KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#506 Belanda Pupuk Budaya Dokumenter

Leave a comment

Oleh A.A Gede Ngurah Putra Adnyana

Amerika Serikat boleh berbangga karena memiliki Oscar sebagai ajang penghargaan paling prestisius dalam mengapresiasi industri perfilman dunia. Begitu pula dengan Perancis yang selalu menarik antusiasme para kritikus film dalam perhelatan Festival Film Cannes miliknya. Tak hanya mereka, masih ada festival film kaliber seperti Berlin Film Festival, Venice Film Festival, Sundance Film Festival, atau pun Toronto Film Festival yang turut berkontribusi besar dalam perkembangan perfilman dunia. Seluruh event film sohor tersebut cenderung berangkat dari semangat film-film cerita. Namun Belanda justru melirik hal yang berbeda. Melalui International Documentary Film Festival Amsterdam, Negeri Kincir Angin ini mencetak tebal tentang betapa pentingnya posisi film dokumenter dalam jagat perfilman dunia.

Menilik sejarahnya, film dokumenter justru lahir terlebih dahulu tinimbang film cerita. Orang-orang lebih dulu merekam segala sesuatu peristiwa yang ada di sekelilingnya tanpa mereka sadari bahwa itulah cikal bakal konsep dokumenter berawal. Belanda melihat pentingnya film dokumenter sebagai sebuah arsip sejarah dunia yang melintasi pelbagai lapis peradaban, kemudian mendokumentasikan fakta-fakta menarik di era bersangkutan. Oleh karena itu, International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) diselenggarakan demi menciptakan budaya film dokumenter di tengah-tengah masyarakat dunia.

 

IDFA tergolong festival film dokumenter tertua di dunia yang memulai kiprahnya semenjak tahun 1988. Karya-karya dari sineas dokumenter kondang sepertiWerner Herzog, Kazuo Hara, Robert Kramer, Michael Moore dan Ulrich Seidl pernah ditampilkan dalam perhelatan IDFA. Bahkan Victor Kossakovksy, Sergei Dvortsevoy, Yoav Shamir dan masih banyak sineas muda lainnya lahir dari festival yang telah berusia 25 tahun ini.

IDFA berpegangan terhadap kemasan ‘dokumenter kreatif’, dimana film dokumenter itu sendiri diproses dengan menitikberatkan kreatifitas dalam sinematiknya. Melalui perspektif ini, IDFA pun memburu karya-karya dokumenter yang secara sinematis menarik, inovatif, relevan dan sangat topikal untuk masyarakat luas. Karena bagi IDFA, sebuah film dokumenter harus mampu membuat semacam refleksi dan diskusi di tengah-tengah penontonnya. Untuk itu beragam genre film dokumenter pun dihadirkan, entah itu politik maupun sosial. Uniknya, IDFA bukan sekedar ajang pemutaran film-film dokumenter unggulan, festival ini juga merupakan media pembelajaran. Terdapat sebuah workshop ataumaster class untuk film dokumenter, dimana menghadirkan sineas professional di dalamnya.

 

Serupa dengan festival film pada umumnya, IDFA juga menganugerahi film-film dokumenter terbaik setiap tahunnya yang mengikuti kompetisi mereka. Beberapa penghargaan diperebutkan berdasarkan kategori kompetisi yang diikuti semisal Joris Ivens Competitions untuk film dokumenter berdurasi panjang, Silver Wolf Competition untuk karya terbaik berdurasi tak lebih dari 60 menit, Silver Cub Competition  khusus durasi yang kurang dari 30 menit serta masih ada pula First Appearance, Special jury Award dan IDFA Student Competition. Tak hanya kompetisi, IDFA juga memiliki tiga program khusus seperti The Jan Vrijman Fund yang mendukung proyek film dokumenter para filmmaker di negara-negara berkembang, The FORUM sebagai program co-financing market terbesar di Eropa untuk produksi film dokumenter Internasional serta ada pula Docs for Sale sebagai tempat para distributor film dan sales agents melihat film-film dokumenter terbaik pilihan tahun-tahun sebelumnya.

Tak semata berakhir di perhelatan utamanya, Belanda seolah gemas ingin menebarkan atmosfer ‘aku cinta film dokumenter’ ke seluruh pelosok dunia. Seperti International Documentary Film Festival yang digelar di Indonesia (baru dua kali penyelengaraan) ternyata mendapat dukungan penuh dari IDFA.

Referensi

http://old.rumahfilm.org/kabar/kabar_idfa0.htm
http://documentaries.about.com/od/documentaryfestivals/a/IDFA.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/International_Documentary_Film_Festival_Amsterdam
http://www.flickmagazine.net/feature/1374-international-documentary-film-festival-2012-siap-digelar.html

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s