KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#434 Memperjuangkan Keadilan Melalui Roman

1 Comment

Oleh Nito Gipti

Eduard Douwes Dekker (Multatuli)
1820-1887
(sumber: http://www.maartensz.org)

Pionir bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Meski pada akhirnya banyak orang memberikan apresiasi, namun langkah awal seorang pionir seringkali mendapatkan kecaman berbagai pihak, walau mungkin terobosan yang dilakukan merupakan hal positif dan membawa dampak baik bagi kemanusiaan sekalipun. Dalam hal ini, Eduard Douwes Dekker adalah figur yang pantas untuk menyandang sebutan itu.

Dilahirkan di Amsterdam pada  2 Maret 1820, Eduard kecil merupakan pribadi pemberontak.  Sifat tersebut dibawanya hingga dewasa, tak terkecuali ketika menjadi pegawai pada Pemerintahan Hindia Belanda[1]. Hatinya terusik menyaksikan penindasan di tanah tersebut, sehingga ia sering melawan. Tak jarang, Eduard mendapatkan skors atas sikap frontalnya terhadap pejabat pemerintah.
Ia banyak dikenal di Eropa, ketika novel roman berjudul Max Havelaar diterbitkan. Sebenarnya, Max Havelaar hanyalah satu dari banyak karya Multatuli (nama pena dari Eduard Douwes Dekker). Beberapa karya lainnya adalah ‘Ideen’ (1862-1877), Woutertje Pieterse,Minnebrieven (1861) juga mendapat tempat di Eropa. namun bisa dikatakan bahwa Max Havelaarmerupakan karya yang paling monumental, karena novel tersebut dengan berani menceritakan tentang penindasan pada Rakyat Hindia Belanda yang waktu itu berada dibawah Pemerintahan Kolonial Belanda.

Sampul cetakan pertama Novel Roman Max Havelaar tahun 1860 (Sumber: Wikipedia)

Lantas, kaum konservatif yang ingin mempertahankan kekuasaan di tanah jajahan menentang ‘gugatan’ yang disampaikan Multatuli melalui Max Havelaar. Akan tetapi, dimana pun dan kapan pun, kemanusiaan pasti mendapatkan tempatnya. Maka yang terjadi kemudian adalah adanya dorongan dari kelompok etis Belanda kepada pemerintah agar  kesejahteraan rakyat di tanah koloni lebih diperhatikan. Usaha berantai yang berwujud pada realisasi politik etis.
Novel ini juga menjadi inspirasi bagi beberapa Tokoh Indonesia untuk melawan segala bentuk penindasan. Ir. Soekarno, R. A. Kartini, dan Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh tonggak sejarah Indonesia yang menjadikan Max Havelaar sebagai salah satu inspirasi dalam berjuang.

Prasasti Multatuli yang terletak di Lebak. Di situ tertulis “ Kegembiraan itu bukan pada panen memotong padi, tapi pada panen padi hasil penanaman sendiri” Eduard Douwes Dekker . (sumber: bantenbox.com)

Prasasti Multatuli yang terletak di Lebak. Di situ tertulis “ Kegembiraan itu  bukan pada panen memotong padi, tapi pada panen padi hasil penanaman sendiri” Eduard Douwes Dekker .  (sumber: bantenbox.com)
Ketamakan dapat bersarang pada tiap diri, tanpa memandang dari mana seseorang lahir. Sebaliknya, kemanusiaan juga merupakan sesuatu yang ada pada setiap manusia dari semua bangsa, dan sudah seharusnya setiap bangsa berlaku manusiawi. Apa yang tersebut di atas, merupakan hal yang tersirat dalam karya Multatuli.  Hal ini dapat kita lihat dari cerita  Max Havelaar yang penuh pembelaan terhadap Rakyat Hindia Belanda meski sang penulis berada dari kubu Belanda, dimana sejarah mencatat bahwa saat itu permusuhan sedang terjadi antara keduanya.
Sekarang, di negerinya berasal, Multatuli merupakan sosok yang sangat dikenang. Selain sebutan ‘Multatuli’ diabadikan sebagai nama jalan,  pun Max Havelaar, karya yang pernah mempunyai sejarah kontroversi, kini justru menjadi bacaan wajib pada sekolah-sekolah di Belanda. Museum Multatuli yang berdiri di Amsterdam juga menjadi objek wisata menarik. Semua ini menandakan bahwa Bangsa Belanda tetap menghormati apa yang telah menjadi sejarahnya, tanpa lupa untuk menjadikannya pelajaran.
         Salah satu sudut ruangan Museum Multatuli (Sumber: ANTARA Foto)
Mencermati apa yang telah terjadi dalam sejarah, rasanya tak bijak jika kita hanya melihat semua dengan sebelah mata. Karena pada kenyataannya, hal itu bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi dunia maupun kedua negara, bahwa kearifan adalah penghubung yang lebih kokoh dari apapun.

Bendera Indonesia dan Bendera Belanda (Sumber: republika.co.id)

Pada akhirnya, persahabatan merupakan kata  yang tepat untuk melukiskan hubungan Belanda dan Indonesia saat ini. Kedua negara tersebut bekerja sama dalam bidang pendidikan, politik, perdagangan,  juga budaya. Bagaimanapun, dan tanpa menghilangkan jasa Pahlawan Indonesia yang lain,  pantas dikatakan bahwa Multatuli  telah mengambil bagian untuk mengawali semua ini. Terima kasih Multatuli!

 

[1] Hindia-Belanda dahulu kala adalah sebuah jajahan Belanda, sekarang disebut Indonesia
Referensi
Imanjaya, Ekky. 2010. Amsterdam Surprises.PT. Mizan Publika
Triyana, Bonnie “Gugatan Eduard Douwes Dekker.” http://historia.co.id/?d=932 (diakses tanggal 4 Mei 2013)
F. Isnaeni, Hendri “ Lahirnya Karya Besar.” http://historia.co.id/?d=930
(diakses tanggal 4 Mei 2013)
F. Isnaeni, Hendri “150 Tahun Max Havelaar.”  http://historia.co.id/?d=929
(diakses tanggal 4 Mei 2013)
Metro Files, episode “Nasionalisme Sang Pembelot.”http://www.youtube.com/watch?v=Az4KqDonCtM (diakses tanggal 4 Mei 2013)
republika.co.id
bantenbox.com

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

One thought on “#434 Memperjuangkan Keadilan Melalui Roman

  1. maaf, sekedar memberikan ralat. dalam artikel saya terdapat kesalahan. kesalahan ini ada setelah artikel saya dimuat di blog kompetiblog, karena pada tulisan saya yg sudah terkirim tdk tertulis demikian. Kesalahan terletak pada caption foto prasasti mulatuli yang juga ada pada paragraf setelahnya. padahal pada tulisan asli saya keterangan mengenai foto prasasti multatuli hanya ada di bawah foto persis,dan tidak saya masukkan pada paragraf selanjutnya. Terimakasih banyak untuk koreksinya..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s