KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#472 Break The Limit, Being Futuristic A la Belanda

Leave a comment

Oleh Sarah Sofiana Nabila Kuartanegara

Ketika kampanye bike to work, digaungkan hampir di seluruh dunia, masyarakat dalam sebuah negara kecil dengan luas daratan kurang lebih sebesar provinsi Jawa Barat, melenggang santai dengan dua roda sepedanya. Sudah menjadi budaya mereka sejak ratusan tahun yang lalu. Entah ke kantor, ke pasar, ke sekolah, ke bioskop bahkan ke Café, mereka bersepeda. Entah seorang buruh, guru, dosen, mahasiswa, profesor bahkan seorang pejabat seperti duta besar, mereka bersepeda.

Negara itu negara Belanda.

Belanda adalah negara maju dan memiliki alat-alat transportasi yang canggih. Tapi mengapa di Belanda hampir semua kalangan bersepeda? Bukan, mereka bukan bersepeda untuk gegayaan apalagi pencitraan. Itu memang budaya mereka.

Budaya gemar bersepada di Belanda bermula dari usainya Perang Dunia Kedua, dimana diproduksinya mobil secara massal yang menyebabkan Belanda krisis energi pada tahun 1970an. Krisis yang berdampak pada krisis ekonomi tersebut mendorong masyarakat Belanda untuk banting setir ke sepeda. Selain lebih ramah lingkungan dan tidak menguras space dan energy yang besar, faktor geografis Belanda juga memacu masyarakatnya untuk bersepeda. Belanda adalah sebuah negara mungil dan relatif datar konturnya yang jarak antar kotanya relatif dekat sehingga dapat cepat dan mudah dilalui sepeda.

 

Sejarah sepeda di Belanda dimulai sejak 1868, dimana sepeda menjadi gaya hidup kelas atas masyarakat Belanda. Meskipun begitu, mulai 1896, dengan slogan “Everybody on the bicycle”penggunaan sepeda di Belanda meluas ke masyarakat umum.

Lain dengan di Indonesia, sebelum kampanye “bike-to-bike-to-an” muncul, bersepeda dianggap kuno, kolot dan ketinggalan jaman. Baru ketika isu global warming dilemparkan, masyarakat mulai latah berwara-wiri kampanye peduli lingkungan hidup. Pun masyarakat dunia saat digegerkan kenaikan harga BBM, yang kemudian mereka mengekori Belanda dengan mulai menggaungkan sepeda sebagai moda pergerakan masyarakat. Konsistensi kepedulian Belanda dalam lingkungan hidup memang juara.

Lain lagi ketika para pelancong mencibir akan budaya pelit masyarakat Belanda. Stereotip masyarakat dunia pada Belanda itu memang sudah lama melekat. Perlu pembenaran bahwa orang Belanda itu bukan pelit, melainkan hemat. Mereka akan sangat perhitungan dengan jumlah uang yang dikeluarkan. Dalam bahasa Belanda ada ungkapan elk dubbeltje omdraaien, yang artinya putar koin dua kali sebelum berpikir untuk membelanjakannya. Meskipun industri menawarkan konsumerisme tetapi tetap saja orang Belanda akan memilah barang mana yang diperlukan, atau jika harga & kualitas barang tersebut bisa menjadi investasi, mereka tidak ragu untuk membelinya. Bagi mereka, de kost gaat de baat uit, dimana ada pengeluaran harus ada keuntungan.

Budaya hemat ini didorong oleh faktor geografis, Belanda yang daratan dan cuacanya tidak menjanjikan tanaman dapat tumbuh subur sepanjang tahun. Masyarakat Belanda terbiasa berhemat untuk mengatasi kesulitannya.

Budaya itu berbuah manis. Ketika krisis ekonomi melanda Eropa, Belanda tidak kelimpungan. Budaya perhitungan inilah yang kemudian mulai ditiru oleh negara lain dalam merencanakan keuangan.

Negara itu memang tidak seperti Indonesia yang dianugerahi sumber daya yang melimpah, namun dengan kekurangan yang dimiliki, negara ini mampu menunjukkan keunggulannya dalam mencari solusi alternatif dan tidak lantas bersikap seakan-akan besok hari akhir dan menghamburkan semua hasil keringat individunya. Negara itu berpikir jauh ke depan. Bagaimana generasi selanjutnya bisa meneruskan eksistensi negara dan menjadi pionir bagi negara-negara lain.

Negara itu negara Belanda.🙂

Referensi

http://atjehpost.com/read/2012/12/13/31355/51/51/Belanda-dan-Sejarah-Awal-Warganya-Gemar-Bersepeda
http://coffeeoriental.wordpress.com/2010/04/17/stereotipe-orang-belanda-itu
http://umihabibah.com/berjalan-dengan-dua-roda-di-belanda

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s