kata kompeni, tapi tanpa sang kompeni mungkin dunia belum tentu mengalami globalisasi seperti saat ini. Terlepas dari pengaruh buruk globalisasi, kita atau setidaknya saya sebenarnya sedang menikmati dampak globalisasi. Saat ini saya sedang berada di depan komputer jinjing bermerek Lenovo buatan China, di sampingnya ada printer Hewlett Packard buatan Amerika,lampu penerang merek Phillips buatan Belanda, dan Blackberry dari Kanada. Globalisasi membuat hidup saya nyaman, tapi tidak merubah sesuatu di dalam diri saya – hati saya selalu dan akan selalu berlabel Indonesia.

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s