KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#269 Harum Karena Belanda

Leave a comment

Oleh Rizka Azizah

Justru karena Belanda, perjuangan perempuan Jawa ini diakui di Indonesia

Di akhir era 1800-an, seorang perempuan ningrat Jawa asal Jepara yang tengah menjalani masa pingitan, memasang iklan ‘ingin mencari sahabat pena’ di majalah terbitan Belanda De Hollandsche Lelie. Lewat iklan itu, ia pun berkenalan dan menjalin korespondensi panjang dengan sahabat barunya: Estelle Zeehandelaar, JH Abendanon, dan Rosa Manuela. [1] Lewat sejumlah surat yang ditulisnya, perempuan itu mencurahkan isi hati terkait dengan nasib kaumnya di Indonesia saat itu: dipingit, dinikahkan dengan pria tak dikenal, lalu dimadu. Atas inisiatif ketiga sahabatnya di Belanda, beragam tulisan perempuan yang kritis dan visioner itu kemudian diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Door Duisternis Tot Licht. Beberapa tahun kemudian, buku itu kembali diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Perempuan itu adalah Raden Adjeng Kartini, sang pejuang emansipasi. 

ra-kartini (1)

Kartini, putri ningrat yang semasa hidupnya sempat merasa frustasi karena terkurung dalam pingitan, diam-diam melakukan perlawanan lewat tulisan dan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda. Belakangan, jalinan korespondensi panjang itulah yang membuka mata dunia tentang sosok gadis Jepara itu.

Beberapa tahun setelah Kartini wafat, sebanyak 115 buah surat-suratnya diterbitkan dalam buku berjudul Door Duisternis Tot Licht pada 1911. Buku itu langsung mengguncang Amsterdam. Penjualannya laris, dan dicetak berulang kali. Karya Kartini itu menjadi sangat diminati di Belanda, karena ditulis dalam bahasa Belanda yang cukup baik.

ABENDANON

Rasa terimakasih hendaknya diberikan kepada JH Abendanon yang berinisiatif mengumpulkan 115 surat-surat Kartini, dalam bentuk buku. Bila ia tak melakukannya, mungkin hingga detik ini pun, kita tidak akan pernah tahu bahwa ada perempuan Jawa visioner dan jenius yang pernah hidup di tanah ibu pertiwi.

kartini_buku

Di zaman yang masih ‘sekuno’ itu, pikiran Kartini sudah terbilang maju, melampaui pemikiran perempuan seusianya. Kepada ketiga sahabatnyadi Belanda, Estelle Zeehandelaar, JH Abendanon, dan Rosa Manuela, Kartini berani menyuarakan kekesalannya terhadap aturan Jawa yang mengikat, poligami yang dianggap merugikan wanita, serta sikapnya yang begitu terbuka dengan perbedaan. Semua itu termuat lengkap di buku Habis Gelap Terbitlah Terang, hasil ‘kerja keras’ para sahabat Kartini di Belanda yang telah mengumpulkan ratusan suratnya.

Hingga saat ini, di Belanda, urusan melestarikan sejarah juga tak main-main. Adalah Perpustakaan Institut Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia (KITLV), di Leiden, yang masih menyimpan ratusan surat dan lukisan karya Kartini dengan sangat baik. Tak hanya itu, Abendanon juga sengaja menyimpan beberapa cindera mata berukiran kayu yang Kartini berikan untuknya, kemudian disumbangkannya ke perpustakaan ini. [2]

KITLV-gebouw_Leiden

Nama Kartini tak hanya harum di tanah air, tetapi juga di Belanda. Namanya pun diabadikan sebagai nama jalan di 4 kota di Belanda, yakni di Amsterdam, Utrecht, Harlem, dan Venho. [3]

Kartinistraat1000

Salah satu kawasan yang menggunakan nama Kartini sebagai nama jalan
sumber: http://www.indonesiaberprestasi.web.id

Mungkin, bila saja JH Abendanon dan kawan-kawannya tidak berinisiatif mengumpulkan surat-surat Kartini semasa hidup, tidak akan pernah ada julukan pejuang emansipasi wanita ataupun pahlawan nasional bagi Kartini. Kenyataannya, di tangan para sahabat Belanda itulah beragam pemikiran dan gagasan kritis Kartini tentang feminisme terungkap. Di tanah airnya sendiri, kapabilitas Kartini sebagai perempuan penggerak emansipasi baru ‘diakui’ pada 1922, tepatnya sebelas tahun setelah Door Duisternis Tot Lichtditerbitkan.

Referensi

[1] Majalah Tempo Edisi Khusus Kartini, 22-28 April 2013
[2] http://www.kitlv.nl
[3] www.indonesiaberprestasi.web.id

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s