KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#220 Makanan Bukan Cuma Urusan Perut, Tapi Juga Urusan Akademis…!

11 Comments

Oleh Zulkifli

“If you take food your basis, you can follow that continuity very well. People have to eat every day…But just single day without food is next to impossible”

Kalimat tersebut bukan merupakan pepesan kosong belaka. Katarzyna J. Cwiertka, profesor pada Leiden University Institute for Area Studies (LIAS) berpendapat demikian.[1] Baginya makanan bukanlah urusan konsumsi perut semata tapi makanan juga merupakan sebuah diorama’ perjalanan panjang dari akulturasi kebudayaan. Tetapi bagaimana ini terjadi….?

Jawabannya kolonialisasi…! Ya melalui kolonialisasi makanan dapat menjadi bahasan akademis. Beberapa contohnya adalah kolonialisasi Jepang di Korea Selatan yang mewariskan kecap serta kolonialisasi Belanda di Indonesia yang meninggalkan istilah penyajian makanan Rijsttafel.

Gambar 1. Kolonialisasi Jepang di Korea Selatan menyisakan kecap dan Kolonialisasi Belanda di Indonesia meninggalkan Rijsttafel

Melalui riset Cwiertka tentang “What soy sauce can teach us about the history of South Korea” menemukan bahwa kecap yang banyak digunakan pada kuliner Korea Selatan justru berasal bukan dari Korea Selatan sendiri, tetapi berasal dari Jepang. Ini disebabkan karena selama perang dalam proses kolonialisasi Korea Selatan prajurit Jepang membutuhkan persediaan makanan yang banyak namun mengalami keterbatasan persediaan makanan. Untuk efisiensi dan menambah variasi rasa dalam keterbatasan makanan tersebut maka Jepang menggunakan campuran tambahan seperti vitamin pill, bubuk ragi dan bahkan heroin untuk meghidupkan semangat tentara Jepang dalam peperangan.[2] Hasilnya adalah campuran ini menjadi kecap dan terkenal di Korea Selatan. Ketika Korea Selatan merdeka dan Jepang pergi pada tahun 1945 kecap tetap tinggal di Korea Selatan sebagai warisan kuliner dari Jepang.

Sementara Rijsttafel (dari Bahasa Perancis ris berarti beras; tafel dari Bahasa Belanda berarti meja = Ricetable = Rijsttafel) merupakan cara penyajian makanan Indonesia dengan beragam pilihan menu makanan. Rijsttafel diadopsi Indonesia dari Belanda saat masa kolonialisasi karena rijsttafel sendiri berasal dari Eropa. Dalam suatu penyajian rijsttafel dapat terdiri dari 30 jenis makanan berbeda dari Indonesia. Sekarang rijsttafel hampir jarang ditemukan di Indonesia namun masih dapat ditemukan di restoran Indonesia di Belanda. Walaupun rijsttafel sudah jarang ditemukan di Indonesia namun Nasi Padang sering disebut sebagai rijsttafel asli versi Indonesia karena dalam penyajiannya terdiri dari berbagai macam menu makanan yang beragam.[3]

Gambar 2. Another Perspective: Kunci Belanda menghasilkan hal-hal baru

 Belanda dikenal sebagai bangsa yang mampu melihat suatu permasalahan dari perspektif lain sehingga mampu menghasilkan solusi inovatif baru yang berujung pada kepeloporan (pioneer). Dengan prinsip “I want to do something that hasn’t been done beforetelah mampu menghasilkan temuan-temuan terbaru di Belanda.[4] Contohnya adalah riset mengenai makanan yang bagi banyak orang mungkin bukan bahasan akademis, namun di Belanda (khususnya Leiden University) hal ini dapat menjadi bahasan akademis yang menarik.

