KOMPETIBLOG 2013

Kompetisi Blog Neso Indonesia 2013

#065 Belanda: Dimana Manusia adalah Manusia

Leave a comment

Oleh Handry Febrian Z

Disaat kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) di berbagai belahan dunia belum mendapatkan perhatian dari pemerintah, Belanda telah melegalkan pernikahan sejenis sejak tahun 2001. Negara kincir angin ini memang terkenal sebagai pionir kebijakan-kebijakan kontroversial, seperti pernikahan sejenis, legalisasi kanabis, dan euthanasia. Jika merunut kebelakang, Belanda sudah merekognisi hubungan sejenis sejak 1811.  Kesadaran mengenai kesetaraan hak warga negara heteroseksual dengan homoseksual sudah ada sejak pertengahan tahun delapan puluhan. Tahun 1995 parlemen Belanda membentuk komisi khusus untuk menyelidiki baik-buruknya pernikahan sejenis bagi stabilitas negara. Dan hasilnya, Belanda secara resmi menjadi negara pertama di dunia yang melegalkan pernikahan sejenis tahun 2001.

Untuk menjamin kehidupan layak bagi waria sebagai warga minoritas, Belanda telah memberlakukan undang-undang transgender sejak tahun 1985. Pada tahun 1974 negeri bunga tulip ini juga menjadi negara pertama di dunia yang menghapuskan diskriminasi bagi non-heteroseksual untuk dapat berkarir di dunia militer. Ini berarti warga negara, apapun orientasi seksual ataupun identitas gendernya, mendapat hak yang sama untuk berkarir di dunia militer.

dua pria pertama yang menikah di amsterdam setelah legalisasi pernikahan sejenis, April 2001

Dewasa ini, negara-negara di dunia tengah berpacu dalam pengembangan sains dan teknologi. Mereka secara kontinu berinovasi menemukan temuan-temuan baru yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup manusia. Akan tetapi, ada satu esensi yang kian terlupakan yaitu kemanusiaan itu sendiri. Contoh konkrit yang bisa kita ambil adalah keberadaan kelompok LGBT ini. Sebagai minoritas, kelompok ini seringkali termarjinalkan.  Karena dianggap ‘berbeda’, mereka  menjadi pihak yang paling sering diperlakukan diskriminatif. Anggota masyarakat dapat dengan bebas mengekspresikan kebencian pada kelompok ini secara verbal maupun fisik, tanpa ada hukum yang mengatur. Secara tidak kasat mata, hal ini melahirkan istilah ‘warga negara kelas dua’.

Inilah yang sudah disadari Belanda dari awal. Terlepas dari benar salahnya fenomena LGBT, kebijakan mengenai LGBT sebenarnya adalah kebijakan yang sarat akan nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan hak. Pada dasarnya manusia, apapun orientasi seksual ataupun identitas gendernya tetap merupakan warga negara  yang berhak mendapat perlakuan sederajat dengan warga negara lain. Jika kita kaji lebih dalam, regulasi terkait pernikahan sejenis dan transgender sebenarnya merupakan usaha Belanda untuk menghilangkan diskriminasi dan menghapus istilah ‘warga negara kelas dua’ dari negara tersebut. Hal ini kemudian didukung dengan aturan-aturan lanjutan seperti: hukum anti-diskriminasi dalam pekerjaan dan hukum anti-diskriminasi dalam bentuk lain (kekerasan atau kebencian), yang berarti setiap warga negara dapat mendapatkan hak yang sama untuk hidup dan bebas dari segala macam pengkotak-kotakan. Sederhananya, Setiap warga negara, siapapun ia, memiliki kesamaan hak untuk membangun keluarga dan mendapatkan kehidupan yang layak.

pasangan Helene Faasen dan Anne-Marie di hari pernikahannya, April 2001

pasangan Helene dan Anne-Marie merayakan 10 tahun pernikahannya, 2011

pasangan Helene dan Anne-Marie merayakan 10 tahun pernikahannya, 2011

Menariknya, aturan ini didukung oleh masyarakat Belanda. Masyarakat Belanda menyadari pentingnya toleransi, penegakan hak asasi manusia serta pentingnya menghargai hak-hak sipil dalam kehidupan berbangsa.  Sikap warga yang demikian tentu saja melahirkan suatu kondisi yang aman dan nyaman, dimana setiap warga negara  adalah warga negara, tidak ada yang sifatnya mayor atau minor.  Setiap pasangan baik heteroseksual maupun homoseksual dapat berkeluarga dan transgender mendapat hak yang sama untuk memperoleh pekerjaan.  Kesamaan hak warga negara tentunya bermuara pada lenyapnya diskriminasi dan istilah ‘warga negara kelas dua’. Tak heran jika Belanda, negara pionir penghapusan diskriminasi ini menduduki ranking 4 versi UN Conference of Happiness 2012 dan ranking 8 versi forbes.com sebagai negara paling bahagia di dunia.

Referensi

http://en.wikipedia.org/wiki/LGBT_rights_in_the_Netherlands
http://en.wikipedia.org/wiki/Same-sex_marriage_in_the_Netherlands
http://www.forbes.com/pictures/mef45jgim/8-netherlands/
http://www.earth.columbia.edu/articles/view/2960
http://www.youtube.com/watch?v=HGHnQV8yG1k
http://www.government.nl/issues/family-law/same-sex-marriage

Author: Admin Kompetiblog

Kompetiblog merupakan kompetisi menulis blog tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, lembaga non-profit yang didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s