KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#270 Jejak Belanda di Indonesia

Leave a comment

Oleh Rizka Azizah

Terlepas dari label sebagai penjajah, Belanda punya peran penting dalam membentuk dan menciptakan Indonesia.

Tiga ratus lima puluh tahun menguasai Indonesia, cap negatif sebagai penjajah tak bisa dilepaskan dari Belanda. Terlebih lagi, sejak kita kecil, buku-buku sejarah di sekolah selalu mengidentikkan negara kincir angin ini sebagai penjajah yang melakukan kolonisasi atas kepulauan nusantara, menyebarkan budaya individualis, dan menjunjung budaya kebebasan. Padahal, di balik labelnya sebagai penjajah, Belanda memiliki pengaruh besar dalam pembentukan karakter dan kebudayaan Indonesia. 

Dalam bukunya Nusantara Sejarah Indonesia, Bernard HM Vlekke, menyebutkan, di antara semua daerah di seluruh Indonesia, hanya pulau Jawa lah yang memiliki pengaruh besar terhadap dominasi budaya Belanda. Di pulau Jawa, Belanda mampu menguasai sampai daerah pelosok, sehingga menimbulkan perubahan struktur sosial dan ekonomi di sana.

Nusantara - Sejarah Indonesia

Salah satu pengaruh yang terlihat yakni dalam dunia pendidikan. Di masa itu, sistem pendidikan Indonesia belum terbentuk dan masih identik dengan budaya ‘berguru pada yang pintar’. Selain itu, pendidikan Indonesia ketika itu juga masih bepusat pada kebudayan Islam, ditandai dengan lembaga pendidikan berbentuk pesantren tradisional.

Saat menguasai Indonesia pada abad ke-17, sistem pendidikan Belanda sudah terbentuk. Salah satunya, yakni pembagian jenjang pendidikan berdasarkan tahun. Sistem pendidikan seklah dasar yang harus ditempuh dalam waktu 6 tahun, dilanjutkan sistem pendidikan menengah pertama yang harus ditempuh selama 3 tahun, merupakan perwujudan nyata bagaimana Belanda memengaruhi pembentukan sistem pendidikan Indonesia yang selanjutnya terus digunakan sampai sekarang.

Sistem pendidikan formal bagi penduduk Hindia-Belanda yang diperkenalkan Belanda dulu, secara umum, memiliki tingkatan yang masih sama dengan struktur yang ada sekarang, yaitu:

• Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar bagi orang Eropa
• Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar bagi pribumi
• Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama
• Algemeene Middelbare School (AMS), sekolah menengah atas

Sejak tahun 1930-an, Belanda memperkenalkan pendidikan formal terbatas bagi hampir semua provinsi di Hindia Belanda. [1]

Aktivitas belajar yang dilakukan di dalam ruang kelas juga merupakan peninggalan Belanda. Peserta belajar dibagi dalam setiap kelas berbeda, duduk berbanjar menghadap ke depan, dan si pengajar yang berdiri di depan kelas. Model belajar seperti ini sudah diterapkan oleh Belanda, terhitung sejak masa skolastik di Eropa. [2]

inlandse-landbouwschool-op-java-1915

Sistem belajar di kelas sudah mulai diterapkan di sekolah Hindia-Belanda
sumber: http://baltyra.com/2012/09/27/kondisi-dan-perkembangan-pendidikan-di-hindia-belanda-awal-abad-xx/

Dominasi budaya Belanda di Jawa juga menyisakan terbentuknya budaya Indis. Dari website infoakademika.com, buadaya Indis diartikan sebagai percampuran antara kebudayaan Jawa dan Eropa (khususnya Belanda), yang telah meninggalkan jejak-jejak budaya di Indonesia.

Kebudayaan tersebut mencapai masa kejayaan di Indonesia pada masa VOC sampai masa pemerintahan Hindia Belanda. Pada awalnya, kebudayaan Belanda mendominasi wilayah Jawa, tetapi lama-lama, kebudayaan ini mulai meluas ke semua wilayah di Indonesia lewat perkawinan antara orang Indonesia dan orang Belanda. [3]

gereja_blenduk_semarang

Seiring waktu, budaya Indis sudah makin punah. Bangunan bersejarah peninggalan Belanda –yang sebenarnya juga bagian dari sejarah nasional- mulai banyak yang diruntuhkan, lalu diganti dengan gedung-gedung bertingkat, yang didesain dengan lebih modern atau dianggap lebih beratmosfer Indonesia. [4]

Sebaliknya, bagi Belanda sendiri, kebudayaan Indis justru tetap dilestarikan dengan baik. Hal itu terwujud sempurna melalui kerjasama antaa Erasmus Huis dengan tiga pusat kebudayaan Jawa di Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya.  Tak hanya itu, setiap tahunnnya, pemerintah Belanda menggelar Pasar Malam Indonesia yang diadakan di Den Haag.

581808_608746065805596_1998777651_n

Sebuah kenyataan konkrit yang seharusnya menjadi pendorong kita, orang Indonesia, untuk semakin menghargai sejarah sekaligus melestarikan warisan budaya bangsa.

Referensi

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_di_Indonesia
[2] http://ramahadindamanik.blogspot.com/2010/05/pengaruh-kolonialisme-belanda-terhadap.html
[3] http://www.infoakademika.com/kebudayaan-indis-dari-zaman-kompeni-sampai-revolusi-djoko-soekiman/
[4] setabasri01.blogspot.com

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s