KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#325 Berani

Leave a comment

Oleh Sabri

Tampaknya apapun bisa dilakukan demi bertahan hidup. Alam yang keras menjadikan manusia mencurahkan segala pikirannya untuk menjaga keperiadaan. Dengan tekad baja, Belanda mulai menjelajahi dunia mengikuti tradisi Marcopolo atau Columbus. Lalu, di satu selang waktu, takdir mengarahkan mereka tiba dan menjajah Nusantara, surga rempah-rempah penghangat raga kala musim dingin yang mengiris tiba di negeri Kincir Angin di awal tahun.

Sekelompok bangsa membangun peradaban yang sangat maju di negeri yang daratannya terletak lebih rendah dari permukaan laut, sungguh membutuhkan nyali luar biasa. Membayangkannya sering membuat tercengang. Merintis kehidupan yang bersahabat dengan laut, mereka tidak hanya membendung airnya yang bisa sewaktu-waktu merendam tanah mereka. Hempasan gelombang bagaikan tsunami abadi itu takluk dan bahkan menjadi sahabat.  Mereka hidup bersinergi dengan laut yang airnya laksana darah mereka sendiri. Sungguh, Belanda mencapai peradaban berlandaskan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa.

Dengan kedisiplinan dan etos kerjanya, Belanda merintis rekayasa banyak sisi peradaban, dari fashion hingga football. Meski tim nasionalnya belum pernah mengangkat trofi Piala Dunia, Total Football telah melahirkan Ruud van Nistelrooy, ataupun Robin van Persie yang bertalenta cemerlang hingga diganjar sebagai penyerang termahal Manchester United.

Lalu, bagaimana semua ide kreatif dan solutif itu muncul dari negeri yang populasinya kecil; malah sangat kecil jika dibandingkan dengan Indonesia? Pendidikan yang dikelola dengan baik dan benar? Secara khusus, mari kita lihat Pendidikan Matematika. Matematika, yang bagi banyak siswa di Indonesia terus menjadi momok, oleh Belanda, pembelajarannya direkayasa dengan anggun. Adalah Hans Freudenthal yang mencetuskan Realistic Mathematics Education (RME), inisiatif cerdas yang mengubah arah pembelajaran matematika. Dia tidak mengikuti tradisi New Math Amerika Serikat yang  menjejalkan ide abstrak matematika yang baku ke benak siswa. Dengan RME, belajar matematika dipindahjalurkan menjadi kegiatan matematisasi yang memberi siswa kesempatan menemukan kembali matematika.

Reinventing mathematics sebagai daily activities adalah ide yang brilian. Siswa diberi ruang untuk menapaktilasi keberhasilan matematikawan pendahulu dalam menjawab masalah dengan ide cemerlang yang bertahan abadi hingga kini. Peserta didik diberi kesempatan memadai untuk mengeksplorasi ide di benak mereka. Mereka terpapar ke masalah kontekstual dan diberi peluang menyelesaikannya dengan cara matematika bagaimanapun anehnya. Mereka diberi wadah untuk menjadi Gauss atau Riemann cilik. Dengan matematisasi dalam hidup mereka, siswa disadarkan bahwa matematika ini berguna. Pembelajaran semacam ini sekaligus mempersiapkan mereka melanjutkan pengembangan matematika secara antusias, dengan kesadaran bahwa matematika tidaklah lahir laksana wahyu yang mutlak benar tanpa boleh dipertanyakan.

Lebih empat puluh tahun inisiatif RME tumbuh, berkembang, lalu mendunia. Pemerintah Belanda mendukungnya. Pamor RME demikian kuat, meski bukan mazhab pendidikan yang bebas celaan. Rintisan dan celaan yang menyertainya memang paduan yang niscaya. Sejumlah negara mengadaptasinya, tak terkecuali Indonesia dengan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia. Amerika Serikat, kiblat inovasi pembelajaran, pun mengadopsinya sebagai Mathematics in Context.

Tanpa menafikan kualitas lainnya, perintis sungguh membutuhkan kualitas penting,berani. Sejarah telah membuktikan Belanda memiliki kualitas itu. Lalu, tengoklah negeri kita. Jangankan menggagas inisiatif yang berkelas dunia, merintis Sekolah Bertaraf Internasional di kabupatenpun gagal. Anehnya, negara bukannya membantu mengembalikan alur pelaksanaannya ke jalan yang benar. Malahan diketuk palu untuk membubarkannya lalu menghapus payungnya dalam undang-undang. Kita memang kurang (atau tidak?) berani.

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s