KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#436 Electric Nose: Mengendus VOC, Menangkap Tuberkulosis

Leave a comment

Oleh Aldo Ferly

Seorang anak terkulai lemas di ruang isolasi puskesmas Manggarai Selatan.  Badannya sangat kurus,hingga tulang-tulangnya terlihat dengan jelas. Kucoba memulai pembicaraan dengan anak itu dengan menanyakan “Hai manis, namamu siapa?”. Namun, hanya serangkaian batuk basah yang menyambut. Kulihat lembar informasi yang tergeletak di samping tempat tidur anak tersebut. “Oh, namanya adalah Wening”. Dibawah nama tersebut tertulis: “suspek Tuberkulosis.”

Lebih dari 250 ribu orang di Indonesia menderita tuberkulosis(TB)1. Dimana setiap pasien rata-rata membutuhkan US$662 untuk membeli obat-obatan2. Jumlah yang sangat besar, apalagi kebanyakan pasien TB adalah orang tidak mampu.  Celakanya, bukan hanya pasien yang terkena TB yang harus mengkonsumsi obat-obatan anti TB. Melainkan mereka yang diduga terkena TB. Ya, tes tuberkulosis memakan waktu 6 minggu. Lamanya waktu menunggu diagnosis TB ini membawa banyak konsekuensi bagi Wening dan keluarga: gangguan psikologis bagi Wening muda akibat enam minggu isolasi. Belum lagi enam minggu konsumsi obat-obatan yang menguras uang dan menimbulkan efek samping. Ya, kita butuh alat deteksi TB yang efisien

Solusi dari masalah ini adalah electronic-nose, alat diagnosis penyakit tuberulosis instan dengan ketepatan tinggi hasil karya Niki Fens, peneliti di Academic Medical Centre, University of Amsterdam. Pasien cukup menghembuskan nafas kedalam kantung udara. Selanjutnya, komponen pendeteksi senyawa organik yang bernama electronic nose akan mendeteksi keberadaan volatile organic compounds(VOC), senyawa kimia yang dikeluarkan tubuh apabila pasien menderita penyakit tuberkulosis. Selanjutnya, software komputer akan menghubungkan kadar VOC pasien dengan database VOC yang berisi lebih dari 700 kondisi medis secara automatis3.

Proses deteksi breathomics

Metode deteksi TB instan ini sangat cocok untuk diterapkan di Indonesia. Alat ini kecil, mudah dibawa kemana-mana dan nyaman untuk digunakan oleh pasien. Harga alat ini juga terjangkau, cocok untuk kantong negara berkembang seperti Indonesia. Diagnosis juga dapat ditentukan dengan cepat: dalam waktu enam menit, diagnosis TB yang sebelumnya memakan waktu 6 minggu dapat dilakukan. Selamat tinggal obat yang terbuang sia-sia untuk mengobati pasien suspek TB.

Anda pasti tidak akan menyangka darimana Niki mendapatkan inspirasi membuat electronic-noseSchipol Airport. Ia mengamati polisi yang menggunakan alat deteksi VOC portabel untuk mengantisipasi peredaran narkotika. Ya, ada persamaan antara narkotika dan TB: sama-sama memancarkan senyawa organik. Dari situ timbul pertanyaan di benaknya:”Apa jadinya kalau prinsip detektor VOC saya gunakan untuk mendeteksi TB?”. Ia lalu berdiskusi dengan P.J Sterk, peneliti di Universitas Amsterdam. Sterk suka dengan ide Niki dan Ia membantu Niki menyempurnakan idenya, dan mencari uang serta fasilitas untuk mewujudkan idenya.

Deteksi VOC

Ketika seseorang bertanya mengapa Niki bisa terpikir untuk menerapkan sistem deteksi narkoba untuk mendeteksi penyakit paru. Niki menjawab,”I did it because I think outside the box.” Menurut saya, ide kreatif Niki ini bukan hanya buah dari kreatifitas individu melainkan keterbukaan bangsa Belanda terhadap ide baru yang didukung oleh bukti saintifik yang kuat. Berbeda dengan akademisi negara lain yang akan menertawakan “ide bodoh” dari mahasiswanya. Akademisi dari negeri kincir angin berani menelan harga dirinya dan berkata:”let us try this great idea”. Pikiran terbuka dan orang-orang yang tidak terperangkap oleh “harga diri” inilah yang menjadi dua pilar terpenting dari Dutch Pioneer Spirit: A Culture of Innovation.  Kepada produk-produk hasil inovasi budaya inilah, ratusan ribu pasien seperti Wening berterima kasih.

 Referensi

Maher D, Raviglione M. Global Epidemiology of Tuberculosis. Clini Chest Med. 2005;26:167-82.

Russell S. The Economic Burden of Illness For Households in Developing Countries: A Review of Studies Focusing on Malaria, Tuberculosis, and Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome. The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. 2004 August 1, 2004;71(2 suppl):147-55.

Fiehn O. The Volatile Binbase.  2001  [cited 10/5 2013]; Available from:http://vocbinbase.fiehnlab.ucdavis.edu/contributor/members

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s