KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#119 Manusia Biasa Tidak Tinggal di Belanda

Leave a comment

Oleh Mia Renauly 

Dutch people are “more amphibians than human beings” (David Hess, 1787).

 Penulis Romawi bernama Plinius menulis dalam Naturalis Historia bahwa manusia normal tidak akan mau tinggal di Belanda. Two times a day the ocean arrives with huge water masses and floods all the land. Namun apakah kondisi itu membuat Belanda menjadi negara tidak berpenghuni? Tentu saja tidak!

Gambar 1. Banjir di Belanda
(image sources: http://www.frisianlines.com/graphics/frisianhist13.gif)

2000 tahun lalu bangsa Frisian[1] lah yang menempati negara yang sekarang kita sebut Belanda. Untuk mengakali kondisi geografis Belanda yang sering dilanda banjir rob[2], mereka membangun rumah di atas terpens atau dalam bahasa indonesianya gundukan tanah. Sehingga ketika banjir datang rumah mereka tetap kering. Tinggal di Belanda bukanlah perkara mudah bagi bangsa Frisian, ketika banjir sudah surut mereka harus merapihkan dan membangun kembali terpens agar siap menghadapi banjir berikutnya.

Gambar 2. Rumah bangsa Frisian dibangun diatas Terpens (image source: http://www.frisianlines.com/graphics/frisianhist4.jpg)

Pada tahun 1287, masyarakat di Belanda berinisiatif membangun tanggul untuk membuat tanah mereka tetap kering. Selain tanggul, pengeringan tanah juga dibantu oleh kincir angin, dimana tanah yang dikeringkan tersebut dinamakan polder. Proses pengeringan tanah Belanda ini tidak berjalan dengan mudah, mereka juga mengalami masa jatuh bangun. Pada tahun 1421 terjadi banjir besar yang dikenal dengan nama Banjir St. Elizabeth, yang menyebabkan 10.000 orang tenggelam dan 72 desa tersapu air. Namun kejadian ini tidak menyurutkan semangat orang belanda, mereka terus membenahi sistem tanggul dan polder mereka. Kemudian banjir besar terjadi lagi pada tahun 1916 di sekitar Zuiderzee, yang merusak puluhan tanggul dan rumah akibat masuknya air dari Laut Utara. Kejadian banjir pada tahun 1916 ini memberi dorongan secara khusus pada masyarakat Belanda untuk mulai membenahi sistem bendungan mereka dengan lebih serius. Tahun 1927-1932 dibangun tanggul sepanjang 30,5 km di Laut Utara yang disebut Afsluitdijk (tanggul tertutup) yang mengubah sebagian Zuiderzee menjadi Ijsselmeer atau danau air tawar.

Gambar 3. Sistem polder yang dibuat dengan bendungan dan kincir angin (image source: http://www.iamexpat.nl/app/webroot/upload/files/Topics/Expat-page/Survival-kit/polder_2.png)

   

Gambar 4. Afsluitdijk

(image sources: http://web-friesland.nl/afbeeldingen/Afsluitdijk_200_MW.jpg , http://www.lorentz.leidenuniv.nl/history/zuiderzee/afsluit.jpg)

 Pada tahun 1953 terjadi banjir besar lagi di Belanda yang memakan 1800 korban. Belanda pun semakin fokus dalam membangun proyek tanggulnya, dimotivasi dengan keberhasilan pembangunan Afsluitdijk, munculah proyek Delta Works. Delta Works adalah proyek memperpendek garis pantai untuk mencegah kerusakan akibat banjir. Proyek ini dibangun di sekitar delta Sungai Rhine-Meuse-Scheldt. Konstruksi tersebut melibatkan pembangunan bendungan, pintu air, tanggul, bendungan, dan hambatan bagi gelombang badai. Proyek ini merupakan proyek pembangunan tanggul paling besar di Belanda. Proyek tanggul di Laut Utara bersama dengan Delta Works oleh Belanda ini termasuk kedalam “Seven Wonders of the Modern World” menurut American Society of Civil Engineers[6].

Gambar 5. Peta Proyek Delta Works
(Image source: http://www.deltawerken.com/modules/mediagallery/images/maps/dammen.jpg)

 Sekarang terbukti sudah kalau orang belanda adalah pioneer. Mereka adalah orang pertama yang berhasil melawan air. Perjuangan mereka melawan air tidak hanya terjadi di darat loh, namun juga di lautan. Belanda termasuk kedalam negara penjelajah samudera yang termahsyur, khususnya pada abad ke 16-17 (Golden Age). Tantangan yang ada tidak membuat mereka berhenti dan menyerah, namun terus berusaha hingga berhasil. Bahkan pemerintah Amerika banyak mengirimkan teknik sipil mereka untuk belajar tentang water management dari Belanda. Belanda sendiri membantu pemerintah Amerika untuk membangun tanggul di New Orleans. Proyek tanggul di Belanda ini menginspirasi banyak negara dalam perekonstruksian pesisirnya, khususnya untuk menghadapi fenomena sea level rise akibat global warming.

Referensi

[1]    Article titled “The Dutch polder way of (intercultural) policy making. The  stubborn Netherlands and its immigrants” by Rene Clarijs (consultant, author, researcher and chief editor of the Dutch journal Youth Policy)

[2]    http://www.frisianlines.com/1262Afrisianhistory.html

[3]    http://geography.about.com/od/specificplacesofinterest/a/dykes.htm

[4]    http://www.iamexpat.nl/expat-page/the-netherlands/the-dutch-and-water-in-the-netherlands

[5]    http://www.deltawerken.com/23

[6]    http://www.asce.org/Content.aspx?id=2147487305

[7]    http://www.unmuseum.org/7wonders/zunderzee.htm

[8]    http://www.nesoindonesia.or.id/mengapa-mengambil-studi-di-belanda/be-a-pioneer

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s