KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#164 Dutch Pioneering : Homy City for The Urban Birds

11 Comments

Oleh Miranti Ariyani

Mungkin hal yang pertama kali terlintas di benak kita ketika mendengar atau membaca mengenai lokasi konservasi adalah wilayah-wilayah yang kelestariannya masih terjaga seperti cagar alam atau suaka margasatwa. Namun, beda halnya dengan negara yang terkenal dengan dam dan kincir anginnya ini. Di Belanda, konservasi tidak hanya dilakukan di wilayah-wilayah yang keasriannya masih terjaga, namun juga dilakukan di wilayah perkotaan. Belanda dikenal sebagai negara yang tingkat urbanisasinya sangat tinggi di dunia sehingga pertumbuhan kota-kota di Belanda sangatlah pesat. Pemerintah Belanda menyadari bahwa pesatnya pertumbuhan kota akan mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman hayati khususnya burung yang awalnya mendiami wilayah perkotaan tersebut. Berkurangnya keanekaragaman burung di wilayah perkotaan menunjukkan indikator dari kualitas hidup di perkotaan. Semakin banyak burung yang mendiami wilayah perkotaan, semakin baik kualitas hidup di wilayah tersebut, karena burung merupakan suatu indikator apakah  suatu lingkungan telah tercemar atau tidak.

    

Gambar 1. Masyarakat di Belanda yang bebas bercengkrama dengan burung (Sumber : http://www.botaanikaaed.ee/wp-content/uploads/2011/10/4-Birgit-Brenninkmeijer-Urban-bird-conservation-in-NED.pdf)

Vogelbescherming Nederland atau yang lebih dikenal dengan Birdlife Netherlands merupakan satu-satunya organisasi di Belanda bahkan di dunia yang memiliki ide untuk menggabungkan konsep konservasi burung dengan arsitektur bangunan di wilayah perkotaan. Birdlife Netherlands didirikan pada tahun 1899 dengan misi Together for Birds and People. Birds of urban areas merupakan satu dari empat program utama organisasi ini yang bertujuan untuk melakukan konservasi burung di wilayah perkotaan. Program ini dimulai dengan diadakannya kerjasama antara Birdlife Netherlands dengan perusahaan kontraktor terbesar di Belanda yaitu Bataafsche Aanneming Mij (BAM) untuk membangun gedung dan perumahan yang ramah terhadap burung. Kerjasama ini bertujuan untuk mengubah bangunan-bangunan di Belanda yang memiliki nilai konservasi yang kecil, seperti atap rumah atau gedung yang berbahaya bagi  burung, menjadi bangunan yang dapat didiami dengan aman oleh burung.

       Gambar 2. Perbandingan atap rumah tradisional (A dan B) dengan atap rumah yang aman bagi tempat tinggal burung (C dan D) (Sumber : http://www.botaanikaaed.ee/wp-content/uploads/2011/10/4-Birgit-Brenninkmeijer-Urban-bird-conservation-in-NED.pdf dan http://inthralld.com/2013/01/a-home-for-the-urban-bird-a-birdhouse-rooftile-by-klaas-kuiken/)

Tidak hanya menitikberatkan pada arsitektur bangunannya, konservasi burung di wilayah perkotaan di Belanda juga menitikberatkan keberadaan dari area hijau baik itu berupa green roofs atau green wall di setiap bangunan yang didirikan. Green wall ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal bagi burung namun juga berperan dalam memperbaiki kualitas udara dan peningkatan suhu di wilayah perkotaan. Pada akhirnya hal ini tidak hanya  berdampak positif bagi burung namun juga pada masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut, karena keberadaan burung tidak hanya menjadi sarana edukasi bagi masyarakat sekitar, namun juga berkontribusi positif terhadap terbentuknya lingkungan yang nyaman untuk ditinggali.

Gambar 3. Green Wall, komponen yang terintegrasi dengan bangunan di wilayah perkotaan (Sumber : http://urbanbirdscapes.com/blog/wp-content/uploads/2012/11/VBN-Green-Wall.jpg)

Walaupun bangsa kita memiliki pengalaman yang pahit di masa lalu dengan Belanda, ada baiknya, jika bangsa ini juga meniru konsep tersebut. Memperbaiki lingkungan dimulai dari lingkungan terdekat dan dimulai dari hal yang kecil. Burung mungkin adalah spesies yang sering kita abaikan keberadaannya, karena ukurannya barangkali atau karena persepsi kita yang terlalu antroposentris, padahal spesies ini memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan kita. Alangkah baiknya jika negara Indonesia yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati, memulai aksi konservasi dengan konsep tersebut. Toh, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai hal-hal kecil bukan?

