KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#381 Indramayu Hingga Belanda: memahami hak akan akses pengetahuan bagi petani di Klub Pengukur Curah Hujan Kabupaten Indramayu

Leave a comment

Indramayu Hingga Belanda: memahami hak akan akses pengetahuan bagi petani di Klub Pengukur Curah Hujan Kabupaten Indramayu[1]

Oleh Muki T Wicaksono [2]

“Nama saya Onno, dengan dua “n”. Saya (bukan) orang Jawa. (tersenyum).” –Onno Giller

Alat Pengukur Curah Hujan (omplong) buatan petani. (Sumber: dokumentasi pribadi Onno Giller)

Alat Pengukur Curah Hujan (omplong) buatan petani. (Sumber: dokumentasi pribadi Onno Giller)

Enam bulan sudah, saya melakukan penelitian bersama seorang mahasiswa asing dari Universitas Wageningen. Namanya seperti orang jawa – Onno (dengan “n” dua). Ia adalah seorang mahasiswa program master (atau S2) yang sedang menyelesaikan tesisnya mengenai jaringan informasi dari ilmuwan ke petani di dalam sebuah asosiasi Klub Pengukur Curah Hujan Kabupaten Indramayu[3] (KPCH Indramayu). Sedangkan posisi saya di sini sebagai seorang mahasiswa program sarjana yang sedang mengumpulkan data lapangan untuk menulis skripsi, sekaligus sebagai penerjemah Onno di Indramayu. Kami berdua melakukan kegiatan penelitian lapangan di areal pertanian Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Saya lebih suka menyebut penelitian ini sebagai “kuliah pendek” selama enam bulan dengan petani Indramayu sebagai “dosen”nya.  Mengapa? Karena dari petani-lah, saya dan Onno belajar banyak mengenai proses adaptasi petani Indramayu di tengah kondisi perubahan iklim.  Ketertarikan mereka mengenai negeri Belanda selalu dimunculkan dengan pertanyan yang sederhana  yang muncul di tengah perbincangan kami dengan petani “kalo kondisi pertanian di negerinya Mas Onno di Belanda sana priwenmas?  ana beli pari-pari kaya neng kene? Mangan nasi juga?”[4] Tulisan pendek ini akan memperlihatkan bagaimana petani KPCH Indramayu membayangkan keberadaan negara Belanda dari perbincangan Onno (warga negara Belanda) yang dikaitkan pada kehidupan sehari-hari mereka, khususnya pada lingkup pertanian.

Bertukar pengalaman akan pertanian Indramayu – Belanda

Belanda bukanlah menjadi wujud yang asing bagi petani Indramayu. Beberapa infrastruktur seperti bendung dan saluran irigasi peninggalan era kolonial masih kokoh berdiri menyuplai kebutuhan air persawahan Indramayu. Petani lebih suka menyebut infrastruktur tersebut sebagai bangunan bapake Onno(bangunan bapaknya  Onno). Karena bangunan tersebut dibangun sekitar tiga atau empat generasi di atas Onno. Ketika melihat Onno sebagai wong[5]Belanda yang doyan makan nasi, petani terlihat heran karena dipandangan mereka orang bule[6] selalu makan roti. Mereka pun ingin tahu apakah di Belanda terdapat sawah? Onno kemudian menjawab there is no paddy field in Holland. We have maize, potato, and wheat as our primary food. But sometime we imported rice from another country. Unfortunately the rice price is expensive enough. Mendengar beras import di Belanda dijual dengan harga yang mahal, petani dengan bergurau ingin mengimport beras Indramayu ke Belanda, daripada mengirimnya ke Jakarta.

Bertukar pengalaman tidak hanya dilakukan dalam perbincangan sehari-hari. Proses bertukar pengalaman antara ilmuwan (agrometeorolog, entomolog, ahli pertanian, dan antropolog) petani pengukur curah hujan.[7]Pertemuan tersebut dilakukan untuk mencari jalan keluar dari masalah kerentanan akibat kondisi alam yang dihadapi oleh petani di lahannya masing-masing. Pada satu pertemuan di bulan November 2012 menjadi contoh yang menarik ketika seorang petani Pak Mun bertanya ke Onno mengenai bagaimana cara mengatasi masalah banjir di areal pertanian pada negara Belanda? Onno menjawab In Holland, farmer pumped water from field to another irrigation canals so the water can used efficiently. Meskipun tidak mendapat jawaban yang memuaskan karena Pak Mun melihat dengan memompa air banjir ke luar sawah amat mahal bagi petani Indramayu karena membutuhkan banyak bahan bakar, ia memahami bahwa kejadian banjir dapat dipahami berdasarkan kegiatan pengukuran curah hujan yang difasilitasi oleh ilmuwan sehingga petani mampu mengetahui kapan periode terjadi banjir yang berbahaya bagi lahan mereka. Pada konteks tersebut saya melihat bagaimana pentingnya akses pengetahuan bagi petani Indramayu. Distribusi pengetahuan dari para ahli yang sebagian berasal dari Belanda menjadi hal yang diserap dan direfleksikan oleh petani dalam memahami kondisi pertanian di lahan mereka masing-masing.  Meskipun bergerak dalam skala kecil dari partisipasi 40 orang petani pengukur curah hujan, keberadaan ruang diskusi antara ilmuwan dan petani menjadi sangat signifikan karena proses diskusi tersebut juga diikuti oleh kegiatan pengamatan yang kemudian digunakan oleh mereka dalam memilih strategi pengolahan lahan padi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Foto Saya (kanan atas), Onno (tengah berbaju hijau), dan Rhino (antropolog-kiri atas berambut panjang) bersama petani pengukur curah hujan.

(Sumber: dokumentasi pribadi Onno Giller, Maret 2013).

Referensi

[1] Tulisan ini dibuat untuk diperlombakan dalam Kompetiblog yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia pada Mei 2013.

[2] Penulis adalah Mahasiswa Aktif Jurusan Antropologi, Universitas Indonesia yang sedang menyelesaikan skripsi mengenai proses pengambilan keputusan pada petani pengukur curah hujan di tengah kondisi perubahan iklim.

[4] Kalau kondisi pertanian di negaranya Mas Onno (Belanda) sana bagaimana,mas? Ada tidak padi-padi kaya di sini? Makan nasi juga?

[5] Orang

[6] Bule adalah sebutan orang Indonesia terhadap orang asing (foreigner) khususnya yang memiliki ras Kaukasoid. Lihathttp://en.wikipedia.org/wiki/Bule.

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s