KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#525 THE CULTURED BEEF PROJECT & WIETSAUS: WHEN DUTCH CREATIVITIES GO WILD!

Leave a comment

Oleh Afridah Arifin

“A man can live and be healthy without killing animals for food; therefore, if he eats meat, he participates in taking animal life merely for the sake of his appetite.” (Leo Tolstoy)

Senada dengan kutipan diatas, seorang ilmuwan asal Belanda, Mark Post sekitar Oktober 2012 lalu ‘berternak’ daging sapi sintetis di sebuah laboratorium Maastricht University. Hamburger yang kemudian dinamakan The Cultured Beef Project ini bertujuan untuk menjaga lingkungan dan produksi makanan dunia, mengembangkan cara yang lebih efisien untuk menghasilkan daging daripada memelihara hewan serta ketertarikan dalam transformasi teknologi masa kini. Mark Post menyebutkan bahwa daging hamburger sintetis ini dapat mengurangi keperluan produksi daging hingga 60%. Hal ini merupakan salah satu solusi cerdas untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia di masa mendatang. Sebab WHO memprediksikan pada tahun 2030 konsumsi daging global akan mengingkat sebesar 72 persen.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana daging sintetis ini dibuat?

Kompetiblogger mungkin meragukan bahan penyusun daging sintetis ini. Namun, tenang saja The Cultured Beef Project ini menggunakan organ dalam sapi sebagai komposisi utamanya. Mark Post bersama kawan-kawannya dari Maastricht University  membuat jaringan  otot yang diambil dari otot sapi terbaik. Daging tersebut ditumbuhkan di cawan petri di dalam laboratorium. Kemudian, otot ini dicampur dengan darah dan lemak buatan dalam proses produksinya. Jaringan otot ini  kemudian tumbuh menjadi potongan-potongan otot dengan panjang sekitar 2 cm, lebar 1 cm dan tebal 1 mm.

Gambar: Proses ‘Peternakan’ The Cultured Beef Project dalam Laboratorium

Ternyata, banyak manfaatnya!

Penikmat daging sapi sintetis pun tidak perlu khawatir. Sebab pengolahan jaringan daging sapi yang dilakukan oleh Mark Post dan kawan-kawannya membuat lambung akan menjadi lebih sehat dan kuat. Mengkonsumsi daging sapi sintetis ini pun menurut Mark Post lebih sehat jika dibanding daging sapi reguler, karena kita dapat mengatur jumlah lemak sehat dengan merekayasa sel jaringan sapi tersebut. Selain itu, daging sinstetis ini dibuat tanpa menggunakan hormon dan antibiotik serta bebas dari bakteri Salmonella.

http://www.youtube.com/watch?v=jI1s25cDkkU

http://www.youtube.com/watch?v=7MRCWQLoS_U

Hamburger yang berisi daging sapi sintetis ini sudah mulai dijual pada Oktober 2012 lalu. Selain hamburger, daging ‘hasil ternak’ di laboratorium ini pun dapat dijadikan bahwan sosis dan bahan daging lainnya.

Tidak hanya sampa disitu, Belanda yang sejak lama telah melegalisasikan konsumsi ganja, memicu  sejumlah inovasi para pelaku industri kuliner agar usahanya tetap laku. Sepeti yang dilakukan oleh Albert van Beek, pemilik jaringan restoran internasional Manneken Pis. Restoran yang mengklaim sebagai ‘Voted No. 1 Holland’s Fries’ ini akhirnya menciptakan varian rasa mayonnaise baru sebagai teman makan kentang gorengnya.

Mayonnaise yang diberi nama ‘Waitsaus’  ini  terbuat dari ganja.  Albert van Beek menyatakan dirinya terinspirasi dari aroma ganja yang banyak dihisap orang-orang di kedai kopi seberang restorannya.

Gambar: French Fries dan Mayonnaise ‘Wietsaus’ dari Manneken Pis

Gambar: Restoran Manneken Pis dengan Slogannya ‘Voted No. 1 Holland’s Fries’

Bahan pembuatan mayonnaise tidak murni seluruhnya dari ganja, namun hanya mengambil bagian ganja yang baik, seperti aroma dan rasa. Selain itu, menurut Foodbeastm efek psikoaktif yang didapat dari konsumsi ganja juga tidak disertakan dalam pembuatan mayonnaise sehingga aman untuk dikonsumsi.

Pihak restoran pun telah mengklaim bahwa mayonnaise yang mereka sajikan untuk pelanggan tidak mengandung tetrahydrocannabinol atau THC. THC merupakan zat yang ada dalam ganja yang mampu menyebabkan penggunanya merasa berhalusinasi.  Pemilik restoran, Albert van Beek pun mengungkapkan pada menu masakan mereka telah menulis dengan jelas bahwa mayonaise yang dijual tidak mengandung THC.

Dari kedua ulasan tersebut, yang patut digarisbawahi yaitu  ilmu pengetahuan dan kreatifitas yang dimiliki Belanda berani melahirkan inovasi dan mengemasnya menjadi sesuatu yang menarik serta tiada duanya. Inovasi tidak hanya dapat dikembangkan dari bidang-bidang makro seperti arsitektur, teknologi, seni, pendidikan namun juga dapat berasal dari hal kecil tetapi esensial seperti makanan.

Referensi

http://www.businessinsider.com/dutch-scientist-is-cooking-up-a-groundbreaking-ground-beef-in-his-lab-2012-8#ixzz2T5uUT9qZ
http://www.telegraph.co.uk/science/science-news/9091628/Test-tube-hamburgers-to-be-served-this-year.html
http://metro.co.uk/2013/04/10/hashish-and-chips-dutch-fast-food-shops-to-serve-cannabis-mayonnaise-3590735/
http://newsfeed.time.com/2013/04/12/marijuana-flavored-mayonnaise-coming-soon-to-a-dutch-fast-food-chain-near-you/

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s