KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#116 Analogi Belanda dengan Tumbuhan Lumut

Leave a comment

Oleh Sri Wulan Rahmawati

If you keep thinking about what you want to do or what you hope will happen, you don’t do it, and it won’t happen (Desiderius Erasmus)

Sepenggal kalimat dari seorang filsuf Belanda di atas mungkin merupakan cambukan yang masih dihidupi oleh bangsa Belanda hingga saat ini. Kalimat penuh makna itu menjadi pemicu lahirnya para pioneer inovatif Belanda yang membuat negara Belanda patut untuk diacungi jempol. Bagaimana tidak, inovasi-inovasi baru yang diciptakan negeri seribu tanggul ini merupakan hal yang membuat kita bertanya, “Bagaimana bisa mereka berpikir sejauh itu?” Atau bahkan Kita mungkin hanya bisa berkata, “Cool!

Belanda dapat dianalogikan sebagai lumut. Apa yang anda pikirkan ketika membayangkan lumut? Mungkin yang terlintas dalam pikiran anda adalah koloni tumbuhan hijau pada tembok atau di tempat lembab. Dalam hal keunikannya, lumut dikenal sebagai tumbuhan pioneer. Lumut adalah tumbuhan perintis yang dapat tumbuh di suatu tempat sebelum tumbuhan lain mampu tumbuh. Jika kita melihat bangsa Belanda, banyak penemuan dari para pioneer Belanda yang belum pernah terpikirkan oleh bangsa lain.

Lumut juga mampu hidup di lingkungan yang kurang disukai tumbuhan pada umumnya. Luas wilayah teritorial Belanda bisa dikatakan hanya 1/4 pulau Jawa saja dan berupa dataran rendah yang rata-rata 1 meter (bahkan hingga 7 meter) di bawah permukaan air laut. Keadaan ini dapat dijadikan alasan penghambat untuk mencapai suatu kemajuan. Namun, lagi-lagi Belanda mampu membuktikan ke-pioneerannya, dengan mampu mengubah kekurangan tersebut menjadi suatu kelebihan yang patut dibanggakan dan mengundang rasa ingin tahu penduduk dunia. Layaknya lumut yang mampu membantu menahan erosi, mengurangi bahaya banjir, dan mampu menyerap air pada musim kemarau. Belanda juga melakukan hal yang sama. Sebagian besar kota di Belanda berdiri di atas kanal-kanal besar dan dikelilingi bendungan dengan inovasi tinggi.

Di sisi lain, lumut belum memiliki “akar” dan “daun” sejati. Akar dan daun merupakan bagian yang penting dalam daur hidup tumbuhan. Di sinilah perbedaan lumut dengan Belanda. Bangsa Belanda sudah memiliki “akar” yang kuat berupa mental yang terus mengedepankan inovasi, mau mencoba, juga mencari solusi. Negeri Van Orange ini juga memiliki modal atau ‘daun’ yang kuat untuk mendukung negaranya dapat tumbuh dan berkembang. Modal tersebut berupa keunggulan alam maupun kekurangan yang disulap menjadi suatu kelebihan. Misalnya, bunga tulip, Belanda tahu apa yang harus mereka kembangkan. Bunga terlihat sebagai benda yang tidak potensial untuk menjadi keunggulan namun Belanda menyulapnya menjadi tulang punggung ekonomi serta sumber devisa yang sangat besar.

Selain itu, Kita juga sering menemukan lumut yang hidup menempel pada tembok dan terkadang sangat merugikan. Sisi lumut yang demikian tidak ditunjukkan oleh Belanda yang membudayakan sifat mandiri dan berani menjadi pelopor dalam memberdayakan SDA dan SDM-nya. Bagaimana dengan kita, Indonesia? Budaya mencela dan menjatuhkan karya anak negeri dapat mematikan calon-calon pioneer Indonesia. Sudah waktunya kita sebagai generasi penerus bangsa tidak menjadi lumut yang hidup menempel pada teknologi atau sumberdaya dari negara lain. Sudah waktunya kita memperkuat “akar” perjuangan yang diwariskan oleh pejuang terdahulu dan menyulap “daun” sumberdaya negara kita sebagai modal untuk berdiri di atas kaki sendiri. Be the first, be the best, or just be different. Indonesia juga bisa menjadi pioneer!

Referensi

http://www.anneahira.com/sejarah-belanda.html
http://www.cartage.org.lb/en/themes/sciences/botanicalsciences/classificationplants/cryptogamia/bryophyta/Bryophyta/Bryophyta.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Moss
http://www.awesomeamsterdam.com

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s