Gambar 3. Katarzyna J. Cwiertka dan buku tentang makanan hasil risetnya

Di Leiden University tumbuhnya budaya inovasi menuju pionir didorong dengan adanya konsep riset melalui Veni-Vidi-Vici grant.[5] Melalui konsep Veni-Vedi-Veci grant telah banyak dihasilakan inovasi riset terbaru yang unik. Salah satu hasilnya adalah riset Cwiertka. Bagi Cwiertka melakukan riset tentang makanan pada masa kolonialisasi dan membahasnya menjadi bahasan akademis merupakan sebuah tantangan yang menarik. Tak ubahnya seperti filosofi Veni-Vedi-Vici (Saya datang, Saya melihat, Saya menang) maka hal ini juga berlaku bagi riset Cwiertka. Melalui Veni-Vedi-Vici grant Cwiertka berhasil membuktikan bahwa melakukan riset yang unik akan berujung pada suatu hasil yang sangat kontributif. Jadi tidak mengherankan jika makanan bukan cuma urusan perut saja kan, tetapi juga urusan akademis…?

Referensi

[1] http://www.leidenuniv.nl/en/researcharchive/index.php3-c=223.htm
[2] http://www.leidenuniv.nl/en/researcharchive/index.php3-c=223.htm
[3] http://jamesoseland.com/2006/04/a-tableful-of-spice/
[4] http://news.leiden.edu/news-2013/vici-winner-cwiertka-i-am-contrary-by-nature-.html
[5] http://www.about.leiden.edu/laureates/national/veni-vidi-vici.html

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

11 thoughts on “#220 Makanan Bukan Cuma Urusan Perut, Tapi Juga Urusan Akademis…!

  1. Wah…baru tau kalo ada riset tentang makanan zaman kolonialisasi segala…
    Belanda emang keren ya dengan segala inovasi dan kepionirannya.
    Artikel yang menarik!
    Semoga beruntung Zul!😉

  2. Hehe gw juga taunya karena berlangganan Newsletter dari Leiden University jadi dapat inspirasi buat nulis artikel ini. Thanks Ricky, semoga hasilnya memuaskan🙂

  3. Pingback: Finalis Kompetiblog 2013 | KOMPETIBLOG 2013

  4. Semangat zul.. Informasi baru nih🙂 semoga berhasil ya🙂 nice article🙂

  5. Makasih Shintia. Senang bisa berbagi informasi baru, semoga hasilnya memuaskan deh🙂

  6. wah kalo ada kuliah ginian di utrecht summer school enak kali ya. unik zul artikelnya. good luck!🙂

  7. Leiden University sangat dekat di hati keluarga kami. Semenjak Eyang saya, Mr. Soedibjo Wirjowerdojo yang adalah alumnus dengan titel Meester in de Rechten pada tahun 1949, dan sempat ikut serta dalam kedelegasian Konferensi Meja Bundar, hingga mengumumkan penggantian nama kota Batavia menjadi Jakarta bersamaan dengan kesepakatan berdirinya Republik Indonesia Serikat. Tulisan adik Zulkifli sangat menarik dan cerdas. Terima kasih untuk sharingnya.

    • Wah saya sangat senang Pak Krishna bisa berbagi mengenai perspektif lain dari Leiden University sesuai dengan artikel ini dan membawa memory indah keluarga Pak Krishna🙂 Saya memang menjadikan Leiden sebagai daftar urut pertama saya untuk melanjutkan master, khususnya di bidang Air and Space Law. Dua dosen saya juga alumni dari Leiden dari master International Relations and Diplomacy dan Air and Space Law, sangat menginspirasi mereka. Terima kasih Pak Krishna telah berkunjung ke artikel saya.

  8. wah, ulasan yang menarik zul..:)
    Soalnya kakak termasuk seseorang yang lagi berjuang dalam belajar masak, karena katanya masak itu adalah seni, tulisan kamu ini buat kakak makin mantap untuk belajar seni menyajikan makanan yang sesuatu,hehe *curcol,

    aniway sukses ya zul..
    **oh ya, utk votenya dimana?? atau leave comment uda termasuk vote??? Semoga menang ya…:)

  9. Wah teruskan belajar masaknya Kak Ayu, I’m looking forward suatu hari nanti Kak Ayu bisa ikut Masterchef…hehehe…🙂 Anyway, terima kasih banyak ya Kak Ayu udah berkunjung ke artikel ini. Untuk vote sih sebenarnya bukan jadi faktor penilaian dominan, yang lebih dinilai orisinalitas gagasan, kreatifitas, koherensi, kualitas informasi sama kesesuaian tema ‘Dutch Pioneering’. Tapi dengan adanya comment I appreciate most Kak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s