KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#287 Bangsa Belanda: Sang Perintis Pembelajaran Matematika Realistik yang Mendunia

Leave a comment

Oleh Ahmad Wachidul Kohar

gambar RMEUntuk sejenak, lihatlah gambar-gambar di atas. Lalu, pikirkanlah, “Adakah ‘matematika’ di sana?”

Ya, tentu ada. Mungkin sebagian dari Anda berpikir tentang perkiraan banyak telur, nanas, jeruk, atau kue yang ada. Sebagian lagi mungkin berpikir tentang berapa jeruk lagi yang dibutuhkan untuk memperoleh bentuk limas segiempat yang sempurna atau berapa kue lagi yang dibutuhkan untuk mengisi meja makanan hingga penuh. Selanjutnya, strategi apa yang mungkin bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?

Jika kita telusuri lebih dalam, jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut akan menggiring kita kepada konsep-konsep matematika seperti luas bangun datar dan volume bangun ruang. Tentu akan ada banyak strategi yang muncul dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Semakin banyak kita bergelut mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini, kita akan semakin sadar bahwa belajar matematika ternyata sangat demokratis dan sangat erat dengan kehidupan kita.

Belajar matematika yang seperti ini sebenarnya telah mulai banyak diterapkan di kelas-kelas matematika di dunia, termasuk Indonesia.Tahukah Anda, negara mana yang paling berpengaruh besar terhadap perkembangan pembelajaran matematika seperti ini? Ya, Belanda. Negeri kincir angin ini bukan hanya   mampu merintis pembuatan bendungan air laut, namun juga mampu merintis sistem pembelajaran matematika yang sangat memanusiakan manusia. Mengapa demikian? Matematika yang selama ini dipandang sebagian besar siswa sebagai barang abstrak yang sulit dibayangkan, kini telah mulai menjadi pelajaran yang begitu erat dengan kehidupan sehari-hari. Belajar matematika tidak lagi sekedar menghafal rumus dan mengerjakan latihan-latihan soal, namun  belajar matematika adalah membangun sendiri matematika layaknya para matematikawan dahulu menemukan konsep pada matematika tersebut.

Di Belanda, pendekatan pembelajaran   matematika seperti ini disebut dengan RME  (Realistic Mathematics Education).RME dikembangkan oleh  Freudenthal Institute, Utrecht University, Belanda. Proyek pertama yang berhubungan dengan RME adalah proyek  Wiskobasoleh Wijdeveld dan Goffree.

      Universitas Utrecht

Ice berg Vol CubeBentuk dari RME dikembangkan oleh Hans Freudental pada tahun 1977. Menurutnya, matematika harus dihubungkan dengan kenyataan, berada dekat dengan siswa dan relevan dengan kehidupan masyarakat agar memiliki nilai manusiawi. Pandangannya menekankan bahwa materi-materi matematika harus dapat ditransmisikan sebagai aktifitas manusia (human activity) melalui proses matematisasi dari dunia nyata atau yang dapat dibayangkan siswa ke dunia matematika yang bersifat abstrak.

    Hans Freudenthal (1905 –1990)

Pendekatan RME  telah diadopsi oleh sejumlah besar negara di seluruh dunia seperti Inggris, Jerman, Denmark, Spanyol, Portugal, Afrika Selatan, Brasil, Amerika Serikat, Jepang, dan Malaysia (de Lange, 1996). Indonesia sendiri sudah mengadposi teori ini sejak tahun 1998 dengan nama PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) yang saat ini berkantor pusat di kota Bandung. Untuk memperoleh tenaga-tenaga pengembang PMRI, saat ini juga telah diadakan kerja sama antara Utrecht University, Unesa, dan Unsri dengan mengirimkan para mahasiswa S-2 Indonesia yang secara khusus mempelajari RME di Belanda.

Akhirnya, dengan semakin banyaknya negara yang mengadopsi RME, diharapkan semakin baik pula kualitas pembelajaran matematika di dunia ini. Bangsa Belanda dengan inovasinya telah mampu menunjukkan kiprahnya sebagai salah satu bangsa yang tidak hanya merintis inovasi di bidang teknologi saja , namun juga bidang pendidikan. Bab terakhir di buku terakhir Freudenthal (1991) telah menginspirasi Treffers yang juga merupakan pengembang RME untuk mengadaptasi puisi dari penyair terkenal Belanda, Marsman untuk meringkas pendidikan matematika di sekolah dasar Belanda.

Berikut ini puisinya.

Poem Holland

Referensi

Heuvel-Panhuizen, M. (2000).Mathematics education in the Netherlands: A guided tour. Freudenthal Institute, Utrecht University, the Netherlands (online) (diakses darihttp://www.fisme.science.uu.nl/en/rme/TOURdef+ref.pdf
Dickinson, P. and Hough, S. ((2012). Using Realistic Mathematics Education in UK classrooms.(online)
(diakses dari http://www.mei.org.uk/files/pdf/RME_Impact_booklet.pdf )
Situs PMRI. (online)(diakses dari http://p4mri.net/new/)

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s