KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#254 Industri film 3D animasi Belanda yang Hidup dan Menghidupkan

4 Comments

Oleh Adien Dendra 

Tahukah bahwa industri film 3D animasi di dunia termasuk Indonesia banyak yang ‘Hidup’ dikarenakan sejarah yang panjang dari industri film 3D animasi Belanda?! Belanda merupakan pelopor film 3D animasi dunia setelah Amerika, artikel ini akan membahas mengapa Belanda justru yang ‘Menghidupkan’ industri film 3D animasi di dunia.

Pada tahun 1988 tersebutlah perusahaan yang bergerak dibidang animasi yang dinamakan NeoGeo. Saat itu NeoGeo merupakan bagian dari perusahaan animasi terdepan di Eropa. Melalui riset yang panjang oleh Ton Roosendaal, seorang pengembang software dan Art Director dan timnya, pada tahun 1995 munculah software 3D animasi yang dinamakan Blender. Pada tahun 1998 Ton mendirikan perusahaan yang bernama Not a Number (NaN). Dengan visi untuk menciptakan sebuah software 3D yang padat, cross platform, gratis dan dapat digunakan oleh masyarakat umum.

Perjalanan industri NaN tidak semulus yang dicita-citakan, pada tahun 2001 NaN terpaksa tutup karena minat yang rendah dari pelaku industri 3D animasi. Namun Ton tak ingin Blender hilang begitu saja, akhrinya Ton mendirikan organisasi non-profit yang dinamakan Blender Foundation. Pengembangan Blender terus berlanjut hingga saat ini dan tujuan utamanya adalah terus mempromosikan dan mengembangkan Blender sebagai proyek open source.

Lalu seberapa besar dan banyak karya yang telah dihasilkan dengan software Blender? Banyak sekali! Sebut saja salah satu film pendek terkenal yang diproduksi oleh Ton beserta animator Belanda yang  banyak mendapakan penghargaan di ajang festival film pendek Eropa, Big Buck Bunny (2008) http://www.youtube.com/watch?v=cbZu9f8oAsU .

Big Buck Bunny

Big Buck Bunny, Blender Foundation, Amsterdam

Dari berbagai prestasi software Blender sudah sewajarnya para 3D animator, artist serta pelaku industri 3D animasi mengapresiasi, karena dengan Blender produksi film 3D animasi tidak perlu lagi mengeluarkan biaya lisensi. Untuk satu lisensi software 3D animasi (selain Blender) seperti Maya, 3dsMax atau SoftImage bisa menembus angka $3000- $4000. Nominal yang sangat besar untuk biaya produksi sebuah film 3D animasi!  Hal tersebut bukanlah masalah untuk perusahaan sebesar Pixar atau Dreamworks. Namun bagaimana dengan industri 3D animasi skala kecil?!

Di Indonesia, industri 3D animasi hampir semua berskala kecil dan mereka menggunakan software Blender, sebut saja Songgo Rubuhhttp://tinyurl.com/cezm39y dan Kuku Rock Youhttp:/tinyurl.com/d2vmsno, dari Digital Global Maxinema Malang, Uwa dan Rimba Indonesia http://tinyurl.com/bqnkxal dari Studio Hicca Jogja,  Hebring http://tinyurl.com/bqqn4d8 dari Main Studio Jakarta, dan masih banyak lagi.

Pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia seperti Industri desain visual, termasuk animasi diperkirakan antara 10% – 15% per tahun dengan market size hingga Rp 5 triliun. Pemerintah merespon positif perubahan ini dengan menjadikan tahun 2009 sebagai tahun kebangkitan ekonomi kreatif.  Saya  sebagai 3D animator sangat optimis dengan kemajuan industri animasi di Indonesia, dengan melihat peningkatan kualitas, sumber daya manusia maupun dari jumlah studio animasi. Selain dukungan pemerintah, sangatlah logis jika kita menarik kesimpulan bahwa biaya produksi sangat tergantung dari software yang dipilih dan sumber daya manusia yang berkualitas.

Itulah liku kecil dari industri 3D animasi, namun sebenarnya akan jadi liku yang besar jika para pelaku industri salah menetukan arah. Ditengah dilematis tersebut, Ton Roosendal dengan cerdas memberikan solusi untuk menekan biaya produksi dengan hadirnya Blender. Sampai saat ini, siapa sangka industri 3D animasi tanah air Indonesia yang mulai hidup, tak lepas dari industri animasi Belanda yang hidup serta menghidupkan?!

 songgo-rubuh-211x300

Songgo Rubuh, Digital Global Maxinema, Malang

 kukurock-you

Kuku Rock You, Digital Global Maxinema, Malang

 uwa1

Uwa dan Rimba Indonesia, Hicca Studio, Jogja

hebring

 Si Hebring, Main Studio, Jakarta

Referensi

http://www.blender.org/blenderorg/blender-foundation/history/
http://www.ideanimasi.com/2011/11/20/pemerintah-tekan-pengangguran-2010-lewat-industri-animasi/
http://www.kickdody.com/berita-140-pakai-blender-buat-animasi-tidak-lagi-mahal.html
http://dodyanimation.com/2012/07/22/wawancara-dengan-hiza-ro-kapten-blender/
http://www.its.ac.id/personal/files/pub/3248-djokokuswantost-proceeding%20edit.pdf

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

4 thoughts on “#254 Industri film 3D animasi Belanda yang Hidup dan Menghidupkan

  1. gimana dengan industri animasi milik jepang gan?

  2. Sip nih… share ke blog ku boleh gak Bung?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s