KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#330 Lambaian Tangannya

Leave a comment

Oleh Fachrul Rozi

Pioneer? Kata yang sangat umum kita dengar terutama dari sebuah bangsa yang besar. Pada kenyataannya bangsa yang besar adalah bangsa yang banyak menghasilkan orang-orang besar, tapi mungkin berbeda dengan orang besar yang berasal dari dua bangsa yang besar. Siapa dia? Founding Fathers!

Pada abad ke-20, ketua Indologen-vereniging baru saja menerbitkan bukunya tentang “Hindia Belanda” dengan berjudul Daar werd wat groots verricht… (Di sana sesuatu besar telah dilakukan…)-suatu apologia bagi pemerintahan Belanda. Inilah persitiwa yang berkesan bagi H. G. Schulte Nordholt, salah seorang mantan pejabat colonial yang berhasil “mentransformasikan” dirinya menjadi ilmuan terkemuka, yang dikisahkan pada pembukaan biografi Mohammad Hatta, yang ditulisnya sebagai salah satu bagian dari buku yang berjudul Pioniers van het Nieuwe Azie.
 
(Monumen Bpk. Koperasi Ekonomi Indonesia – Captured by Fachrul Rozi, January 2010)
Antusiasme yang sangat kuat di bidang pemerintahan sosial, ekonomi dan budaya membuat seorang pioneer yang mengilhami berbagai bidang. Bagaimana tidak? Seorang mahasiswa Indonesia, yang mengenyam pendidikan di sekolah tinggi ekonomi, lulusan Handels Hoge School Rotterdam. Apakah mungkin? Seorang pioneer tentu bisa belajar mengenai kekayaan dunia idan keanekaragaman bangsa. Belajar dari tiap-tiap masing mereka, saling mengenal dan menentukan nilai sahihnya. This is right man in the right place!
Suatu bangsa akan maju bila memiliki jumlah entrepreneur minimal 2 persen dari total jumlah penduduk. Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah siap diolah. Indonesia termasuk dalam ranking 10 besar penghasil tembaga, emas, natural gas, nikel, karet dan batubara. Dan, masih banyak lagi keunggulan komparatif yang kita miliki. Jika Indonesia memiliki jumlah entrepreneur yang cukup dan potensial, Indonesia bisa menjadi pemain Internasional yang handal.  Pada kenyataannya Indonesia hanya memiliki jumlah entrepreneur 0,24 % dari total jumlah penduduk, sementra Belanda memiliki jumlah entrepreneur 12 % dari total jumlah penduduk. Sekembali Bung Hatta dari Belanda, Ia sangat menekankan pertumubuhan pada Usaha Kecil Menengah dan Koperasi. Kemajuan dari entrepreneur sangat ditunjang oleh koperasi yang berkualitas di suatu negara.
            Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1968 (Resolusi 2459/XXIII) dan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB tahun 1969 (Resolusi 1413) juga menggarisbawahi pentingnya koperasi bagi pembangunan social ekonomi negara-negara. Sejak resolusinya yang pertama, yaitu resolusi 2459 (XXIII) mengenai pembangunan koperasi yang disahkan pada tahun 1968, PBB telah berulang kali mengemukakan perlunya peningkatan kemampuan koperasi sebagai salah satu saran bagi pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya seutuhnya dari semua anggota masyarakat (UN, 1983, Resolution VII adopted by the UN Commission on for Social Development in February 1983).
Dengan mempertimbangkan pengalaman-pengalaman yang sudah dilaksanakan di berbagai negara termasuk Belanda, perlu untuk mengadakan beberapa tahapan secara menyeluruh dalam memprakarsai dan mendirikan organisasi-orgasnisasi Usaha Mikro & Koperasi. Jadi, berbagai kebijakan dan program yang diarahkan bagi perintisan dan dukungan timbulnya koperasi harus dirancang sesuai dengan suatu konsepsi yang konisten secara teoritis dan memenuhi syarat kelayakan dalam praktik. Dengan demikian, sekurang-kurangnya akan terdiri atas tiga tahap:
 Tahap I. Ofisalisasi
Mendukung perintisan organisasi koperasi. Prioritas dalam tahap ini bertujuan untuk merintis berdirinya koperasi yang menurut ukuran, struktur, dan kemampuan manajemen cukup mampu untuk memajukan para anggotanya dengan menawarkan barang/jasa yang dibutuhkan untuk memenuhi kepentingan dan tujuan.
Tahap II. Deofisialisasi
Melepaskan koperasi dari ketergantungan teknis, manajerial secara langsung dari organisasi pemerintah. Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk mendukung perkembangan sendiri dari koperasi  ke arah tahap kemandirian dan otonomi
Tahap III. Otonom
Perkembangan selanjutnya dapat ditingkatkan secara tidak langsung melalui kondisi pokok yang sebenarnya yang diciptakan melalui penggabungan yang tepat berbagai instrumen kebijakan yang berorientasi pada organisasi koperasi.
“Terima kasing, Bung! Kami akan melanjutkan perjuanganmu dalam membangun sosial, ekonomi dan budaya. Tanpa dia… Saya sungguh bukan apa-apa.” Hartelijk dank! J
Referensi 
Deliar Noer. Mohammad Hatta Hati Nurani Bangsa. Jakarta: 2012.
Joko Santoso H. P. Opera Indonesia. Jakarta: 2012.

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s