KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#479 Ia bukan Lagi Momok

Leave a comment

Oleh Sabri

Matematika; reputasi pelajaran ini sungguh jelek di mata siswa. Tak terkecuali di Belanda, khususnya hingga pertengahan tahun 1960-an, saat The New Math Movement, yang akhirnya bernama Realistic Mathematics Education (RME), mulai diterapkan.

snap1

Tapi, siapakah tokoh gerakan tersebut? Dia bukanlah insinyur bendungan laut; bukan pula pakar lingkungan yang menyulap warisan banjir di Keukenhof menjadi taman tulip danbulb flowers bak permadani.

hansfreudenthal

Dialah Hans Freudenthal, seorang ahli psikologi, matematikawan, perekayasa pendidikan matematika, pendiri Freudenthal Institute di Utrecht University. RME menggunakan prinsip Guided Reinvention yang menyatakan bahwa tiap individu menemukan struktur matematika dalam lingkungan hidupnya sendiri dan menciptakan konsep matematika yang bersifat personal. Apa uniknya?

Hingga awal 1960-an, 95% Sekolah Dasar di Belanda masih menerapkan Mechanistic Mathematics Education (MME). MME terbilang gagal mengubah sosok notoriousmatematika sehingga tetap menjadi momok bagi siswa. Tapi bagi Dutchevery disadvantage has its advantage. Kegagalan MME dijadikan potensi bagi RME. MME hanya menjadikan konteks keseharian sebagai  wahana menerapkan matematika; RME memposisikan lebih, sebagai sumber pembelajaran sekaligus wadah penerapan matematika. Dengan Gerakan Matematika Baru, Freudenthal melawan pengaruh New Math Amerika Serikat yang menjejalkan ide matematika baku ke benak siswa. Pembelajaran matematika, yang sebelumnya cenderung menawarkan prosedur penyelesaian masalah yang sudah fixed, dijadikan proses yang mengaktifkan siswa untuk mengembangkan cara pemahaman matematika personal. Dengan RME, belajar matematika dipindahjalurkan menjadi kegiatan matematisasi yang memberi siswa kesempatan menemukan kembali matematika.

PIC10660796436Web

Ya, reinventing mathematics sebagai aktivitas keseharian siswa. Siswa diberi ruang menapaktilasi jejak matematikawan pendahulu dalam menjawab masalah dengan ide cemerlang yang bertahan hingga kini. Siswa dipacu mengeksplorasi ide; mereka terpapar ke masalah kontekstual yang tidak biasa dan diberi peluang menyelesaikannya dengan cara matematika bagaimanapun anehnya. Mereka diberi wadah untuk menjadi Gauss atau Riemann cilik. Proses matematisasi kehidupan ini menyadarkan siswa akan kegunaan matematika bagi kehidupan, dan sekaligus mempersiapkan mereka mengembangkan matematika, dengan kesadaran bahwa matematika tidaklah lahir laksana wahyu yang mutlak benar tanpa boleh dipertanyakan.

snap2

Lihatlah, bagaimana beragam ide siswa, selain algoritma formal pengurangan bersusun, dipakai secara bebas untuk menjawab masalah aritmetika. Asyiknya, siswa dengan gembira belajar matematika, berinteraksi, dan bekerja sama kala belajar tentang pengukuran, berbagi ide, atau membandingkan hasil perhitungan mereka. Ini semua cikal bakal sikap akademik orang Belanda: it is much better to debate a question without settling it, not to settle the question without debating it.

snap

Hingga akhir 2011, hanya sekitar 5% Sekolah Dasar yang belum menerapkan RME. Lebih 40 tahun rintisan RME berkembang dan mendunia. Belanda menduduki urutan ke-11 dari 65 negara peserta tes literasi matematika PISA 2009. Seperti produk industri kreatif Belanda, RME juga diekspor ke berbagai penjuru dunia: Eropa, Afrika, Asia. Banyak negara mengadaptasinya. Amerika Serikat, kiblat inovasi pembelajaran, pun mengadopsinya sebagai Mathematics in Context, meskipun di sana ada NCTM Principles and Standards untuk matematika sekolah.

Gen perintis, pemecah masalah, dan kreatif memampukan Belanda mengatasi tidak hanya ganasnya hempasan ombak laut, tetapi juga sulitnya matematika bagi siswa. Indonesia patut belajar pada Belanda bahwa memperbaiki pendidikan mutlak membutuhkan waktu, kreativitas, dan komitmen. Meskipun RME telah diadaptasi menjadi Pendidikan Matematika Realistik Indonesia, implementasinya belumlah menasional.

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s