KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#319 Misionaris Belanda, Mewarnai Wajah Pendidikan Indonesia

Leave a comment

Oleh Raymundus Rikang RW

Alumni SMA Pangudi Luhur van Lith[1]

Mahasiswa Ilmu Komunikasi

FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Negeri ini mengenal Belanda tak lebih dari pemerintah kolonial yang berkuasa selama 3,5 abad. Sejarah pendudukan Belanda di Indonesia dibumbui oleh narasi tragis nan ironi soal praktek kerja paksa dan eksploitasi habis-habisan sumber daya alam Indonesia. Wacana dominan itu seakan mengubur realitas bahwa Belanda adalah peletak dasar pendidikan modern di Indonesia.

Orang boleh skeptis terhadap tesis diatas. Namun kenyataannya memang demikian, bahwa Belanda juga melakukan misi karitatif di Hindia Belanda waktu itu melalui karya pendidikan dengan mendirikan sekolah modern di Indonesia.Meskipun menerapkan kebijakan yang berbeda terhadap penduduk pribumi dan anak pemerintah kolonial, namun Belanda secara total mendorong terwujudnya pendidikan bagi anak-anak nusantara.

Karya karitatif itu sebagian besar dilaksanakan oleh para misionaris, sebutan bagi padri gereja yang rela diutus jauh ke tanah misioner selain untuk menyebarkan ajaran agama namun juga melakukan transformasi sosial lewat pendidikan di negeri jajahan. Diantaranya ada Rm. Josephus van Lith, SJ, Rm. Hoovenards, SJ, Rm. Beek, SJ dan masih banyak lagi.Yang menjadi karakteristik gagasan pendidikan dari misionaris Belanda adalah pendidikan integral dengan keutamaan unggul dalam intelektual,kuat dalam kepribadian, dan tanggap terhadap lingkungan sosial.

Paradigma pendidikan yang kini menjadi grand design pendidikan di Indonesia tak bisa ditampik kalau diintrodusir oleh para misionaris Belanda yang notabene tradisi pendidikannya telah mengakar kuat. Ambil contoh Rm. Van Lith yangmendirikan Kweekschool (sekolah pendidikan guru) pada tahun 1904. Bahkan pendidikan formal untuk kaum perempuan pribumi pertama di Indonesia berdiri di Mendut, Borobudur atas inisiatif Rm.Hoovenards, SJ.

Kecenderungan para misionaris Belanda merancang program pendidikan di tanah air ialah berfokus pada pengembangan pribadi secara holistik. Maka, tak mengherankan jika sejak misionaris Belanda datang dan memperkenalkan sistem pendidikan yang integral, muncul kegiatan seperti live-in dan kerja sosial sebagai bagian dari pola pendidikan yang diterapkan di sekolah.

“Siswa perlu tahu bagaimana persoalan riil di lapangan. Merasakan, mencecap, dan merefleksikan semua pengalaman yangdia pelajari dari masyarakat,” kata Br. Albertus Suwarto, FIC, mantan kepala sekolah SMA Pangudi Luhur van Lith, menirukan ucapan Rm. Van Lith, SJ [2].Bahkan kuliah kerja nyata yang kini menjadi kebijakan di universitas merupakan inovas idari ide yang digagas oleh para misionaris Belanda dahulu.

Kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan yang melibatkan para peserta didik ini bertujuan untuk mengasah kepekaan,empati, dan kepedulian siswa perihal lingkungan sosialnya. Dengan harapan,karakter ini menjadi pelengkap dari kecerdasan intelektual yang dimiliki sehingga pengetahuan dan ketrampilan siswa bisa berkontribusi mengentasi permasalahan sosial yang ada di sekitarnya.

 Gagasan brilian dari para misionaris Belanda ini adalah sumbangan besar bagi model pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia dewasa ini. Kini kita bisa melihat bahwa anak-anak muda Indonesia tak hanya cerdas dan pandai namun kegiatan sosial yang terintegrasi telah menghasilkan rasa empati, kepekaan, dan kepedulian sehingga anak muda tergugah untuk mereformasi permasalahan dimasyarakat kini.

Pesan Andy F. Noya, pembawa acara KickAndy, menjadi relevan dengan semangat para misionaris Belanda ini. Demikian bunyinya:

 “Tiap tempat yang kamu kunjungi adalah sekolahmu dan tiap orang yangkamu jumpai adalah gurumu.”

Semangat yang kira-kira serupa dengan gagasanmisionaris Belanda yang menginisiasi karya sosial yang terintegrasi dalam kurikulum sekolah di Indonesia.

 

[1]SMA Pangudi Luhur van Lith merupakan sekolah yang dirintis oleh Rm. Josephusvan Lith, SJ dari Maastrich, Belanda yang dari awal berdirinya sampai saat inikonsisten menerapkan kegiatan seperti live-in,kerja sosial, bakti sosial, PAUD di desa, dan kegiatan sosial bernapaskan karyakaritatif lainnya.

[2]Buku Pedoman Siswa Baru SMA Pangudi Luhurvan Lith. 2012-2013.

SMA van Lith menyediakan kapela (gereja kecil) sebagai tempat berteduh bagi pengungsi Gunung Merapi 2010.

Potret diri Rm. van Lith, SJ. Misionaris Belanda dan salah satu pionir pendidikan terintegrasi di Indonesia dengan mendirikan Kweekschool di Muntilan pada 1904

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s