KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#349 Pertanian di Belanda: belajar dulu, belajar lagi, belajar terus

Leave a comment

Oleh Annisa Nur Ichniarsyah

 “Ngapain kamu kuliah di sana? Ntar kuliahnya pake capingdonkNyangkul di sawah thok

Itu adalah reaksi seorang sahabat saya saat ketika mengetahui niat saya kuliah di bidang pertanian. Tak bisa dipungkiri, imej pertanian adalah‘caping’, ‘sawah’, ‘kotor’, ‘kumuh’, dan sebagainya. Imej seperti itu tak lepas dari kurangnya perhatian pada sektor ini. Masih segar dalam ingatan beberapa waktu lalu terjadi kenaikan harga bawang. Apakah penyebabnya karena supply tidak bisa mengimbangi demand? Mari berkaca ke negeri Kincir Angin.

Dengan luasan yang hanya 0.02 kali wilayah Indonesia, ternyata pertanian di Belanda sudah maju sejak berabad lalu. Hanya saja, hal ini kurang dikenal karena dahulu literatur berbahasa Inggris sangat kurang. Adalah H. Colman berkebangsaan Inggris (dikutip dari Michael Wintle) yang mengungkapkan temuannya dari hasil perjalanannya ke negara-negara di Eropa utara:

Hal ini menunjukkan kemajuan pertanian Belanda dibandingkan negara-negara tetangganya.

 

Topografi Belanda secara umum rata. Perbedaan tingkat kesuburan ditentukan jenis tanah: tanah liat dan berpasir. Daerah yang kandungan liatnya tinggi adalah daerah subur, banyak terdapat di pesisir. Oleh karena itu, daerah-daerah pesisir merupakan penghasil produk pertanian yang berlimpah dan menyuplai kebutuhan daerah lain. Perlu diketahui bahwa melimpahnya hasil pertanian Belanda sebelum 1880-an terjadi tanpa bantuan pupuk buatan. Letak daerah pesisir yang strategis  dan tingginya mobilitas penduduk menyebabkan sejak sebelum abad ke-19 pertanian di Belanda telah terintegrasi penuh dengan pasar yang menunjukkan kemajuan sektor agroindustri.

Komoditas pertanian andalan Belanda saat itu antara lain gandum, sayur-sayuran, dan produk ternak. Hasil pertanian juga bertambah melalui beberapa inovasi antara lain seperti memompa air dari kawasan rendah dengan kincir angin dan menggunakan sistem tanam bergilir agar tanah tidak dibiarkan kosong. Hal inilah yang menjamin keberlangsungan produksi bahan pertanian dari Belanda.

Kemakmuran pertanian Belanda tentu tidak selalu berjalan mulus. Krisis yang melanda pada tahun 1830-1880an menyebabkan Belanda terus bertumbuh. Berikut ini adalah skema cara Belanda menyelesaikan tantangan-tantangannya.

 

Hingga saat ini, Belanda masih menjadi negara yang menjadi acuan bagi perkembangan pertanian holtikultura. Alasannya, karena hampir setengah bagian wilayah adalah lahan pertanian dan 8% adalah hutan. Belanda juga merupakan negara eksportir terbesar ketiga dalam produk pertanian setelah AS dan Perancis. Ditilik dari produksi dan ekspor, sektor holtikultura adalah sektor yang amat penting dalam pertanian Belanda. sekitar 270,000 orang bekerja pada sektor ini dengan nilai 6.5 miliar Euro. Selain itu, berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, Alam, dan Kualitas Makanan Belanda, kelompok terbesar produksi hortikultura dihasilkan dari bunga dan tanaman hias.Yang patut diacungi jempol, hampir seperempat dari ekspor sayuran segar Eropa seperti tomat, jamur, dan biji lada adalah dari Belanda dengan konsumen terbesar adalah Jerman dan Inggris.

Belajar dari pengalaman masa sulit abad ke-19 di atas, menurut Martin Kropff, Rektor Universitas dan Research Wageningen, Belanda melakukan investasi di bidang riset yang menghasilkan inovasi-inovasi di bidang industri pertanian. Industri benih merupakan salah satu penghasil utama pertanian di samping industri bunga. Jika diilustrasikan, sekilogram benih tomat di Eropa lebih mahal daripada sekilogram emas. Itu semua merupakan hasil riset dan teknologi yang dikembangkan Belanda sejak lebih dari setengah abad lalu.

 

Selama manusia masih membutuhkan makanan,

selama itu pulalah sektor pertanian perlu terus dikembangkan – Annisa

Referensi

http://www.bahs.org.uk/AGHR/ARTICLES/39n1a2.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda
http://politikinternational.wordpress.com/2010/08/30/negara-belanda-mampu-hidup-sebagai-negara-maju-hanya-dari-sektor-pertanian/
http://www.enterpriseirregulars.com/1434/nice-dutch-project-using-%E2%80%98waste%E2%80%99-heat-and-co2-to-increase-greenhouse-yields/
http://www.emb-news.com/a000005.php

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s