KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#228 Cornelis Chastelein dan Semangat Egaliternya

Leave a comment

Oleh Sisca Kosasih

“Sejarah kehidupan adalah sejarah perbudakan.” kata pujangga. Di Depok, Jawa Barat, sejarah perbudakan ini bagaikan tema film yang berdiri sendiri menunjukkan perbedaannya. Pergilah ke jalan Pemuda,Depok Lama, perbatasan antara Perumnas Depok I dan II, dan dapatkan cerita mengenai para Belanda Depok dan tentu saja, Cornelis Chastelein.

Chastelein merupakan seorang Perancis-Belanda, berkebangsaan Belanda, dan pegawai VOC ketika ia tiba di Batavia pada akhir abad XVII. Ia diperkirakan berusia 38 tahun saat itu dan merupakan sosok pemuda yang cerdas. Karirnya menanjak di VOC, dan terakhir dapat membeli tanah seluas 1.224 Ha di daerah sekitar Stasiun Depok Lama sekarang ini. Merasa tidak ada kecocokkan lagi dengan pemimpin VOC yang baru, ia pun memilih tinggal dan menggarap lahannya di Depok.

Untuk mengolah pertanian dan perkebunan pada lahan seluas itu, ia mendatangkan 150 buruh dari berbagai penjuru, seperti Sulawesi, Kalimantan, Bali,Maluku, dan lainnnya, dari pasar budak. Saya menyebut mereka buruh pada awal alinea, sebab mungkin itulah pandangan Chastelein sendiri terhadap mereka—bukannya budak—yang akan ditunjukkan dengansikapnya sendiri.

Jangan bayangkan budak Spartacus seperti pada zaman Romawi kuno. Jangan pula membayangkan Broomhilda, gadis Afrika yang mendapat perlakukan keji dari majikannya di film Django Unchained. Malahan cita-cita Chastelein adalah untuk membentuk suatu tempat yang menyenangkan, termasuk untuk para “budak”-nya.

Tak heran, pagi dan siang mereka menerapkan keahlian bertani mereka, malamnya mereka difasilitasi belajar layaknya orang Belanda. Mereka mendengar musik Belanda dan anak-anak mereka bersekolah di sekolah yang sama bagi anak-anak keturunan Eropa. Sebagai umat Protestan yang taat,Chastelein juga memberikan pendidikan agama Kristen Protestan untuk buruh-buruhnya.Tiada lagi batasan perlakuan bagi orang Eropa, TimurAsing, dan Indonesia Pribumi yang berlaku di kawasan lain di Nusantara.

Gaya hidup kebarat-baratan inilah yang menyebabkan para “budak” dan keturunannya kelak disebut Belanda Depok. Posisi mereka sebagai orang yang sangat terdidik—bila dibandingkan orang kampung di sekitaran Depok lainnya—juga memberikan dampak negatif terhadap citra nasionalisme mereka kala itu. Akan tetapi kita boleh menebak masyarakat sebenarnya haus akan rasa egaliter yang didobrak oleh sangtuan tanah yang baik, Chastelein.

Apalagi setelah Chastelein meninggal, semua budak dimerdekakan asal mereka mau memeluk Kristen Protestan. Mereka juga diwarisi tanah yang selama ini mereka garap, dan yang paling penting mendapat marga baru yang menunjukkan mereka sebagai manusia yang berdaulat penuh. Kalau sebelumnya mereka hanya komoditi yang diperjualbelikan di pasar budak, mereka kini ialah manusia seutuhnya. Lebih dari itu, mereka berpendidikan dan mendapat asupan seni yang baru, dengan kata lain mereka lebih humanis.

Sebagaimana kata Frederick Isach, salah satu keturunan Belanda Depok, tujuan Chastelein memberikan 12 marga (Soedira, Leander, Laurens, Jonathans,Loen, Tholense, Samuel, Joseph, Bacas, Jacob, Isach, Zadoch) ialah untuk saling mengasihi, berbagi rasa, tidak ada besar atau kecil. Semangat egaliter yang secara formal tercetus pada revolusi Perancis, telah dipraktikkan oleh orang Belanda itu.

Tak heran hingga kini komunitas Belanda Depok di bawah Yayasan Lemabaga Cornelis Chastelein masih mengenang “bapak” mereka dan dengan sepenuh hati menjaga sisa warisannya, seperti Gereja Immanuel, lapangan sepak bola, pemakaman, sekolah, dan rumah sakit. Ini bukan romantisme masa lalu, inilah sejarah Depok, “film” bertema budak yang lain daripada yang lain.

Referensi
Feature”Mimpi Indah Cornelis Chastelein di Depok”. Harian Kompas.Jakarta: 22 Desember 2011.
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/1428/sisa-sisa_belanda_depok
http://www.lenteratimur.com/hikayat-negara-depok/
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/depok-peninggalan-orang-belanda-chastelein(Radio Nederland Wereldomroep Indonesia)
http://www.soedira.com/depoklama.htm

Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC). YLCC didirikan setelah Chestelein wafat pada 1714 pada usia 56 tahun. Sumber: http://www.rnw.nl/

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s