KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#462 Naik Sepur Sampai Negerinya Para Londo

Leave a comment

Oleh Teguh Prayogo Sudarmanto

Benda ini membuat saya terkesima dengan Belanda di usia muda. Badannya besar dan sangat panjang seperti ular. Jalannya cepat, ada lagunya pula untuk menggiring kita menaikinya, “… tut… tut… tuutt…, siapa hendak turun, ke Bandung, Surabaya”. Seorang dosen pengampu antropologi di kuliah dulu pernah menjelaskan bahwa nama benda ini secara genealogis ada serapannya dalam bahasa Jawa.

***
 “Sepur. Bahasa Jawa dari kereta api. Penamaannya dari kata spoor, bahasa wong Londo, julukan orang Jawa kepada orang Belanda dulu. Belanda, BelondoLondo,” seingat saya, begitu terang dosen itu. Iya, benda tersebut tak lain tak bukan adalah sepur atau kereta api!
 
Sepur Senja Utama (sumber)
Bukan sombong sih, tapi saya sudah mengetahui perihal serapan sepur sejak bangku sekolah menengah. Singgungan bahasa membuka mata bahwa selain bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan Jawa yang diajarkan ke saya sejak bangku sekolah dasar, terbuka lebar mempelajari hal baru bernama Belanda. Apalagi, Belanda seperti dekat namun jauh karena nasionalisasi kemerdekaan lalu.
Perkenalan dengan sepur membuat saya tertarik mempelajari asal-muasal singgungan bahasa itu. Menurut sumberWikipediasepur melintas di tanah Jawa berkat perusahaan swasta Belanda bernama Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) di penghujung abad ke-19. Di masa-masa itu, dunia memang sedang menikmati revolusi industri.
 
Gedung Lawang Sewu di Kota Semarang, bekas Kantor NIS (sumber pribadi)
NIS memulai proyek pembangunan sepur di Jawa bagian tengah dengan menghubungkan Semarang-Solo-Yogyakarta. Seiring semakin meningkatkan pembangunan dan kebutuhan interkoneksi Jawa, NIS membutuhkan banyak dana. Dimintailah bantuan ke Pemerintah Kerajaan Belanda, yang kemudian kerjasama keduanya memperbesar cakupan jaringan sepur di saentero Jawa.
Bogor dan Surabaya terhubung pada tahun 1984. Pembangunan terus digenjot sampai sebelum terpuruk pada krisis finansial 1929. Sepur dan relnya merambah ujung timur Jawa di Banyuwangi hingga ufuk barat Jawa di Anyer, Sumatera bagian utara, Sumatera bagian selatan, Sumatera bagian barat, dan Sulawesi bagian selatan antara Makassar dan Talakar.
Terlepas dari berbagai pelik kerja paksa di pembangunannya yang pernah saya baca di buku-buku sekolah atau sumber lainsepur menjadi aset strategis bagi para penggunanya. Sepur menghubungkan kota-kota industri serta daerah pertanian dan perkebunan. Sepur tak pernah pula absen menjadi aset pertahanan memudahkan distribusi perangkat militer.
Pengguna ini, tak hanya Pemerintah Kerajaan Belanda dan perusahaan-perusahaan Belanda. Rintisan sepur oleh Belanda di tanah seberangnya itu, meski diambil alih oleh Kekaisaran Jepang dan terakhir dinasionalisasi oleh Republik Indonesia, tetap memiliki fungsinya yang tak berubah.
Sepur tetap menjadi moda penting yang kini banyak membantu para komuter pergi dari rumahnya di Bogor menuju tempat kerja mereka di pusat Jakarta. Sepur juga menjadi satu moda transportasi penting yang tiketnya bahkan nyaris habissebelum sebulan pra-lebaran. Kini pun, sepur di lokasi-lokasi tambang Sawahlunto atau di jalur-jalur tinggi seperti Ambarawa, tetap tak ditinggalkan. Sepur-sepur itu menjelma menjadi industri baru penggiat pariwisata.
 
Peta Sepur Jabodetabek. Tampak jalur Bogor-Jakarta padat. (Sumber: krl.co.id)
 
Sepur wisata di Sawahlunto (Sumber: intisari-online.com)
Meski kini penggunaan nama sepur mulai meredup seiring populernya bahasa Indonesia dan Inggris, keberadaannya di Indonesia tak pernah bisa dilepaskan dari rintisan Belanda. Serapan sepur membuktikan bahwa penamaan moda transportasi itu awalnya murni didatangkan dari bahasa perintisnya.
***
“Bisakah saya naik sepur ini sampai negerinya para Londo?” saya melamun. “Bisa! Sepur yang kamu naikin ini nggakmudah dirintis Belanda. Ada visi misi manfaat dan keseriusan penggarapan yang bisa kamu contoh buat ke Belanda,” kepala saya anggukan mantap.

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s