KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#449 Kota di Atas Awan

Leave a comment

Oleh Dini Kusumawardhani

Pepohonan rindang, ruang terbuka luas, fasilitas umum bersih dan terawat, pedestrian dan jalur sepeda yang lega merupakan gambaran kota impian warga dunia. Sayang, tak banyak kota yang mampu mempersembahkan utopia tersebut untuk warganya. Akibat pembangunan yang progresif, lahan kota makin terbatas, jarak antarbangunan makin rapat, dan jalanan makin sempit dan padat. Berdasarkan penelitian United Nations Environment Programme, 70% penduduk dunia akan tinggal di kota pada 2050. Jika lahan sudah tak ada, di mana manusia sebanyak itu akan bermukim nantinya?

Artikel “Crowded House” di The New York Times (8/6/08) melansir, pada awal milenium ketiga, arsitek Belanda bernama Winy Maas memberi kuliah tentang kota abad 21 di Yale University. Maas menggambarkan kota masa depan sebagai tumpukan kapling-kapling tanah dengan pekarangan-pekarangan yang menggantung di udara. Artikel tersebut menyebutkan bahwa Maas bukan arsitek pertama yang memprotes kekacauan pembangunan, tapi mungkin dia yang pertama menawarkan konsep baru ruang kota: kota vertikal. Pernahkah terbayang tentang kota di atas awan?

 image

image

Gambar 1. Ilustrasi Kota di Bawah Awan dan di Atas Awan. (Sumber: Dok. Pribadi)

Bersama The Why Factory (T?F)—global think-tank dan lembaga penelitiannya, Maas memulai penelitian dengan rentetan pertanyaan: mengapa pembangunan harus diawali dengan penggusuran? Mengapa tidak mengangkat kota ke atas? Dan seterusnya. “The why factor, that requires us to keep asking questions until we reach the answer and thus, the next question.” tegasnya saat pembukaan T?F di Delft University of Technology pada Oktober 2009. Maas yang juga co-founder dari biro arsitektur MVRDV ini menekankan kebutuhan akan penelitian mendalam untuk melahirkan arsitektur yang argumentatif dan dapat mengekspresikan konten yang lebih besar, dalam dan kritikal kepada audiens yang lebih luas. Di hadapan ratusan hadirin, Maas mengungkapkan agenda perdana dari T?F, yaitu The Future City.

imageGambar 2. The Why Factory di Delft University of Technology. (Sumber:http://architecturenews.com)

Salah satu program The Future City adalah The Vertical Village. Program ini menganalisis dan menawarkan solusi atas pertumbuhan kota yang pesat di Asia Timur. The Vertical Village menggabungkan konsep science-fiction dalam arsitektur. Sains yang serba presisi dan terukur, karena didukung data dan riset mendalam, menghasilkan bentuk fiktif—penuh khayalan, fantastis dan jenaka. Maas menegaskan bahwa konsep vertikal merupakan solusi sekaligus protes untuk melindungi lahan kota yang tersisa tanpa harus menggusur.

 imageGambar 3. Ilustrasi “The Vertical Village” (Sumber: http://bustler.net)

 imageGambar 4. Instalasi “The Vertical Village” yang dipamerkan di The Total Museum of Contemporary Art, Seoul. (Sumber: http://totalmuseum.org)

Ide dan solusi dari T?F tentu tidak diterima begitu saja. Mengada-ada, berlebihan, buruk rupa dan merusak wajah kota hanya sebagian dari kritik yang terdengar. Namun, itulah tujuan dari T?F: membuka debat dengan masyarakat. Ketika mayoritas arsitek dan urbanis masih mempermasalahkan konsekuensi spasial yang terjadi akibat kepentingan individu dan kelompok di lahan kota, Maas dan “pabriknya” sudah membawa “kenapa-kenapa?” tersebut ke tingkat yang lebih tinggi. Diawali dengan mempertanyakan kemudian menghasilkan pemikiran yang mungkin bisa (atau sudah) jadi solusi dengan segala pro-kontranya.

Terlepas dari dieksekusinya program-program tersebut atau tidak, berhasil atau tidak, Winy Maas dan T?F merupakan visioner dan pembuka jalan baru di bidang arsitektur dan perkotaan. Jalan tersebut bisa lancar atau berduri, tapi mencoba menembusnya selalu lebih baik daripada mundur atau diam sama sekali. Bangunan, kota, bahkan negeri pencakar langit mungkin terkesan angkuh dan tak mau menginjak bumi, namun Belanda yang sudah berpengalaman dalam membangun negeri di bawah permukaan air kini meninggikan permukaannya dan mencoba bersahabat dengan awan di masa depan. Sky is the limit, why not?

Referensi

Frey, D. (2008, June 8). Crowded House. The New York Times [Online]. Diakses 10 Mei 2013 di:http://www.nytimes.com/2008/06/08/magazine/08mvrdv-t.html?pagewanted=all&_r=2&.
http://thewhyfactory.com. Diakses 10 Mei 2013.
http://unep.org/Documents.Multilingual/Default.asp?DocumentID=2713&ArticleID=9474&l=en&t=long. Diakses 11 Mei 2013.
The Why Factory (Eds.) (2012). “The Why Factor(y) and The Future City”. Rotterdam: NAi Publishers.

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s