KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#290 Merekam Masa Depan, Merawat Ingatan

Leave a comment

Oleh Muhammad Fauzan 

Pasar itu sudah tidak ada lagi. Menara mesjid tinggal satu yang bertahan, yang lainnya sudah roboh. Jalan kini menjadi dua lajur, tidak lagi berlubang dan becek. Pedagang sayur pindah entah ke mana.
Sekolah Dasar tutup, murid tak lagi datang mendaftar. Namun plang “Dilarang Berjualan” masih tetap berdiri tegak.

Lalu siapa yang peduli dengan itu semua? Tentang apa yang berubah dan berlanjut di suatu tempat di Indonesia. Kita mungkin tidak. Tapi KITLV iya.
KITLV atau The Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies adalah sebuah lembaga yang rajin melaksanakan pengumpulan informasi dan riset di negara-negara yang pernah menjadi koloni Belanda, termasuk Indonesia. Di negara-negara Asia Tenggara dan Karibia, KITLV telah melakukan banyak inovasi dalam pengembangan kebudayaan.

Tahun 2003, saat nyaris tak ada yang memikirkan, KITLV menjadi pioner sebuah proyek kebudayaan di Indonesia yang diberi nama Recording The Future (Merekam Masa Depan). Idenya sederhana saja, yakni merekam fragmen keseharian denyut nadi kehidupan masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu.

Bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Offstream Film, KITLV mengupayakan arsip audiovisual masyarakat Indonesia selama Abad 21. Ya, proyek ini memang akan dilaksanakan selama 100 tahun. Seorang videographer akan meletakkan kamera di sejumlah tempat di Indonesia, seperti Jakarta, Ternate, Surabaya, Delanggu (Jawa Tengah), Payakumbuh (Sumatra Barat), Kawal (Bintan), Sintang (Kalimantan Timur), dan Bittuang (Tana Toraja).
Setiap empat tahun, sang videographer akan mengunjungi kembali tempat itu, meletakkan tripod kamera di tempat yang persis sama dan merekam semua perubahan dan keberlanjutan di tempat itu. Rekaman akan berlangsung sejak pukul 5.30 pagi sampai pukul 23.00 malam.

Dengan begitu, semua denyut diharapkan tercatat dan menjadi arsip yang sangat berharga di kemudian hari.

Lexy Junior Rambadeta, pembuat film dokumenter dari Offstream yang merupakan salah satu eksekutor ide Recording The Future ini, menganggap ini adalah teknik baru untuk merawat ingatan.
“Kami merekam orang di jalan yang sedang memperbaiki ban, juga merekam bagaimana cara tukang es berjualan dan lain sebagainya. Jika televisi merekam hal-hal yang penting untuk masyarakat, kami justru merekam hal-hal yang nanti akan dilupakan. Karena dalam bayangan saya, dokumentasi yang kami rekam, akan berguna untuk 300 sampai 400 tahun ke depan. Di tahun 2004, kita merekam di suara-suara yang ada di Jalan Fatmawati, di Jalan Gajah Mada dan tempat-tempat lainnya. Kemudian kita rekam lagi nanti tahun 2008. Lalu pada tahun 2012 kita rekam lagi, begitu seterusnya. Dan pasti ada perbedaan suara yang ditimbulkan pada tahun-tahun tersebut,” kata Lexy dalam sebuah kesempatan wawancara dengan Wimar Witoelar untuk program Perspektif baru di tahun 2005.

Referensi

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s