Referensi

http://www.botaanikaaed.ee/wp-content/uploads/2011/10/4-Birgit-Brenninkmeijer-Urban-bird-conservation-in-NED.pdf
http://inthralld.com/2013/01/a-home-for-the-urban-bird-a-birdhouse-rooftile-by-klaas-kuiken/
http://urbanbirdscapes.com/blog/wp-content/uploads/2012/11/VBN-Green-Wall.jpg
http://urbanbirdscapes.com/blog/wp-content/uploads/2012/11/urban-bird-conservation-05122011-ICCB-Auckland-workshop-report.pdf

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

11 thoughts on “#164 Dutch Pioneering : Homy City for The Urban Birds

  1. nice info,,, bisa jd contoh buat para pecinta burung di indonesia,, 😉

  2. Wah bagus konsepnya. Kalau di sini, baru burung yang punya nilai ekonomi aja yang diberi rumah, misalnya burung walet. Padahal kan semua burung (semua fauna) punya nilai lebih yang tidak bisa diukur sama uang🙂

  3. kalau di indonesia burung yang bebas berkeliaran ya burung gereja,,tapi biasanya malah ngotorin atap rumah,,mungkin ntar kalo dirubah kaya gini jadi lebih ke tata,,

  4. ini salah satu hal yang patut diperhatikan. Burung juga punya fungsi ekologis yang penting sebagai pengontrol populasi serangga, juga sebagai agen biologis untuk penyerbukan. Seperti apa ya konsep konservasi burung yang cocok dengan kondisi kota besar khususnya di Indonesia??? Karena seperti yang kita tahu, kondisi bangunan rumah di Indonesia dan di Belanda beda jauh….

  5. Wah saya suka artikel ini, sangat “belanda” bgt yg terkenal sgt menomor satukan hewan.

  6. Artikel ini simple, tapi memuat fakta2 habit org belanda yg pro active terhadap lingkungan, diantaranya melakukan konservasi burung😉

  7. Ide yang luar biasa, kesadaran konservasi belanda memang sudah tinggi sejak dari jaman dahulu. Tidak seperti di negara kita, semua terlena karena merasa kaya dgn keragaman hayati, smoga tulisan ini jd inspirasi bhw upaya konservasi bisa dilakukan dgn hal-hal kecil dlingkungan sendiri. Tidak hanya selalu jd tanggung jawab pemerintah.thk miwa.

  8. Konsep konservasi yang bagus.. Tak mesti hutan belantara ya..ternyata di perkotaan pun bisa dilakukan..dan tak tertuju pada spesies2 tertentu yang eksotis seperti jalak bali, cendrawasih dll. Semua spesies punya fungsi masing2 dan manusia pun merasakan sendiri manfaatnya, bahkan nilai kesenangan..bisa bercengkrama dgn burung seperti itu dari jarak dekat.. Di Taman Safari saja kadang pengunjung ngantri untuk foto dgn burung2 di bertengger di pundaknya..😀

  9. Konservasi tanpa pengorbanan merupakan konsep konservasi yang diajarkan Belanda pada artikel ini. Kerjasama antara Pemerintah, kontraktor setempat (BAM) dan warga Belanda sendiri secara sukarela mampu mewujudkan konservasi yang sederhana namun luar biasa. Hal ini diakibatkan karena burung  memang merupakan indikator lingkungan yang baik, tetapi secara bersamaan burung juga memiliki nilai emosional dengan warga Belanda. Dengan memberikan makanan, menyediakan rumah burung dan pada membiarkan burung pergi untuk migrasi (tanpa mengurungnya), warga Belanda telah memiliki hewan peliharaan yang ‘bebas’. Tentunya hewan peliharaan memiliki ikatan emosional dengan ‘pemiliknya’. Ikatan inilah yang membuat secara sukarela melakukan tindakan yang dapat melestarikan keberadaan burung. Artikel ini juga menunjukkan gambar anak kecil yang sedang bermain dengan burung sejak kecil. Dengan terbiasanya anak-anak tersebut melihat burung yang bebas kemudian memberikan mereka makan juga merupakan edukasi konservasi. Edukasi inilah yang diharapkan menjadi sebuah kebiasaan, kebiasaan untuk melakukan konservasi, konservasi yang dilakukan terus menerus pada saat ini dan saat yang akan depan. Eeem,,jadi berfikir apa ya kebiasaan konservasi yang sudah dilakukan bangsa ini?

  10. Tulisannya sangat inspiratif. Konservasi yang dilakukan Belanda sangat baik dan terpenting karena sudah melibatkan masyarakat. Kesadaran akan pentingnya burung bukan hanya spesies biasa tapi memiliki nilai penting menunjukkan tingkat pendidikaan yang tinggi dan suatu usaha kepioneeran yg jenius. Karena pergerakan suatu perubahan termasuk usaha konservasi yg digaungkan oleh PBB tidak hanya dilakukan oleh pemerintah namun yg lebih penting a/ apa yg dilakukan masyarakatnya itu sendiri. What People can do it thats build up The Nation =))

  11. Adanya kesadaran masyarakat Belanda untuk melestarikan satwa liar di sekitar lingkungan mereka adalah bukti pemahaman masyarakat disana bahwa pentingnya konsep berbagi ruang antara manusia, satwa, dan tumbuhan yang satu sama lain saling menyokong dalam menjaga kualitas hidup. Konsep itulah yang harus diadopsi oleh masyarakat Indonesia. Perencanaan pembuatan bird shelter di kawasan perkotaan, disertai eksistensi koridor hijau yang tetap terjaga kualitasnya, dan yang dilakukan masyarakat adalah homy city for urban birds🙂. Great idea!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s